Ketika Anak Sulit Berkonsentrasi: Apa yang Membuat Siswa SD Mudah Teralihkan Saat Belajar?

Mengapa anak SD sulit berkonsentrasi? Yuk simak penyebabnya, mulai dari gawai hingga kurang tidur, dan temukan cara efektif melatih fokus anak.

Pernahkah Anda melihat anak yang baru lima menit mengerjakan PR, lalu tiba-tiba sibuk memainkan pensil, melamun menatap jendela, atau menanyakan hal yang tidak berhubungan dengan pelajaran? Banyak orang tua dan guru langsung menyimpulkan bahwa anak tersebut malas atau tidak mau berusaha. Padahal, di balik sulitnya anak berkonsentrasi, ada berbagai faktor yang sering luput dari perhatian.

siswa mengerjakan tugas dengan tenang di kelas
Foto oleh Muhaimin Abdul Aziz via Pexels

Otak Anak SD Masih dalam Tahap Berkembang

Kemampuan memusatkan perhatian dikendalikan oleh bagian otak bernama korteks prefrontal, yang berperan dalam mengatur fokus, menahan dorongan, dan merencanakan tindakanBagian ini terus berkembang hingga masa dewasa, termasuk pada usia dewasa muda. Artinya, anak usia 6 hingga 12 tahun memang belum memiliki "rem" perhatian sekuat orang dewasa.

Kemampuan anak dalam mempertahankan konsentrasi berbeda-beda, bergantung pada usia, minat, kondisi fisik, serta jenis aktivitas yang dilakukan. Oleh karena itu, durasi konsentrasi anak tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan usianya. Sebagai contoh, seorang anak kelas 1 SD mungkin hanya mampu mempertahankan konsentrasinya selama 10 hingga 15 menit pada aktivitas yang kurang menarik baginya. Memaksa anak duduk diam selama satu jam penuh bukan hanya sulit, tetapi juga bertentangan dengan cara kerja otaknya.

Gawai dan Hiburan Serba Cepat

Salah satu faktor yang sering dibahas adalah penggunaan layar. Video singkat, permainan, dan serial animasi dirancang dengan pergantian visual dan audio yang sangat cepat. Otak anak terbiasa menerima rangsangan instan dan menyenangkan. Ketika beralih ke kegiatan belajar yang memiliki rangsangan visual dan audio lebih sedikit, sebagian anak mungkin membutuhkan waktu untuk menyesuaikan perhatian.

Beberapa penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara durasi penggunaan layar yang panjang pada anak dan masalah perhatian. Perlu diketahui bahwa hubungan tersebut belum tentu menunjukkan hubungan sebab-akibat secara langsung. Namun, penggunaan layar yang berlebihan dapat mengurangi waktu anak untuk melakukan aktivitas lain yang membutuhkan konsentrasi dan usaha mental dalam waktu lebih lama. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan rekomendasi mengenai pembatasan waktu layar bagi anak di bawah usia lima tahun. Pada anak yang lebih tua, penggunaan layar juga perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan, aktivitas fisik, dan waktu tidur.

Kurang Tidur dan Gizi yang Tidak Seimbang

Anak usia sekolah dasar umumnya membutuhkan tidur sekitar 9 hingga 12 jam setiap hari. Kenyataannya, banyak anak tidur terlalu larut karena menonton atau bermain gawai. Kurang tidur membuat otak sulit mengatur emosi dan perhatian. Anehnya, anak yang kurang tidur sering tidak tampak mengantuk, justru terlihat gelisah, mudah marah, dan hiperaktif.

Sarapan juga memiliki peran penting. Otak membutuhkan energi dan zat gizi yang cukup agar dapat berfungsi dengan baik. Anak yang berangkat sekolah tanpa sarapan atau tidak mendapatkan asupan gizi yang seimbang dapat mengalami kesulitan mempertahankan perhatian selama pembelajaran. Kekurangan zat besi, yang cukup sering ditemui pada anak di Indonesia, juga berkaitan dengan menurunnya kemampuan perhatian dan belajar.

Lingkungan Belajar yang Ramai

Televisi yang menyala, bunyi kendaraan, adik yang bermain, bahkan meja belajar yang dipenuhi mainan dapat mengganggu secara signifikan. Kemampuan anak dalam menyaring gangguan masih berkembang. Oleh karena itu, suara notifikasi ponsel atau gangguan lain dapat mengalihkan perhatian anak ketika belajar. Di sekolah, suasana kelas yang kurang menarik atau metode pembelajaran yang hanya berlangsung satu arah dapat membuat anak lebih cepat kehilangan minat. Anak usia sekolah dasar dapat terbantu dalam memahami materi melalui gerakan, permainan, dan pengalaman langsung, yang dapat dipadukan dengan metode pembelajaran lainnya.

Kapan Perlu Waspada?

Tidak semua kesulitan berkonsentrasi bersifat biasa. Pada sebagian anak, masalah ini bisa berkaitan dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), kesulitan belajar spesifik seperti disleksia, gangguan penglihatan atau pendengaran yang belum terdeteksi, hingga kecemasan. Sejumlah penelitian memperkirakan bahwa ADHD dialami oleh sekitar 5 persen anak di dunia. Tandanya meliputi kesulitan fokus yang konsisten di berbagai situasi (rumah dan sekolah), berlangsung lama, dan mengganggu prestasi maupun pergaulan. Jika ciri ini muncul, konsultasikan dengan dokter anak, psikolog, atau tenaga profesional lain, alih-alih memberi label "nakal" atau "malas".

Apa yang Bisa Dilakukan?

Kabar baiknya, kemampuan fokus bisa dilatih. Beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba:

  1. Pecahlah tugas menjadi bagian-bagian kecil. Sebagai contoh, anak dapat belajar selama 15 menit, kemudian beristirahat selama 5 menit. Cara ini dapat dicoba sebagai alternatif belajar selama satu jam tanpa jeda.
  2. Siapkan ruang belajar yang tenang dan jauhkan gawai selama belajar.
  3. Jaga rutinitas tidur dan sarapan yang cukup dan bergizi.
  4. Berikan waktu kepada anak untuk bermain aktif. Aktivitas fisik dapat membantu mendukung fungsi kognitif dan perhatian anak.
  5. Ajak anak melakukan kegiatan yang melatih fokus, seperti menyusun puzzle, membaca bersama, atau permainan papan.
  6. Beri apresiasi pada usaha, bukan hanya hasil, agar anak tetap termotivasi.

Anak yang mudah teralihkan tidak berarti ia gagal. Ia masih dalam proses pertumbuhan, otaknya masih belajar mengatur perhatian di tengah dunia yang penuh distraksi. Dengan memahami akar permasalahannya, orang tua dan guru dapat beralih dari menyalahkan anak menjadi memberikan dukungan. Hal ini karena konsentrasi bukan sekadar bakat, melainkan keterampilan yang dapat berkembang melalui kebiasaan, lingkungan yang mendukung, dan kesabaran orang dewasa di sekitarnya.

Daftar Pustaka:

  1. Centers for Disease Control and Prevention. (2024, 15 Mei). About Sleep. https://www.cdc.gov/sleep/about/index.html
  2. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Diagnosing ADHD. https://www.cdc.gov/adhd/diagnosis/index.html
  3. Santos, R. M. S., Mendes, C. G., Miranda, D. M., & Romano-Silva, M. A. (2022). The association between screen time and attention in children: A systematic review. Developmental Neuropsychology, 47(4), 175–192. https://doi.org/10.1080/87565641.2022.2064863

Penulis:

Amalia Ramadani | Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.