Krisis Air di Gunungkidul: Ketika Kebutuhan Dasar Menjadi Beban Ekonomi Masyarakat

Mari pahami krisis air di Gunungkidul, dampaknya terhadap ekonomi masyarakat, serta solusi berkelanjutan untuk wujudkan akses air bersih yang merata.

Oleh An nisaa’ Ulinnuha

Air merupakan kebutuhan dasar yang berperan penting dalam kehidupan sehari-hari dan kegiatan ekonomi, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga pertanian dan peternakan. Namun, pemenuhan kebutuhan air bersih masih menjadi tantangan bagi masyarakat Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terutama ketika musim kemarau tiba. Kondisi geografis Gunungkidul yang didominasi kawasan karst menyebabkan air banyak mengalir melalui saluran bawah tanah sehingga tidak selalu mudah dimanfaatkan oleh masyarakat.

Krisis Air
Diilustrasikan dengan ChatGPT

Dewi et al. (2024) menjelaskan bahwa karakteristik wilayah dan kondisi geometeorologis turut memengaruhi kerawanan kekeringan di Gunungkidul. Ketika air sulit diperoleh, masyarakat berpotensi menghadapi tambahan biaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, krisis air di Gunungkidul bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Krisis air di Kabupaten Gunungkidul tidak terlepas dari kondisi geografisnya yang didominasi kawasan perbukitan karst. Pada kawasan ini, air hujan dapat meresap melalui celah dan rekahan batuan, kemudian mengalir ke sistem sungai bawah tanah. Akibatnya, keberadaan air di bawah permukaan tidak selalu mudah dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama apabila sumber air berada jauh dari permukiman atau membutuhkan infrastruktur khusus. Arida (2022) menjelaskan bahwa sumber air di Gunungkidul sebagian besar berupa sungai bawah tanah yang sulit dan mahal untuk dieksplorasi.

Penelitiannya juga menemukan adanya defisit air baku pada Juni– Oktober berdasarkan analisis curah hujan dari enam pos pengamatan selama sepuluh tahun. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa musim kemarau menjadi tantangan dalam pemenuhan kebutuhan air masyarakat. Meski demikian, krisis air tidak semata-mata disebabkan oleh kondisi karst, tetapi juga berkaitan dengan keterbatasan akses terhadap sumber air dan pengelolaan ketersediaan air. Krisis air dapat menimbulkan beban ekonomi bagi masyarakat Gunungkidul, terutama ketika kebutuhan air bersih harus dipenuhi dengan membeli air tangki. Fajarwati et al. (2023), dalam penelitian terhadap perempuan kepala keluarga di Dusun Gunung Butak, mencatat bahwa harga air tangki saat penelitian mencapai Rp200.000 untuk 6.000 liter. Rumah tangga yang biasanya membeli dua tangki dalam setahun dapat mengeluarkan sekitar Rp400.000 per tahun. Setelah memperoleh layanan PDAM, penghematan pengeluaran rumah tangga dalam penelitian tersebut berkisar Rp160.000–Rp352.000 per tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa pilihan sumber air dapat memengaruhi pengeluaran keluarga.

Selain biaya, pencarian dan pengangkutan air juga dapat menyita waktu serta tenaga yang seharusnya digunakan untuk bekerja atau mengurus keluarga. Bagi petani dan peternak, keterbatasan air berpotensi mengganggu kegiatan produksi. Menurut saya, beban tersebut dapat lebih terasa bagi rumah tangga berpenghasilan rendah karena sebagian pendapatannya harus dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Dalam kondisi ini, kelangkaan air bukan hanya persoalan jumlah sumber daya yang tersedia, tetapi juga persoalan kemampuan masyarakat mengaksesnya dengan biaya terjangkau. Karena itu, akses air bersih berkaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat.

