Oleh Syania Amalia Salsabillah
Kebutuhan rumah terus meningkat seiring bertambahnya penduduk dan berkembangnya suatu wilayah. Bagi sebagian orang, memiliki rumah sendiri merupakan impian yang ingin diwujudkan. Namun, di balik pembangunan perumahan, ada hal yang perlu diperhatikan, yaitu lahan yang digunakan. Ketika sawah berubah menjadi perumahan, masyarakat memang mendapatkan tempat tinggal baru. Namun, petani bisa kehilangan lahan untuk bekerja, dan wilayah tersebut berpotensi kehilangan sumber pangan.
Persoalan ini menimbulkan pertanyaan: apakah kebutuhan akan tempat tinggal harus dipenuhi dengan mengorbankan lahan pertanian? Di Bojongsoang, Kabupaten Bandung, pertanyaan tersebut menjadi penting karena perkembangan perumahan mulai bersinggungan dengan lahan pertanian. Berita detikJabar berjudul “Dilema Rumah Idaman di Atas Lahan Pangan” yang ditulis Yudha Maulana pada 25 Februari 2025 membahas persoalan tersebut. Saya berpendapat, sawah produktif di Bojongsoang harus dilindungi. Perumahan memang dibutuhkan, tetapi sawah adalah sumber penghasilan petani sekaligus penopang kebutuhan pangan masyarakat.
Dampak Ekonomi bagi Masyarakat
Pembangunan perumahan memberikan manfaat ekonomi, seperti membuka lapangan kerja dan peluang usaha. Proses pembangunan membutuhkan tenaga kerja, sedangkan kawasan yang telah dihuni dapat mendorong pertumbuhan warung, toko, serta usaha jasa. Bojongsoang juga menjadi pilihan tempat tinggal bagi masyarakat yang ingin tinggal di luar pusat Kota Bandung. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan perumahan dapat menggerakkan kegiatan ekonomi di suatu wilayah.
Namun, manfaat tersebut tidak dirasakan semua orang secara merata. Dalam berita detikJabar, seorang petani bernama Jujuh menggarap lahan sewaan seluas sekitar 7.000 meter persegi untuk menanam mentimun dan terkadang padi. Ia menghadapi kemungkinan harus pindah apabila pemilik lahan menjual tanahnya untuk pembangunan perumahan. Kondisi ini menunjukkan bahwa alih fungsi lahan dapat mengancam mata pencaharian petani, terutama mereka yang tidak memiliki tanah sendiri.
Menurut saya, manfaat ekonomi proyek perumahan harus ditimbang bersama dampaknya terhadap masyarakat. Petani yang kehilangan lahan belum tentu mudah menemukan tempat baru untuk bekerja, sementara peluang kerja di sektor perumahan membutuhkan keterampilan yang mungkin berbeda. Karena itu, keberhasilan pembangunan sebaiknya tidak hanya dinilai dari keuntungan usaha, tetapi juga dari dampaknya terhadap kehidupan masyarakat sekitar.
Dampak terhadap Lingkungan
Perubahan sawah menjadi perumahan juga berpotensi memengaruhi lingkungan. Sawah dan tanah terbuka membantu air hujan meresap ke dalam tanah. Ketika permukaannya tertutup bangunan dan jalan, air lebih sulit meresap sehingga risiko genangan dapat meningkat, terutama jika saluran drainase tidak memadai. Dampak ini penting diperhatikan karena lingkungan yang tidak mampu menampung air bisa mengganggu aktivitas warga.
Pemerintah dan pengembang wajib memperhatikan kondisi lahan, saluran air, serta ruang terbuka hijau sejak tahap perencanaan. Proyek perumahan tidak seharusnya hanya berfokus pada jumlah rumah yang didirikan, tetapi juga pada kemampuan lingkungan mendukung kehidupan masyarakat. Perencanaan yang baik bisa membantu mengurangi risiko lingkungan dan menciptakan kawasan permukiman yang lebih nyaman.
Meski demikian, drainase dan ruang terbuka hijau tidak sepenuhnya menggantikan fungsi sawah. Perlindungan lahan pertanian tetap diperlukan agar pembangunan tidak mengabaikan keseimbangan lingkungan dalam jangka panjang.
