Oleh Insyira Alya Rahma
Pernah nggak, anakmu pulang sekolah dengan wajah ditekuk, jawab "nggak apa-apa" setiap kali ditanya, lalu langsung masuk kamar? Banyak orang tua menganggapnya wajar: "Mungkin capek aja." Padahal, diam yang terlalu sering bisa jadi alarm yang sedang berbunyi pelan.
| Sumber: pixabay.com |
Diam Itu Bukan Selalu Emas
Anak yang dirundung (bullying) jarang datang membawa bendera merah. Mereka cenderung menyimpan semuanya sendiri karena takut dianggap lemah, takut diejek makin parah, atau takut orang tua malah heboh ke sekolah dan situasi jadi runyam. Akhirnya, mereka memilih diam.
Dan ini bukan masalah kecil. Hasil PISA 2018 mencatat sekitar 41% siswa Indonesia mengaku pernah mengalami perundungan setidaknya beberapa kali dalam sebulan, angka yang jauh di atas rata-rata negara OECD (OECD, 2019). Artinya, hampir dua dari lima anak di kelas bisa jadi pernah merasakannya.
Kenali Tanda-Tandanya
Perundungan nggak selalu berupa pukulan. Ejekan terus-menerus, dikucilkan dari kelompok, barang disembunyikan, sampai diteror lewat grup chat juga termasuk. Nah, berikut sinyal yang patut kamu waspadai:
- Mendadak malas sekolah. Tiba-tiba sakit perut atau pusing tiap pagi, padahal hasil periksa baik-baik saja.
- Berubah drastis. Yang tadinya ceria jadi pendiam, mudah marah, atau gampang menangis.
- Barang sering hilang atau rusak. Seragam sobek, uang jajan lenyap, buku coret-coretan.
- Nggak punya teman main. Tidak pernah bercerita soal teman, atau tak ada yang mengajaknya bermain.
- Nafsu makan dan tidur berantakan. Sering mimpi buruk atau susah tidur.
Kalau beberapa tanda ini muncul bersamaan dan bertahan lebih dari dua minggu, jangan ditunda. Saatnya kamu ambil langkah.
Dampaknya Bukan Cuma Hari Ini
Luka karena dirundung itu nggak berhenti di gerbang sekolah. Penelitian panjang yang dipelopori Dan Olweus menunjukkan korban perundungan lebih rentan mengalami kecemasan, depresi, dan rasa percaya diri yang rendah, bahkan hingga dewasa (Olweus, 1993). Prestasi belajar pun ikut turun karena otaknya sibuk bertahan, bukan belajar.
Lalu, Apa yang Bisa Kamu Lakukan?
- Pertama, buka pintu ngobrol, bukan interogasi. Hindari pertanyaan "Kamu kenapa sih?" yang terasa menyudutkan. Coba ajak ngobrol santai saat naik motor, makan bareng, atau sebelum tidur: "Hari ini siapa yang bikin kamu ketawa? Ada yang bikin kamu kesel nggak?"
- Kedua, dengarkan dulu, jangan langsung menghakimi. Hindari kalimat seperti "Makanya jangan cengeng" atau "Lawan aja!" Anak butuh merasa aman dulu. Cukup bilang, "Terima kasih sudah cerita. Ibu/Ayah ada di pihakmu."
- Ketiga, libatkan sekolah dengan tenang. Catat kejadian (tanggal, kejadian, siapa yang terlibat), lalu temui wali kelas atau guru BK. Sekolah kini punya kewajiban hukum untuk bertindak. Permendikbudristek No. 46 Tahun 2023 mewajibkan satuan pendidikan membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK).
- Keempat, bangun kepercayaan dirinya. Dukung anak ikut kegiatan yang ia sukai, seperti olahraga, seni, atau pramuka. Teman yang baik dan hobi yang menyenangkan bisa jadi tameng emosional yang kuat.
- Kelima, cari bantuan profesional bila perlu. Kalau anak tampak sangat tertekan, jangan ragu menghubungi psikolog anak.
Jadilah Tempat Pulang yang Aman
Anak nggak selalu butuh orang tua yang sempurna, tapi mereka butuh orang tua yang peka. Jadi, kalau hari ini anakmu pulang dengan diam, jangan buru-buru bilang "ah, paling lagi bad mood." Duduklah di sebelahnya dan tanyakan pelan-pelan. Bisa jadi, kamu adalah satu-satunya orang yang ia tunggu untuk bercerita.
Daftar Referensi:
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.
- OECD. (2019). PISA 2018 Results (Volume III): What School Life Means for Students' Lives. Paris: OECD Publishing.
- Olweus, D. (1993). Bullying at School: What We Know and What We Can Do. Oxford: Blackwell.