Di Tengah Gempuran Gadget, Bagaimana Cara Membuat Anak SD Tetap Suka Membaca?

Bagaimana membuat anak SD tetap suka membaca di era gadget? Yuk simak 5 tips praktis untuk menumbuhkan minat baca melalui kegiatan yang menyenangkan.

Pernah melihat anak yang sanggup menghabiskan waktu lama untuk menyaksikan video di gadget, namun mendadak jenuh saat diminta membaca buku? Keadaan semacam ini barangkali sudah tidak asing lagi bagi kita, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Bagi anak, gadget jauh lebih memikat lantaran menyajikan tayangan visual, audio, permainan, serta sarana hiburan yang dapat diakses sewaktu-waktu. Di sisi lain, aktivitas membaca buku terkadang dipandang sebagai kegiatan yang kurang menyenangkan.

Membaca

Padahal, membaca merupakan salah satu kemampuan yang sangat penting bagi siswa sekolah dasar (SD). Dengan membaca, anak mampu memperluas wawasan, memperkaya kosakata, memahami beragam informasi, serta mengasah daya imajinasinya. Lantas, apakah keberadaan gadget menjadikan anak semakin sulit menyukai buku? Pada dasarnya, bukan berarti anak tidak dapat menyukai aktivitas membaca. Hal utama yang perlu diperhatikan adalah bagaimana peran orang tua dan guru dalam mengenalkan membaca melalui pendekatan yang menarik dan menyenangkan.

Khosiah et al. (2024) menyatakan bahwa penggunaan gadget berlebihan dapat membuat anak lebih banyak meluangkan waktu untuk bermain daripada membaca buku. Fitur-fitur menarik pada gadget dapat menahan perhatian anak sehingga kegiatan membaca mulai terabaikan. Namun, gadget tidak selalu berdampak negatif. Gadget juga dapat membantu anak mengakses informasi dan memperluas pengetahuan. Masalah muncul ketika penggunaan gadget tidak terkendali dan mengganggu waktu belajar anak. Karena itu, penting untuk memperhatikan bukan hanya keberadaan gadget, tetapi juga cara anak menggunakannya serta peran orang dewasa dalam mendampingi.

Berikut ini 5 cara membuat anak SD tetap suka membaca di era gadget:

1. Mulai dari Buku yang Disukai Anak

Langkah awal adalah memberi anak kebebasan memilih buku yang sesuai minatnya. Anak tidak semua suka genre yang sama, ada yang gemar cerita rakyat, komik edukatif, kisah lucu, buku hewan, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, guru dan orang tua dapat memulai dengan menyediakan beberapa buku bergambar yang cocok dengan usia anak. Biarkan mereka memilih buku yang menarik minatnya. Dengan begitu, membaca tidak lagi terasa seperti pekerjaan, melainkan menjadi aktivitas yang diinginkan.

2. Biasakan Membaca Sedikit Demi Sedikit

Permendikbud no. 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti dengan tegas menyebutkan pentingnya pembiasaan 15 menit membaca setiap hari. Kebiasaan membaca tersebut adalah salah satu strategi sekolah untuk memupuk budaya membaca. Hal ini menegaskan bahwa minat baca harus dibangun lewat rutinitas, bukan sekadar memerintahkan anak membaca ketika ada tugas. 

3. Jadikan Baca sebagai Kegiatan yang Menyenangkan

Membaca tidak selalu harus dilakukan dengan duduk diam dan membaca hanya di dalam pikiran. Guru dan orang tua dapat membuatnya lebih hidup, misalnya dengan membacakan cerita menggunakan ekspresi, mengubah suara karakter, menampilkan gambar, atau mengajak anak menebak kelanjutan cerita. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, lewat lokakarya membaca nyaring pada Mei 2026, menekankan pentingnya membacakan buku dengan suara keras guna membangun kedekatan emosional sekaligus menumbuhkan minat baca anak secara alami. Melalui kegiatan membaca nyaring, anak-anak belajar mendengarkan, memahami, membayangkan, dan mengekspresikan diri dengan cara yang menyenangkan.

4. Jadikan Orang Tua dan Guru sebagai Contoh

Anak biasanya belajar dari kebiasaan yang mereka amati setiap hari. Jika mereka terus melihat orang dewasa bermain gadget dan jarang melihat membaca, mereka mungkin beranggapan bahwa membaca itu tidak menarik. Karena itu, orang tua dan guru perlu menjadi contoh nyata yang baik bagi anak.

5. Jadikan Gadget sebagai Teman Belajar Anak

Gadget tidak selalu menjadi penghambat minat baca anak. Jika digunakan dengan tepat, gadget bisa menjadi sarana membaca yang menyenangkan, misalnya melalui buku digital bergambar atau cerita anak. Namun, orang tua dan guru tetap perlu mendampingi anak agar gadget digunakan untuk kegiatan yang bermanfaat.

Menumbuhkan minat membaca pada anak memerlukan dukungan dari sekolah dan keluarga. Di lingkungan sekolah, guru dapat menata sudut baca, mengadakan pertukaran buku bacaan, atau mengajak siswa untuk menceritakan kembali isi buku yang telah mereka baca. Sementara itu, orang tua dapat menemani anak di rumah saat membaca dan mencontohkan kebiasaan membaca secara rutin. Dengan bantuan tersebut, anak akan lebih sering membaca dan memandangnya sebagai aktivitas menyenangkan, bukan sekadar kewajiban sekolah.

Daftar Referensi:

  1. Khosiah, N., Zainab, S., & Andriani, S. (2024). Degradation of reading interest due to the influence of gadgets on elementary school students: Degradasi minat baca akibat pengaruh gadget pada siswa sekolah dasar. Madrosatuna: Journal of Islamic Elementary School, 8(2), 43–50. 
  2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2015). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. 
  3. Laili. (2026, 14 Mei). Membaca nyaring, cara sederhana tumbuhkan minat baca anak sejak dini. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. https://internal-portal.kemdikbud.go.id/berita/15374-membaca-nyaring-cara-sederhana-tumbuhkan-minat-baca-anak-sejak-dini

Penulis:

Aida Rahmasari, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Memiliki ketertarikan pada dunia pendidikan, khususnya perkembangan dan kebiasaan belajar anak usia sekolah dasar. Ketertarikan ini tumbuh dari kesadaran bahwa pengalaman belajar sejak dini berperan penting dalam membentuk kebiasaan anak, termasuk minat baca, terlebih di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.