Udara yang Kita Hirup, Bahaya yang Tak Kita Lihat: Ketika Kabut Asap Mengancam Kesehatan

Jangan anggap remeh kabut asap karhutla! Yuk simak dampaknya bagi pernapasan, pahami risiko bagi kelompok rentan, dan cari tahu cara melindungi diri.

Pagi yang biasanya diawali dengan udara segar kini terasa berbeda. Langit tampak gelap, bau asap tercium sampai ke dalam rumah, dan tenggorokan mulai terasa gatal. Bagi warga terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), ini bukan sekadar mengganggu aktivitas, tetapi juga mengancam kesehatan.

Kabut Asap

Kabut asap sering kali dianggap hanya membuat penglihatan jadi kurang jelas. Padahal, ada bahaya yang tidak selalu terlihat oleh mata. Partikel kecil dalam asap bisa masuk ke saluran pernapasan, sampai ke paru-paru. Akibatnya, masyarakat lebih mudah mengalami gangguan pernapasan, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang menderita penyakit paru-paru atau jantung.

Ribuan Warga Terdampak, Anak-Anak Ikut Terancam

Dampak kabut asap bukan hanya sekadar kekhawatiran belaka. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang diberitakan Tirto, hingga 22 Oktober 2026 tercatat 333.470 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak karhutla. Dari jumlah tersebut, 75.172 kasus terjadi pada anak berusia di bawah lima tahun.

Angka ini menunjukkan besarnya dampak ganguan pernapasan di wilayah terdampak. Meski demikian, tidak semua kasus ISPA dapat dipastikan disebabkan langsung oleh kabut asap. Paparan terhadap asap dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk kondisi bagi individu yang sudah menderita masalah kesehatan.

Bagi anak-anak, menjauh dari paparan asap bukanlah hal yang mudah dilakukan. Mereka tetap membutuhkan ruang untuk bermain dan belajar, sementara orang dewasa harus beraktivitas demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika udara luar rumah tercemar, pilihan untuk melakukan aktivitas dengan aman menjadi semakin terbatas.

Saat Rumah Sakit dan Warga Sama-Sama Berjuang

Ketika keluhan terkait pernapasan meningkat, rumah sakit harus bersiap menghadapi permintaan layanan yang lebih tinggi. Tim medis tidak hanya fokus pada pasien yang datang, tetapi juga perlu menjamin bahwa warga yang mengalami gejala parah segera mendapatkan pertolongan.

Salah satu tindakan yang dilaporkan oleh Reuters pada 27 Oktober 2026 adalah pengoperasian bus oksigen di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Layanan ini membantu masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat kabut asap dengan menyediakan oksigen secara cepat oleh tenaga medis.

Upaya ini menegaskan pentingnya sistem kesehatan yang dapat menjangkau masyarakat dengan cara langsung. Namun, bus oksigen tidak dapat menggantikan fungsi rumah sakit. Warga yang mengalami sesak napas yang parah atau kondisi yang semakin memburuk tetap memerlukan pemeriksaan dan perawatan medis sesuai dengan kebutuhannya.

Selain layanan bergerak, masyarakat juga membutuhkan tempat berlindung dari asap. Mongabay melaporkan adanya rumah aman di Palangka Raya yang diprakarsai oleh masyarakat sipil, dilengkapi dengan penyaring udara dan berbagai perlengkapan kesehatan. Inisiatif semacam ini lah yang menjadi contoh bagaimana masyarakat dapat berperan dalam melindungi kelompok rentan saat kualitas udara memburuk.

Melindungi Diri Tidak Cukup dengan Menutup Pintu

Saat kabut asap menyelimuti lingkungan, terdapat beberapa tindakan yang bisa diambil untuk mengurangi paparan. Masyarakat sebaiknya memantau informasi mengenai kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan saat udara dalam kondisi buruk. Apabila perlu keluar, kenakan masker yang pas dan sesuai; masker respirator seperti N95 bisa menjadi pilihan.

Ketika kabut asap tebal, tutup semua pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya asap ke dalam rumah. Jika memungkinkan, gunakan penyaring udara dan hindari aktivitas yang meningkatkan polusi dalam ruangan, seperti merokok. Anak-anak, lansia, wanita hamil, dan individu dengan penyakit kronis memerlukan perhatian ekstra.

