“Aku Sudah Belajar, Tapi Kok Masih Tidak Paham?” Memahami Kesulitan Belajar Anak SD/MI

Anak sulit memahami pelajaran bukan berarti malas. Yuk pelajari penyebabnya dan cari cara belajar yang tepat agar anak lebih percaya diri.

Pernah nggak kita melihat anak yang sudah belajar berkali-kali, tetapi masih belum paham dengan pelajarannya? Misalnya, seorang anak sudah membaca materi dan mengerjakan latihan, tetapi saat ditanya kembali, ia masih bingung. Kadang anak seperti ini langsung dianggap malas atau kurang memperhatikan. Padahal, belum tentu begitu. Bisa jadi, ia memang mengalami kesulitan belajar dan membutuhkan cara belajar yang berbeda.

Membantu Anak Mengerjakan PR

Mengapa Anak Bisa Kesulitan Belajar?

Kesulitan belajar bisa terjadi karena beberapa hal. Ritonga dkk. (2025) menjelaskan bahwa penyebabnya dapat berasal dari faktor dalam diri anak, seperti kemampuan memahami materi, motivasi, dan kondisi psikologis. Ada juga faktor dari luar, misalnya cara guru mengajar, suasana belajar, dan dukungan keluarga. Jadi, kesulitan belajar tidak bisa langsung disimpulkan hanya karena anak tidak mau belajar.

Contohnya, ketika belajar pecahan, guru mungkin menjelaskan dengan angka dan rumus di papan tulis. Bagi sebagian anak, penjelasan itu mudah dipahami. Namun, anak lain mungkin baru mengerti jika melihat contoh nyata, seperti sepotong kue atau kertas yang dibagi menjadi beberapa bagian. Selain itu, perasaan anak juga berpengaruh. Anak yang takut salah, malu bertanya, atau khawatir dimarahi bisa memilih diam meskipun sebenarnya belum paham. Kondisi rumah yang kurang mendukung untuk belajar juga dapat membuat anak sulit berkonsentrasi.

Kesulitan Belajar Bukan Berarti Anak Malas

Kita perlu membedakan anak yang tidak mau belajar dengan anak yang sudah berusaha, tetapi masih kesulitan memahami materi. Misalnya, seorang siswa terus mencoba menghafal perkalian, tetapi tetap tertukar. Jika ia terus dimarahi atau dibandingkan dengan temannya, ia bisa kehilangan rasa percaya diri dan semakin takut belajar. Padahal, setiap anak memiliki proses memahami sesuatu yang tidak selalu sama.

Karena itu, guru dan orang tua sebaiknya tidak terburu-buru memberi label malas atau bodoh. Lebih baik cari tahu bagian mana yang belum dipahami dan bantuan apa yang dibutuhkan. Jika kesulitan berlangsung terus-menerus, guru dan orang tua dapat berdiskusi dengan pihak yang tepat agar anak memperoleh pendampingan yang sesuai.

Bagaimana Cara Membantu Anak?

Langkah pertama adalah mencari tahu kesulitannya. Guru bisa mengajak anak menjelaskan kembali materi dengan bahasanya sendiri, melihat hasil latihan, atau memberi pertanyaan sederhana. Dari situ, guru dapat mengetahui apakah anak belum memahami konsep, belum menguasai keterampilan dasar, atau hanya membutuhkan lebih banyak latihan.

Cara mengajar juga bisa dibuat lebih beragam. Materi tidak harus selalu disampaikan lewat penjelasan dan tulisan di papan. Guru dapat menggunakan benda nyata, gambar, permainan edukatif, diskusi kelompok, atau kegiatan pengamatan. Siringo Ringo (2025) membahas pembelajaran berdiferensiasi, yaitu pembelajaran yang memperhatikan kebutuhan dan perbedaan siswa. Artinya, guru perlu memberi kesempatan kepada anak untuk belajar melalui cara yang sesuai, tanpa mengurangi tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

Suasana kelas pun perlu dibuat aman dan nyaman. Anak sebaiknya tidak ditertawakan ketika salah menjawab, tetapi dibantu untuk memahami letak kesalahannya. Di rumah, orang tua bisa menanyakan bagian pelajaran yang terasa sulit, menemani anak belajar secukupnya, dan menghargai usahanya. Dukungan seperti ini dapat membantu anak merasa lebih berani mencoba.

Setiap Anak Berhak Mendapat Kesempatan untuk Memahami

Menurut saya, keberhasilan belajar tidak seharusnya hanya dilihat dari nilai yang tertulis di rapor. Proses anak dalam memahami materi, keberaniannya bertanya, dan kemauannya untuk mencoba lagi juga penting untuk diperhatikan. Ketika anak mengalami kesulitan, yang dibutuhkan bukan hanya teguran, melainkan bantuan yang tepat.

Jadi, saat melihat anak yang belum memahami pelajaran, kita bisa mulai dengan pertanyaan sederhana: bagian mana yang masih sulit? Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi dapat menjadi awal untuk menemukan solusi. Setiap anak memiliki kemampuan dan waktu belajar yang berbeda. Dengan dukungan guru dan orang tua, anak dapat belajar secara bertahap tanpa merasa dirinya gagal.

Daftar Pustaka:

  1. Ritonga, R., Gulo, S. N. T., Purba, N. K., Simanjuntak, C., Situmorang, D. A., & Pardosi, V. Y. (2025). Kesulitan belajar pada siswa sekolah dasar: Faktor penyebab dan strategi penanganannya. Indonesian Journal of Education, 2(1), 247–250. https://doi.org/10.71417/ije.v2i1.510
  2. Siringo Ringo, S. S. (2025). Systematic literature review dengan metode PRISMA: Pembelajaran berdiferensiasi pada pendidikan dasar. Jurnal Didaktika Pendidikan Dasar, 9(1), 209–226. https://doi.org/10.26811/didaktika.v9i1.1760

Riadhul Fadilah

Penulis:

Riadhul Fadilah | Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.