Duduk Bersama, Tapi Tidak Berteman: Fenomena Pengucilan Sosial di Kalangan Siswa SD/MI

Jangan anggap pengucilan sebagai hal yang biasa. Kenali dampaknya pada siswa SD dan mari ciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif.

Di dalam kelas, siswa bertemu, belajar, dan bermain bersama setiap hari. Namun, tidak semua siswa merasa nyaman dan diterima oleh teman-temannya. Ada anak yang jarang diajak bermain, tidak dipilih ketika pembagian kelompok, atau lebih sering sendirian saat jam istirahat. Keadaan seperti ini terkadang dianggap biasa karena setiap anak memiliki teman dekat masing-masing. Akan tetapi, jika seorang anak terus-menerus dijauhi oleh teman-temannya, hal tersebut perlu mendapat perhatian. Sebab, sekolah bukan hanya tempat untuk belajar, tetapi juga tempat bagi anak untuk membangun pertemanan dan belajar menghargai orang lain.

Siswa SD

Ketika Pengucilan Dianggap Hal Biasa

Pengucilan di lingkungan sekolah terkadang dianggap sebagai hal yang wajar dalam pertemanan anak-anak. Padahal, anak usia sekolah dasar sedang belajar menjalin hubungan dan berinteraksi dengan orang lain. Penelitian Lawati dkk. (2020) membahas peran teman sebaya terhadap kemampuan interaksi sosial siswa sekolah dasar. Menurut saya, setiap anak perlu diberi kesempatan untuk bermain, bekerja sama, dan menjalin pertemanan tanpa merasa dijauhi. Jika pengucilan terus terjadi, anak bisa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sosialnya. Oleh karena itu, masalah ini perlu mendapat perhatian dari guru maupun siswa agar lingkungan kelas menjadi tempat yang nyaman bagi semua anak.

Saat Anak Merasa Tidak Diinginkan

Pengucilan sosial dapat memberikan pengaruh terhadap perasaan dan pergaulan anak di sekolah. Anak yang sering dijauhi oleh teman-temannya mungkin merasa minder, memilih diam, atau enggan bergabung dalam kegiatan bersama. Contohnya, ketika guru meminta siswa membentuk kelompok, ada anak yang selalu dipilih paling akhir atau bahkan tidak mendapatkan kelompok hingga guru harus turun tangan untuk membantunya. Padahal, berinteraksi dengan teman sebaya dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar bekerja sama dan menghargai orang lain. Rosmi dan Hasanah (2025) membahas hubungan interaksi sosial teman sebaya dengan pembentukan karakter cinta damai pada siswa sekolah dasar. Karena itu, guru dan siswa perlu menciptakan suasana kelas yang membuat setiap anak merasa diterima.

Tidak Semua Anak yang Diam Baik-Baik Saja

Pengucilan sosial tidak seharusnya dianggap sebagai masalah biasa dengan alasan anak-anak nantinya akan berbaikan sendiri. Tidak semua masalah pertemanan ditunjukkan melalui pertengkaran atau saling mengejek. Ada anak yang memilih diam ketika dijauhi dan tidak berani menceritakan apa yang dirasakannya. Karena itu, anak yang terlihat tenang belum tentu merasa nyaman dengan lingkungan pertemanannya. Menurut saya, sebagai calon guru MI/SD, guru tidak cukup hanya menegur siswa ketika terjadi pertengkaran. Guru juga perlu memperhatikan anak yang sering sendirian, jarang diajak bekerja sama, atau kesulitan bergabung dengan teman-temannya. Dengan begitu, masalah pengucilan dapat diketahui lebih awal dan ditangani dengan tepat.

Menciptakan Kelas yang Merangkul Semua Anak

Untuk mengurangi pengucilan sosial di kelas, guru dapat memulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya, guru bisa mengatur kelompok belajar secara bergantian agar siswa tidak selalu bersama teman dekatnya saja. Guru juga dapat membiasakan siswa untuk mendengarkan pendapat teman, saling membantu, dan bekerja sama dalam menyelesaikan tugas. Selain itu, siswa yang sering menyendiri perlu mendapat perhatian agar guru dapat memahami keadaan yang dialaminya. Griselda dan Minsih (2026) membahas pentingnya interaksi sosial yang harmonis di lingkungan sekolah dasar. Karena itu, guru perlu memperhatikan hubungan antarsiswa, bukan hanya proses mereka dalam memahami pelajaran. Menurut saya, tujuan guru bukan memaksa semua anak menjadi sahabat, melainkan menciptakan suasana kelas yang membuat setiap anak merasa dihargai dan memiliki kesempatan untuk terlibat tanpa terus-menerus merasa tersisih.

Bukan Harus Berteman dengan Semua Orang, tetapi Saling Menghargai

Duduk bersama di dalam kelas belum tentu membuat setiap anak merasa diterima oleh teman-temannya. Sekolah bukan hanya tempat untuk mempelajari berbagai mata pelajaran, tetapi juga tempat anak belajar menghargai orang lain dan menjalin hubungan yang baik. Oleh karena itu, setiap anak perlu diberi kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan bersama tanpa merasa dikucilkan. Sebab, pendidikan juga berarti mengajarkan anak untuk hidup berdampingan dan saling menghormati.

Daftar Pustaka:

  1. Griselda, T. E., & Minsih. (2026). Harmonisasi interaksi sosial antar siswa sekolah dasar. JS (Jurnal Sekolah), 10(2), 460–471. https://doi.org/10.24114/63y4tm48
  2. Lawati, S., Gusrayani, D., & Nugraha, D. (2020). Peran teman sebaya terhadap kemampuan interaksi sosial siswa SD (Penelitian deskriptif terhadap siswa sekolah dasar di Kecamatan Cisarua Kabupaten Sumedang). Jurnal Pena Ilmiah, 3(2). https://doi.org/10.17509/jpi.v3i2.27734
  3. Rosmi, F., & Hasanah, I. (2025). Pengaruh interaksi sosial teman sebaya terhadap karakter cinta damai siswa kelas IV di SDN Kedoya Utara 04. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(4). https://doi.org/10.23969/jp.v10i04.33102

Penulis:

Silviana Medhia Sari | Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.