Di lereng pemukiman Desa Gombong Tepus, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, nama Mbah Sanmubarok atau yang akrab disapa warga dengan sebutan Mbah Mubarok bukan sekadar deretan huruf di dalam pendaftaran silsilah keluarga. Bagi masyarakat setempat dan keturunannya, beliau adalah tempat ingatan kolektif tentang keikhlasan, pengembaraan ilmu, serta kehangatan sebuah keluarga bersandar.
Perjalanan Mbah Mubarok dalam menuntun masyarakat menuju pencerahan keagamaan bukanlah kisah yang terjadi dalam semalam. Semuanya bermula dari karakter dasar yang beliau warisi dari sang ayah, Mbah Ladi, seorang tokoh terpandang era 1800 an yang bijaksana dan sering dijuluki warga sebagai "orang pintar."
Dahaga Ilmu dan Keteguhan Hati
Mbah Mubarok tumbuh dengan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap ilmu-ilmu agama. Pada masa mudanya, keterbatasan sarana tak menghalangi langkahnya untuk melakoni tradisi thalabul 'ilmi. Beliau memilih jalan Panjang, berkelana dari satu daerah ke daerah lain, mendatangi guru demi guru demi mereguk kedalaman ilmu agama.
Bahkan setelah memasuki jenjang pernikahan, dorongan untuk menuntut ilmu itu tak lantas padam. Langkah pengembaraannya yang sering kali harus meninggalkan rumah sempat memicu keheranan dan keraguan dari mertuanya. Namun, Mbah Mubarok meyakini satu hal, ilmu yang kokoh hanya bisa diperoleh dari keluasan pengalaman dan kerendahan hati untuk terus belajar. Keteguhan niat itu akhirnya luluh dalam ketulusan, hingga beliau kembali ke Desa Gombong Tepus membawa bekal spiritual yang matang.
Menyala di Tengah Kesederhanaan
Ketika Mbah Mubarok menetap kembali di desanya, Guru ngaji bisa dihitung dengan jari, sementara literasi keagamaan warga masih minim. Mbah Mubarok mengambil peran itu tanpa ragu. Beliau membuka pintu rumahnya, mengajar anak-anak hingga orang dewasa membaca Al-Qur'an dan memahami tatacara ibadah dasar.
Prinsip utamanya sangat tegas, pendidikan adalah pengabdian dan amanah, bukan tempat mencari keuntungan. Beliau mengajar tanpa pernah memungut biaya. Di mata warga, beliau bukan sekadar pengajar tajwid, melainkan juga pengayom moral yang mengajarkan pentingnya kerukunan dan rasa saling menghormati.
Mengalir Hingga Hari Ini meski Mbah Mubarok telah berpulang, hangatnya warisan beliau masih sangat terasa. Setiap tahunnya, masyarakat dan keluarga besar berkumpul mengadakan peringatan Haul Mbah Mubarok. Suasana haru dan khidmat menyelimuti desa saat lantunan ayat-ayat Al-Qur'an dibacakan oleh anak cucunya, disambung dengan pengajian umum dan tradisi pergantian kain kelambu makam. Makam beliau pun terus menjadi ruang ziarah dan doa bagi warga sekitar maupun peziarah luar daerah.
Sebagai salah satu cicitnya yang kini merantau menempuh pendidikan S-1 Pendidikan Agama Islam di UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, saya menyadari bahwa setiap langkah belajar yang saya tempuh hari ini adalah gema dari jejak kaki Mbah Mubarok yang pernah berkelana menuntut ilmu puluhan tahun silam.
Dari Mbah Mubarok kita belajar: ilmu yang sejati tidak hanya diukur dari seberapa tinggi gelar formal yang diraih, melainkan seberapa besar ketulusan kita dalam memberi manfaat serta menjaga keharmonisan bagi sesama.
Penulis:
Ade Solihah merupakan mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.