Bel pulang sudah berbunyi, tetapi bagi sebagian anak, sekolah belum selesai. Begitu tiba di rumah dan membuka ponsel, notifikasi grup kelas menumpuk. Isinya bukan tugas atau pengumuman ujian, melainkan tangkapan layar yang mengejek, stiker yang mempermalukan, dan komentar yang sengaja ditulis agar satu orang membacanya lalu merasa kecil.
Inilah wajah baru perundungan di sekolah. Sekarang cyberbullying menyelinap lewat layar dan menembus tembok rumah, tempat yang seharusnya paling aman bagi seorang anak.
Sekarang, perundungan tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga bisa berlanjut di dalam handphone. Jika perundungan di sekolah biasanya berhenti saat jam pelajaran selesai, perundungan di handphone bisa terjadi kapan saja, bahkan pada malam hari. Akibatnya, korban bisa terus merasa takut dan tidak nyaman, sehingga sulit beristirahat dengan tenang.
Ambil contoh seorang siswi SMP yang kita sebut saja Rani (nama dan kisah ini sekadar ilustrasi). Fotonya yang diambil diam-diam saat tertidur di kelas diunggah ke grup angkatan, lalu dijadikan stiker. Dalam hitungan jam, wajahnya dipakai untuk bahan lelucon oleh puluhan orang. Sebagian dari mereka bahkan tidak mengenalnya. Mereka hanya ikut tertawa karena semua orang tertawa.
Di sinilah letak bahayanya. Di ruang digital, jarak antara pelaku dan korban jauh. Anak yang mengetik komentar kejam sering tidak melihat ekspresi wajah temannya yang hancur. Empati menipis, Satu orang memulai, belasan menyusul, dan tidak ada yang merasa benar-benar bersalah karena "cuma ikut-ikutan".
Luka akibat perundungan di internet memang tidak terlihat secara langsung. Berbeda dengan luka di tubuh yang mudah dilihat, dampak perundungan di handphone sering kali sulit diketahui. Orang tua dan guru biasanya baru menyadarinya ketika anak mulai menunjukkan perubahan sikap.
Tanda-tandanya bisa terlihat dari kebiasaan sehari-hari. Misalnya, anak yang biasanya rajin ke sekolah tiba-tiba menjadi malas berangkat, sering mengeluh sakit perut atau pusing tanpa alasan yang jelas, nilai sekolahnya menurun, atau menjadi lebih pendiam dan mudah marah. Ada juga anak yang merasa takut atau gelisah setiap kali ponselnya berbunyi, bahkan memilih menjauh dari ponselnya karena merasa tidak nyaman.
Jika terus dibiarkan, perundungan di internet bisa membuat anak terus merasa cemas, kehilangan rasa percaya diri, bahkan mengalami depresi. Anak-anak dan remaja bisa merasa sangat terluka ketika terus-menerus diejek atau dipermalukan di depan banyak orang. Meskipun unggahan yang berisi ejekan sudah dihapus, rasa sakit hati itu belum tentu hilang. Mereka mungkin masih mengingat kejadian tersebut dalam waktu yang lama dan merasa sedih setiap kali teringat kembali.
Mengapa Perundungan di Internet Sulit Dihentikan?
Ada beberapa alasan mengapa perundungan di internet sulit dihentikan.
Pertama, pelaku bisa menyembunyikan identitasnya dan pesan dapat menyebar dengan sangat cepat. Satu foto atau tangkapan layar bisa tersebar ke banyak grup dalam waktu singkat. Walaupun pesan tersebut sudah dihapus, orang lain mungkin masih menyimpan dan menyebarkannya kembali.
Kedua, perundungan sering terjadi di grup percakapan yang tidak diketahui oleh orang tua dan guru. Akibatnya, mereka tidak tahu apa yang sedang dialami oleh anak. Korban juga sering memilih diam karena takut dianggap suka mengadu atau khawatir akan diejek lebih parah.
Ketiga, banyak anak menganggap perundungan hanya sebagai candaan biasa. Mereka mungkin merasa sedang bercanda, padahal perkataan atau tindakan mereka menyakiti orang lain. Jika hal ini terus dianggap biasa, mereka bisa tidak menyadari bahwa perbuatannya salah dan membuat orang lain merasa sedih atau malu.