Menurut saya, penanganan krisis air di Gunungkidul seharusnya tidak hanya berfokus pada penyaluran bantuan air bersih ketika musim kemarau, tetapi juga pada pengelolaan sumber daya air untuk jangka panjang. Bantuan darurat memang diperlukan, tetapi tanpa perencanaan berkelanjutan, masyarakat berisiko terus menghadapi kesulitan air dan mengeluarkan biaya tambahan setiap tahun. Arida merekomendasikan konservasi melalui pembangunan embung, penampungan air, pemanenan air hujan, dan penghematan penggunaan air. Solusi tersebut dapat diperkuat melalui penelitian Nurdiansyah et al. (2025) di Desa Tepus, Gunungkidul. Penelitian itu menerapkan pemanenan air hujan berbasis partisipasi masyarakat melalui identifikasi kebutuhan, diskusi kelompok, pembangunan, pelatihan, dan evaluasi. Hasilnya menunjukkan peningkatan ketersediaan air rumah tangga serta dukungan terhadap ketahanan pangan lokal. Menurut saya, pendekatan serupa dapat dikembangkan sesuai kebutuhan setiap wilayah, disertai perbaikan distribusi air agar masyarakat di daerah yang sulit dijangkau tetap memperoleh pasokan. Pemerintah juga perlu memetakan kebutuhan air dan menyiapkan sarana penampungan sebelum musim kemarau. Edukasi penghematan air harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat dan pelaku usaha. Langkah-langkah tersebut penting agar penanganan krisis tidak berhenti pada bantuan sementara, tetapi mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pasokan air darurat dan mendukung pengelolaan sumber daya air yang lebih adil serta berkelanjutan.

Krisis air di Gunungkidul menunjukkan bahwa ketersediaan air tidak hanya berkaitan dengan kelestarian lingkungan, tetapi juga menentukan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Ketika air sulit diperoleh, masyarakat harus menghadapi biaya tambahan dan tantangan dalam menjalankan kegiatan ekonomi sehari-hari. Oleh karena itu, penanganan krisis air perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya melalui bantuan saat musim kemarau. Pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha perlu bekerja sama menjaga sumber air, menghemat penggunaannya, serta mengembangkan sarana penampungan dan distribusi air yang merata agar kebutuhan air dapat terpenuhi secara adil dan berkelanjutan.

Daftar Pustaka:

  1. Dewi, L. W. P., Sulastri, N. N., Ngadisih, & Sucipta, I. N. (2024). Kajian kerawanan bencana kekeringan di Kabupaten Gunungkidul di Yogyakarta, Indonesia. Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian), 12(1), 1–12. DOI: https://doi.org/10.24843/JBETA.2024.v12.i01.p01
  2. Arida, V. (2022). Konservasi Air Di Kabupaten Gunungkidul Provinsi Yogyakarta Untuk Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan. Community Development, 6(2), 95-105.
  3. Fajarwati, A., Sukamdi, S., Hizbaron, D. R., Listyaningsih, U., & Rachmadani, P (2023). Perspektif Time Geography terhadap Upaya Pemenuhan Kebutuhan Air Perempuan Kepala Keluarga Dusun Gunung Butak, Gunungkidul. Majalah Geografi Indonesia, 37(2), 147-157. DOI: https://doi.org/10.22146/mgi.79090
  4. Benito, O. J., Purwaningrat, A. W., Azzahra, N. Y., & Shahniar, S. T. (2023). Nilai manfaat ekonomi daerah aliran Sungai Oyo Kabupaten Gunungkidul. Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan (Journal of Environmental Sustainability Management), 96- 104. DOI: https://doi.org/10.36813/jplb.7.1.96-104
  5. Nurdiansyah, M. I., Ruslanjari, D., Jatmiko, R. H., Fajarian, N. A., & Silfani, S. (2025). Optimalisasi Pemanenan Air Hujan untuk Ketahanan Pangan dan Adaptasi Kekeringan di Desa Tepus, Gunungkidul. Jurnal Igakerta, 2(3), 18-28. DOI: https://doi.org/10.70234/3fgwe262

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.