Ketika Anak Takut Bertanya: Ada Apa di Balik Diamnya Siswa di Kelas?

Mengapa siswa memilih diam meski belum memahami pelajaran? Yuk pahami penyebabnya dan ciptakan suasana kelas yang membuat mereka berani bertanya.

Bertanya memang bukan sesuatu yang wajib dilakukan setiap saat. Namun, ketika tidak memahami sesuatu, bertanya sering kali menjadi jalan untuk menemukan jawaban. Sayangnya, keinginan sederhana ini tidak selalu mudah diwujudkan. Ada kalanya pertanyaan sudah tersusun di dalam pikiran, tetapi sulit diucapkan karena rasa malu, takut salah, atau kurang percaya diri. Pada akhirnya, diam terasa lebih mudah daripada mencoba.

Ketika Anak Takut Bertanya

Hal serupa dapat terjadi pada siswa di kelas. Ketika belum memahami materi, sebagian anak memilih untuk tidak bertanya. Ada yang mencoba mencari jawaban sendiri, memilih mendengarkan pertanyaan teman, atau membutuhkan waktu untuk memahami penjelasan. Namun, ada pula yang sebenarnya ingin berbicara, tetapi khawatir pertanyaannya dianggap sepele atau jawabannya keliru. Karena itu, siswa yang diam tidak seharusnya langsung dianggap pasif, tidak peduli, atau tidak memahami pelajaran.

Saya sendiri terkadang lebih nyaman diam, mendengarkan, dan mencerna sesuatu dengan cara saya sendiri. Ada kalanya saya membutuhkan waktu untuk memahami pembicaraan sebelum menyampaikan pendapat. Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa diam tidak selalu lahir dari rasa takut. Meski demikian, kita juga perlu menyadari bahwa sebagian anak mungkin memiliki pertanyaan atau gagasan yang sulit mereka ungkapkan karena keraguan dan kekhawatiran terhadap penilaian orang lain.

Persoalan ini dibahas dalam penelitian Desy Ari Sandi dan rekan-rekannya (2026) berjudul “Kesenjangan Antara Ketidakpahaman dan Keberanian Bertanya: Studi Tentang Perilaku Diam Siswa dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar” yang diterbitkan dalam DIAJAR: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Penelitian terhadap empat siswa kelas IV tersebut menemukan bahwa perilaku diam berkaitan dengan faktor psikologis, sosial, dan lingkungan belajar. Siswa yang diteliti juga cenderung lebih nyaman bertanya kepada teman sebaya karena suasananya terasa lebih santai. Temuan ini menunjukkan bahwa kesempatan bertanya saja belum tentu cukup jika siswa belum merasa nyaman untuk menggunakannya.

Dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung. Seorang anak yang belum memahami soal matematika, misalnya, mungkin memilih menyalin pekerjaan temannya karena malu meminta penjelasan. Tugasnya memang selesai, tetapi belum tentu ia memahami proses pengerjaannya. Situasi semacam ini mengingatkan kita bahwa kelas yang tenang dan tugas yang terkumpul tidak selalu menjadi tanda bahwa seluruh siswa telah memahami materi. Bisa jadi, masih ada kebingungan yang tidak terungkap.

Menurut saya, persoalannya bukan semata-mata bagaimana membuat siswa lebih berani berbicara, melainkan juga bagaimana membangun lingkungan yang membuat mereka merasa aman untuk bersuara. Keaktifan tidak cukup ditumbuhkan melalui tuntutan. Guru perlu menghargai pertanyaan, menerima kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, serta menghindari respons yang membuat siswa malu karena belum memahami sesuatu.

Upaya tersebut dapat dimulai dari hal sederhana, seperti memberi kesempatan kepada siswa untuk menuliskan pertanyaan, berdiskusi dengan teman sebangku, atau menyampaikan pendapat dalam kelompok kecil sebelum berbicara di depan kelas. Cara ini dapat membantu mereka yang belum terbiasa berbicara untuk mulai mencoba. Ketika pertanyaan disambut dengan baik, keberanian untuk bertanya kembali pun memiliki kesempatan untuk tumbuh.

Tidak semua anak yang diam sedang menyembunyikan ketakutan. Ada yang sedang berpikir, ada yang memilih belajar secara mandiri, dan ada yang masih mencari keberanian untuk mengungkapkan isi pikirannya. Tugas pendidikan bukanlah memaksa setiap anak menjadi sama-sama lantang, melainkan memahami kebutuhan mereka dan memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar sekaligus menyampaikan kesulitannya.

Mungkin, yang perlu kita ubah bukan hanya keberanian anak untuk bertanya, melainkan juga cara kita menyambut pertanyaan mereka. Jangan hanya menuntut anak berani bersuara jika kita belum mampu membuat mereka merasa aman untuk melakukannya. Sebab, bisa jadi bukan anak yang kehabisan pertanyaan, melainkan kita yang terlalu sibuk menuntut jawaban hingga lupa mendengarkan. Terkadang, langkah pertama menuju pemahaman bukanlah menemukan jawaban yang benar, melainkan merasa cukup aman untuk berkata, “Saya belum mengerti.”

Penulis:

Cahya Nariyah Azizah merupakan mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia memiliki ketertarikan pada dunia pendidikan dan kepenulisan. Ia senang mempelajari berbagai hal baru serta menuangkan pemikiran dan pengamatannya ke dalam tulisan. Baginya, menulis merupakan salah satu cara untuk menyampaikan gagasan, berbagi sudut pandang, dan mengangkat hal-hal sederhana yang memiliki makna dalam kehidupan sehari-hari. Menulis juga salah satu cara untuk belajar, berekspresi, dan menyampaikan ide kepada orang lain.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.