Belajar dengan Rasa Aman, Bukan dengan Rasa Takut

Yuk ciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi setiap anak agar mereka berani berpendapat, percaya diri, dan bebas dari perundungan.

Waktu masih SD, saya termasuk anak yang pendiam, terutama pada awal masuk sekolah. Saya merasa malu untuk memulai percakapan, baik dengan guru maupun teman. Ibu saya bahkan sempat memberi tahu wali kelas bahwa saya memang cenderung pendiam pada awalnya. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai merasa lebih nyaman karena ada teman yang mengajak berbicara dan guru yang juga berusaha mengajak saya mengobrol. Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa perhatian sederhana dari orang-orang di sekitar dapat membantu anak merasa lebih nyaman di lingkungan sekolah.

Momen Belajar di Dalam Kelas

Pengalaman itu membuat saya berpikir bahwa setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam menyesuaikan diri. Ada anak yang mudah bergaul dan berani menyampaikan pendapat, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman. Anak yang pendiam belum tentu tidak memahami pelajaran atau tidak ingin berteman. Bisa jadi, mereka hanya belum memiliki keberanian untuk memulai percakapan. Oleh karena itu, lingkungan sekolah seharusnya memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk berkembang sesuai dengan prosesnya masing-masing.

Sayangnya, tidak semua anak merasakan kenyamanan yang sama ketika berada di sekolah. Ada anak yang kesulitan beradaptasi, takut bertanya, atau khawatir pendapatnya ditertawakan oleh teman-temannya. Bahkan, ada juga yang mengalami perundungan berupa ejekan, penghinaan, maupun pengucilan. Perilaku seperti ini terkadang dianggap sebagai candaan biasa, padahal dapat membuat anak merasa tidak dihargai dan kehilangan kepercayaan diri. Jika dibiarkan, suasana tersebut bisa mengganggu kenyamanan anak dalam mengikuti pembelajaran.

Menurut saya, sekolah yang aman bukan hanya sekolah yang terbebas dari kekerasan, tetapi juga sekolah yang membuat anak merasa diterima dan dihargai. Anak seharusnya tidak perlu takut untuk bertanya atau menyampaikan pendapat karena khawatir mendapatkan tanggapan yang buruk. Setiap anak memiliki hak untuk belajar dan memperoleh kesempatan yang sama, tanpa dibedakan berdasarkan sifat, kemampuan, maupun latar belakangnya.

Dalam hal ini, guru memiliki peran penting untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga perlu memahami karakter dan kebutuhan peserta didik. Misalnya, ketika ada siswa yang terlihat pendiam, guru dapat mencoba mengajaknya berbicara secara perlahan tanpa memaksanya untuk langsung tampil di depan kelas. Guru juga perlu memberikan tanggapan yang membangun ketika siswa melakukan kesalahan agar mereka tidak merasa takut untuk mencoba kembali.

Selain itu, suasana belajar yang nyaman dapat membantu anak lebih aktif mengikuti pembelajaran. Ketika guru menghargai pertanyaan dan pendapat siswa, anak akan memiliki kesempatan untuk belajar tanpa merasa rendah diri. Sebaliknya, jika anak sering dimarahi atau dipermalukan ketika melakukan kesalahan, mereka mungkin menjadi ragu untuk mencoba lagi. Oleh karena itu, guru perlu membangun komunikasi yang positif dan memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk berpartisipasi. Dengan begitu, anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang lebih percaya diri.

Teman sebaya juga dapat membantu menciptakan lingkungan sekolah yang positif. Hal sederhana seperti mengajak teman berbicara, mendengarkan pendapatnya, atau mengajaknya bergabung dalam kegiatan kelompok dapat membuat anak merasa lebih diterima. Sebaliknya, mengejek atau mengucilkan teman justru dapat membuat mereka semakin menarik diri. Karena itu, siswa perlu belajar memahami perasaan orang lain dan tidak menganggap perbedaan sifat sebagai alasan untuk menjauhkan seseorang dari pergaulan.

Hal tersebut juga berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila kedua, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Nilai ini mengajarkan kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik, menghormati sesama, dan tidak merendahkan orang lain. Penerapannya di sekolah dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti tidak mengejek teman, menghargai pendapat yang berbeda, dan membantu teman yang mengalami kesulitan. Dengan begitu, pendidikan Pancasila tidak hanya dipelajari melalui materi di kelas, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menciptakan lingkungan belajar yang aman bukan hanya tanggung jawab guru, melainkan juga seluruh warga sekolah dan orang tua. Menurut saya, keberhasilan pendidikan tidak seharusnya hanya dilihat dari nilai akademik, tetapi juga dari bagaimana anak merasa nyaman, berani mengembangkan kemampuannya, dan belajar menghargai orang lain. Sekolah seharusnya menjadi tempat bagi anak untuk tumbuh dan menemukan potensi dirinya, bukan tempat yang membuatnya takut untuk berbicara atau menjadi dirinya sendiri. Sebab, setiap anak berhak belajar dengan rasa aman, bukan dengan rasa takut.

Penulis:

Siti Roadatul Aisya | Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.