Peran Sekolah, Orang Tua, dan Kita Semua
Pemerintah sebenarnya sudah menyediakan landasan. Lewat Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023, satuan pendidikan diwajibkan membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK). Aturan ini mencakup kekerasan fisik, psikis, hingga yang terjadi lewat media digital. Persoalannya, aturan di atas kertas baru bermakna jika benar-benar hidup di lingkungan sekolah. Banyak siswa bahkan tidak tahu ke mana harus melapor, atau tidak yakin laporan mereka akan ditanggapi dengan serius.
Karena itu, sekolah perlu menyediakan tempat atau cara bagi siswa untuk melaporkan perundungan dengan aman. Identitas siswa yang melapor juga harus dijaga agar mereka tidak takut untuk bercerita. Guru perlu belajar mengenali tanda-tanda perundungan, termasuk yang tidak terlihat secara langsung. Jika ada kasus perundungan, guru harus segera menanganinya tanpa menyalahkan korban atau menganggap masalah tersebut sebagai hal biasa.
Di rumah, orang tua juga memiliki peran penting. Mengawasi anak bukan berarti harus terus-menerus bertanya atau memeriksa semua kegiatannya. Jika anak merasa selalu disalahkan, mereka justru bisa memilih untuk menyembunyikan masalahnya. Orang tua perlu membangun hubungan yang baik agar anak merasa nyaman untuk bercerita ketika mengalami masalah dengan teman-temannya di internet. Anak harus merasa aman untuk bercerita tanpa takut langsung dimarahi atau ponselnya diambil. Orang tua bisa mulai dengan menanyakan pengalaman anak saat menggunakan internet, sama seperti menanyakan kegiatan mereka di sekolah.
Anak-anak yang melakukan perundungan juga perlu mendapat perhatian. Bisa jadi mereka belum memahami bahwa perbuatan mereka menyakiti orang lain. Jika hanya dihukum tanpa diberi penjelasan, mereka mungkin tidak memahami kesalahannya. Oleh karena itu, mereka perlu dibimbing agar bisa memahami perasaan orang lain, mengakui kesalahan, dan belajar bertanggung jawab. Dengan begitu, diharapkan mereka tidak mengulangi perbuatannya.
Jika mengetahui ada anak yang menjadi korban perundungan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantunya. Simpan bukti perundungan, seperti tangkapan layar yang menunjukkan pesan, waktu kejadian, dan nama akun pelaku. Jangan membalas pelaku dengan kata-kata kasar karena bisa membuat masalah semakin besar. Laporkan kejadian tersebut kepada wali kelas, guru BK, atau pihak sekolah. Jika perundungan terjadi di media sosial, gunakan fitur laporan yang tersedia. Hal yang paling penting adalah memberikan dukungan kepada korban dan meyakinkannya bahwa ia tidak sendirian serta tidak bersalah atas perbuatan orang lain.
Bagi siswa yang hanya melihat perundungan, mereka juga bisa membantu menghentikan kejadian tersebut. Mereka tidak perlu ikut mengejek, menertawakan, atau menyebarkan kembali konten yang menyakiti korban. Mereka juga bisa menghubungi korban secara pribadi untuk memberikan dukungan. Hal sederhana seperti ini bisa membuat korban merasa lebih tenang dan tidak sendirian menghadapi masalahnya.
Menjadikan Sekolah Tempat yang Aman bagi Anak
Teknologi sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Grup percakapan dan media sosial bisa digunakan untuk belajar bersama, berbagi informasi, dan menjaga hubungan dengan teman. Namun, anak-anak perlu diajarkan cara menggunakan teknologi dengan baik dan menghargai orang lain saat berkomunikasi di internet.
Sekolah seharusnya menjadi tempat yang membuat anak merasa aman untuk belajar dan berkembang, bukan tempat yang membuat mereka takut. Kita juga perlu memahami bahwa kata-kata yang dikirim melalui internet bisa menyakiti perasaan orang lain, meskipun pelakunya menganggap itu hanya candaan. Karena itu, orang tua, guru, dan siswa perlu bekerja sama untuk mencegah perundungan. Setiap anak berhak merasa aman, dihargai, dan mendapat dukungan ketika menghadapi masalah.
Penulis:
Annisa Fatimah Azzahra | Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah.