Oleh Rizky Nur Fauziah
Bercanda merupakan hal yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari siswa sekolah dasar. Saat berada di kelas maupun bermain bersama teman, anak-anak biasanya saling melempar candaan, memberikan julukan, atau menertawakan sesuatu yang dianggap lucu. Kebiasaan tersebut dapat menjadi cara untuk membangun kedekatan. Namun, tidak semua candaan selalu menyenangkan bagi setiap orang. Ada kalanya perkataan yang dianggap lucu oleh satu anak justru membuat anak lainnya merasa malu, sedih, atau tidak nyaman. Dari sinilah pentingnya memahami perbedaan antara bercanda dan perundungan atau bullying di lingkungan sekolah.
Perundungan tidak selalu berbentuk tindakan fisik. Perilaku ini juga dapat muncul melalui perkataan dan hubungan sosial antarsiswa. UNESCO menjelaskan bahwa perundungan dapat berupa penghinaan, ejekan, pemberian julukan yang merendahkan, penyebaran rumor, hingga pengucilan dari kelompok pertemanan. Perundungan umumnya terjadi secara berulang dan melibatkan ketimpangan kekuatan antara pelaku dan anak yang menjadi sasaran. Hal ini membedakannya dari perselisihan biasa yang dapat terjadi di antara anak-anak.
Di sekolah dasar, perilaku yang berpotensi menjadi perundungan terkadang dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Misalnya, seorang siswa terus-menerus diejek karena penampilan, cara berbicara, atau kemampuannya dalam memahami pelajaran. Ketika siswa tersebut menunjukkan ketidaknyamanan, teman-temannya justru mengatakan bahwa mereka hanya bercanda. Padahal, alasan bercanda tidak serta-merta membuat suatu tindakan dapat dibenarkan. Perasaan anak yang menjadi sasaran juga perlu diperhatikan, terutama jika perilaku tersebut terus berulang dan membuatnya kesulitan membela diri.
Pengalaman seperti ini perlu mendapat perhatian karena sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar dan berinteraksi. Siswa yang sering menjadi sasaran ejekan mungkin merasa ragu untuk menjawab pertanyaan guru, mengikuti kegiatan kelompok, atau menjalin pertemanan. Tidak semua anak menunjukkan reaksi yang sama ketika mengalami perlakuan tidak menyenangkan. Ada yang berani menyampaikan keberatan, tetapi ada pula yang memilih diam karena takut diejek kembali atau khawatir tidak diterima oleh teman-temannya. Oleh karena itu, perubahan perilaku dan kenyamanan siswa di sekolah perlu diperhatikan oleh orang dewasa.
Dalam menghadapi persoalan ini, guru memiliki peran penting untuk membangun lingkungan kelas yang menghargai setiap siswa. Guru dapat mengajak anak memahami bahwa setiap orang memiliki perbedaan, baik dalam penampilan, kemampuan belajar, maupun cara berkomunikasi. Pemahaman tersebut dapat ditanamkan melalui cerita, diskusi sederhana, dan kegiatan bermain peran. Misalnya, siswa diminta membayangkan perasaannya jika terus-menerus dipanggil dengan julukan yang tidak disukai. Dengan cara ini, anak dapat belajar melihat suatu kejadian dari sudut pandang orang lain dan memahami bahwa perkataan mereka memiliki dampak terhadap perasaan teman.
Selain memberikan pemahaman, guru juga perlu mengambil tindakan ketika menemukan dugaan perundungan. Laporan siswa sebaiknya didengarkan dengan serius tanpa langsung menyalahkan anak yang bercerita. UNICEF Indonesia menyarankan agar guru menunjukkan empati, berbicara dengan anak-anak yang terlibat secara terpisah, dan melakukan tindak lanjut terhadap kejadian yang dilaporkan. Langkah ini membantu guru memahami situasi dengan lebih baik sekaligus memastikan bahwa siswa mendapatkan perlindungan yang diperlukan. Anak yang melakukan perundungan juga perlu dibimbing agar memahami kesalahannya dan belajar memperbaiki perilaku, bukan sekadar dimarahi tanpa penjelasan.
Upaya mencegah perundungan tidak hanya menjadi tanggung jawab guru. Orang tua dapat membiasakan anak berbicara dengan sopan, menghargai perbedaan, dan menceritakan pengalaman mereka di sekolah. Sementara itu, siswa dapat berperan dengan tidak ikut menertawakan teman yang diejek, tidak menyebarkan julukan yang merendahkan, serta meminta bantuan guru ketika melihat perilaku yang terus berulang. Tindakan sederhana tersebut dapat membantu menciptakan pertemanan yang lebih sehat.
Karena itu, penting bagi kita untuk memahami bahwa bercanda seharusnya membuat hubungan pertemanan semakin dekat, bukan membuat seseorang merasa direndahkan atau takut berada di sekolah. Melalui kerja sama guru, orang tua, dan siswa, lingkungan sekolah dasar dapat menjadi tempat yang mendukung proses belajar sekaligus perkembangan sosial anak. Dengan begitu, kebiasaan saling menghargai dapat tumbuh sejak dini dan tidak ada siswa yang merasa harus menghadapi perundungan seorang diri.
Daftar Pustaka:
- UNESCO. (2023). What you need to know about school violence and bullying. https://www.unesco.org/en/articles/what-you-need-know-about-school-violence-and-bullying
- UNICEF Indonesia. (t.t.). Tips untuk guru dalam mengatasi perundungan (bullying). https://www.unicef.org/indonesia/id/child-protection/tips-untuk-guru-mengatasi-bullying