Pengaruh terhadap Ketahanan Pangan
Berdasarkan data yang dikutip dalam berita detikJabar, luas sawah di Bojongsoang berkurang 221,83 hektare selama 2017–2021, sedangkan luas perumahan bertambah 30,38 hektare pada periode yang sama. Data ini menunjukkan perubahan penggunaan lahan yang harus diperhatikan dalam perencanaan wilayah. Namun, angka tersebut tidak berarti seluruh pengurangan sawah berubah menjadi perumahan.
Berkurangnya sawah tidak langsung menyebabkan kekurangan pangan. Akan tetapi, jika lahan pertanian produktif terus menyusut, kemampuan wilayah menghasilkan pangan bisa menurun. Akibatnya, masyarakat berpotensi semakin bergantung pada pasokan dari daerah lain. Jika distribusi terganggu atau harga pangan meningkat, kelompok berpenghasilan rendah dapat merasakan dampak yang lebih berat karena sebagian besar penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sawah harus dipandang sebagai aset jangka panjang, bukan sekadar tanah yang memiliki harga jual. Lahan pertanian menghasilkan pangan sekaligus mendukung kehidupan petani dan masyarakat. Oleh sebab itu, keuntungan dari pembangunan saat ini harus ditimbang bersama risiko berkurangnya sumber pangan pada masa mendatang. Menjaga lahan pertanian juga merupakan langkah untuk mempertahankan kemampuan wilayah dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Biaya Lingkungan dan Pertimbangan Ekonomi
Dalam ekonomi lingkungan, penggunaan lahan harus dinilai berdasarkan manfaat dan biaya yang ditimbulkannya. Keuntungan penjualan tanah dan pembangunan perumahan terlihat secara langsung. Namun, dampak seperti berkurangnya lahan resapan air dan hilangnya mata pencaharian petani belum tentu tercermin dalam harga tanah. Padahal, dampak tersebut bisa menimbulkan biaya sosial dan lingkungan dalam jangka panjang.
Perubahan lahan pertanian juga memengaruhi kegiatan ekonomi di sekitarnya. Pertanian melibatkan pemasok bibit, penjual pupuk, pekerja, hingga pedagang hasil panen. Ketika sawah beralih fungsi, sebagian kegiatan tersebut dapat berkurang atau berpindah ke tempat lain. Karena itu, keputusan pembangunan sebaiknya tidak hanya didasarkan pada keuntungan jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan ekonomi masyarakat.
Menyeimbangkan Pembangunan dan Perlindungan Sawah
Pembangunan perumahan tidak harus dihentikan karena kebutuhan tempat tinggal memang nyata. Namun, pemerintah wajib memastikan pembangunan berlangsung sesuai tata ruang dan tidak terus mengorbankan lahan pertanian produktif. Lahan yang diperuntukkan bagi permukiman dapat dimanfaatkan secara efisien, sementara sawah yang perlu dilindungi harus dijaga melalui aturan dan pengawasan yang konsisten.
Masyarakat, termasuk petani, juga harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan karena mereka merasakan langsung dampak perubahan penggunaan lahan. Pendapat mereka penting agar kebijakan pembangunan mempertimbangkan kebutuhan warga dan keberlangsungan mata pencaharian. Pengembang pun wajib mematuhi ketentuan lingkungan, termasuk penyediaan drainase dan ruang terbuka hijau.
Menurut saya, pembangunan yang baik bukan hanya menghasilkan banyak rumah, melainkan juga mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat dan lingkungan. Alih fungsi sawah di Bojongsoang menunjukkan bahwa pembangunan membawa manfaat sekaligus konsekuensi. Karena itu, pemerintah harus menegakkan tata ruang dan melindungi sawah produktif, pengembang harus mematuhi aturan lingkungan, dan masyarakat harus dilibatkan. Keberhasilan pembangunan diukur dari kemampuan warga untuk hidup layak, menjaga lingkungan, dan tetap memperoleh pangan pada masa mendatang.
Sumber Referensi:
- Yudha Maulana, detikJabar, “Dilema Rumah Idaman di Atas Lahan Pangan”, 25 Februari 2025. https://www.detik.com/jabar/berita/d-7794126/dilema-rumah-idaman-di-atas-lahan-pangan