Jika batuk atau iritasi tidak kunjung membaik, segeralah kunjungi fasilitas kesehatan. Jika mengalami kesulitan bernapas yang parah, nyeri di dada, atau kondisi mulai memburuk, segera cari pertolongan medis.

Namun, tindakan perlindungan mandiri juga memiliki batasan. Tidak semua keluarga memiliki dana untuk membeli penyaring udara, mendiami rumah yang kedap, atau menghentikan aktivitas kerja saat kabut asap tiba. Oleh karena itu, penanganan kebakaran hutan dan lahan tidak bisa hanya bergantung pada imbauan kepada masyarakat.

Rumah Aman Asap dan Layanan Kesehatan yang Lebih Dekat

Pemerintah setempat, bersama dengan fasilitas kesehatan dan masyarakat, dapat meningkatkan perlindungan dengan menyediakan tempat aman dari asap, yang merupakan lokasi sementara dengan kualitas udara di dalam ruangan yang lebih baik dan sistem penyaringan udara yang cukup. Ruang ini sebaiknya diutamakan untuk anak kecil, orang tua, wanita hamil, serta individu yang memiliki masalah pernapasan.

Layanan kesehatan bergerak, pos pemeriksaan, ketersediaan masker, serta akses terhadap oksigen dan rujukan medis juga perlu disiapkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Sekolah dan tempat kerja harus bisa menyesuaikan kegiatan di luar ruangan dengan situasi kualitas udara yang ada. Informasi mengenai tempat layanan dan cara untuk mendapatkan bantuan juga harus mudah diakses oleh masyarakat.

Di sisi lain, solusi yang bersifat jangka panjang tidak seharusnya hanya fokus pada penanganan saat asap telah menyebar. Upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan harus diperkuat agar masyarakat tidak menghadapi ancaman yang sama setiap tahunnya. Menjaga udara yang bersih tidak dapat hanya dilakukan dengan menginstruksikan masyarakat untuk memakai masker, tetapi juga dengan menghentikan sumber pencemaran dan menangani kebakaran dengan serius.

Udara Bersih Adalah Hak Bersama

Kabut asap tidak hanya membuat langit terlihat suram. Dampaknya bisa masuk ke dalam rumah, mengganggu kegiatan sehari-hari, dan mengancam kesehatan, bahkan saat partikel berbahaya tak terlihat oleh mata kita.

Masyarakat bisa mengurangi risiko dengan memantau informasi tentang kualitas udara dan segera mendapatkan bantuan saat merasakan gejala. Namun, perlindungan yang lebih efektif memerlukan kolaborasi: akses mudah ke layanan kesehatan, tempat berlindung dari asap, serta langkah-langkah pencegahan kebakaran yang teratur.

Sebab, masyarakat seharusnya tidak dihadapkan pada pilihan antara melanjutkan pekerjaan atau menjaga kesehatan mereka. Udara bersih bukanlah sebuah kemewahan, tetapi merupakan kebutuhan mendasar yang seharusnya dapat dinikmati oleh setiap orang.

Daftar Referensi:

  1. Huda, K. (2026, 22 Oktober). ISPA di 7 provinsi terimbas karhutla tercatat 333.470 kasus. Tirto. https://tirto.id/ispa-di-7-provinsi-terimbas-karhutla-tercatat-333470-kasus
  2. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. (2026). Akses pelayanan kesehatan warga terdampak asap karhutla. https://www.bnpb.go.id/berita/akses-pelayanan-kesehatan-warga-terdampak-asap-karhutla
  3. Reuters. (2026, 27 Oktober). Indonesia sends oxygen bus to aid residents choking on forest fire haze. https://www.reuters.com/business/environment/indonesia-sends-oxygen-bus-aid-residents-choking-forest-fire-haze-2026-10-27/
  4. Mongabay. (2026). In Southeast Asia, residents grapple with life under Indonesia’s wildfire haze. https://news.mongabay.com/2026/09/in-southeast-asia-residents-grapple-with-life-under-indonesias-wildfire-haze/

Penulis:

  1. Cantikazahro’i Hilya Millatina;
  2. Gusti Ayu Teana Putri Octavianty;
  3. Fierly Itsnayni Intan Prihandini;
  4. Fina Aisyiah.

Para penulis merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.