Pernah nggak sih kamu ikut kerja kelompok, tetapi malah berakhir dengan saling kesal? Ada yang merasa sudah mengerjakan banyak hal, ada yang sulit diajak berdiskusi, bahkan terkadang muncul perdebatan hanya karena pendapat yang berbeda. Padahal, tujuan awalnya sederhana, yaitu menyelesaikan tugas bersama. Bukannya makin kompak, kelompok malah jadi canggung dan penuh drama.
Kalau sudah begini, rasanya kita perlu belajar dari makhluk kecil yang sering kita temui di sekitar rumah, yaitu semut. Meskipun tubuhnya kecil, semut punya cara hidup yang menarik untuk diamati. Mereka bisa bekerja sama mencari makanan, merawat anggota koloni, dan melakukan berbagai kegiatan yang membantu kelompoknya bertahan hidup. Nah, dari kehidupan semut inilah kita bisa belajar tentang arti kekompakan.
Semut Punya Cara Sendiri untuk Bekerja Sama
Coba perhatikan ketika ada makanan yang dikerumuni semut. Biasanya, kita akan melihat beberapa semut berjalan mengikuti jalur yang sama. Mereka tidak sekadar berjalan tanpa arah. Dalam banyak spesies semut, ada proses komunikasi yang membantu mereka menemukan makanan.
Salah satu caranya adalah melalui feromon, yaitu zat kimia yang digunakan semut untuk menyampaikan informasi. Ketika menemukan sumber makanan, semut dapat meninggalkan jejak feromon yang membantu semut lain mengikuti jalur tersebut. Dengan cara ini, informasi tentang lokasi makanan bisa diteruskan kepada anggota koloni lainnya.
Menariknya lagi, semut juga memiliki pembagian tugas. Ada semut pekerja yang mencari makanan, merawat larva, dan membantu menjaga sarang. Pada beberapa spesies, tugas-tugas tersebut dilakukan oleh kelompok semut yang berbeda. Setiap peran membantu mendukung kehidupan koloninya.
Tentu saja, kehidupan semut tidak sama persis dengan kehidupan manusia. Mereka memiliki pola komunikasi dan sistem sosial sendiri. Namun, cara mereka berkoordinasi memberi kita gambaran bahwa kerja sama bisa berjalan lebih baik ketika setiap anggota menjalankan perannya dan saling mendukung.
Kompak Itu Bukan Berarti Harus Selalu Sepakat
Kalau dipikir-pikir, masalah dalam kerja kelompok sering kali bukan karena anggotanya tidak mampu, melainkan karena mereka kesulitan bekerja sama. Ada yang ingin idenya selalu digunakan, ada yang enggan mendengarkan pendapat orang lain, dan ada pula yang memilih diam karena takut pendapatnya dianggap salah.
Padahal, kompak bukan berarti semua orang harus selalu setuju. Justru, kelompok yang baik adalah kelompok yang bisa menerima perbedaan tanpa harus saling menjatuhkan. Kita boleh punya pendapat yang berbeda, tetapi tetap perlu menghargai orang yang menyampaikannya.
Misalnya, ketika mengerjakan tugas kelompok, setiap anggota bisa mendapatkan bagian sesuai kemampuan dan kesepakatan bersama. Kalau ada teman yang mengalami kesulitan, kita bisa menawarkan bantuan daripada langsung menyalahkannya. Begitu juga ketika terjadi perbedaan pendapat, masalah bisa dibicarakan baik-baik untuk menemukan jalan keluar.
Hal sederhana seperti mendengarkan saat teman berbicara, menyelesaikan tanggung jawab tepat waktu, dan tidak merasa paling berjasa ternyata punya peran penting dalam membangun kekompakan. Sebab, kerja sama bukan hanya tentang membagi pekerjaan, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan satu sama lain.
Operasi BFF Dimulai dari Kita
Belajar dari semut bukan berarti kita harus meniru semua perilakunya. Ada hal yang perlu diingat, yaitu manusia memiliki perasaan, pemikiran, dan kebebasan untuk menentukan pilihan. Karena itu, kerja sama antarmanusia membutuhkan komunikasi, rasa saling menghargai, dan kesediaan untuk memahami orang lain.
Kita bisa memulainya dari lingkungan terdekat, seperti kelas, organisasi, atau pertemanan. Cobalah untuk tidak langsung menghakimi teman yang berbeda pendapat. Berikan kesempatan kepada setiap orang untuk menyampaikan ide dan jangan ragu membantu ketika ada anggota kelompok yang kesulitan. Kalau muncul masalah, selesaikan dengan berdiskusi, bukan dengan saling menyindir atau menyimpan rasa kesal.
Kekompakan tidak terbentuk hanya karena kita berada dalam satu kelompok. Kekompakan tumbuh ketika setiap orang mau mengambil bagian, menghargai perbedaan, dan berusaha mencapai tujuan bersama.
Jadi, bagaimana? Siap menjalankan Operasi Serangga BFF? Kita memang tidak perlu menjadi semut untuk bisa bekerja sama. Cukup mulai dengan menjadi teman yang mau mendengarkan, menghargai, dan membantu satu sama lain. Karena kelompok yang hebat bukan kelompok yang tidak pernah punya masalah, melainkan kelompok yang mampu menyelesaikan masalah tanpa harus bermusuhan.
Sumber Pustaka:
- Putriana, D., Pratisthita, K. A. C., Ambarwati, N. S., Paramita, W., & Rahmawati, Y. F. (2022). Identifikasi pola perilaku semut rangrang (Oecophylla smaragdina). Kingdom: The Journal of Biological Studies, 8(2), 172–182. https://doi.org/10.21831/kingdom.v8i2.18042
- Hasan, M. U., Fitradiansyah, L. O. F., Susanti, F. S., & Raffiudin, R. (2021). Perilaku pemilihan makanan dan pengenalan anggota koloni pada semut rangrang Oecophylla smaragdina. Jurnal Sumberdaya Hayati, 7(2), 41–48. https://doi.org/10.29244/jsdh.7.2.41-48
Penulis:
Arina Najwah Nabillah | Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.