Luka yang Tak Terlihat: Perundungan di Sekolah Dasar

Jangan biarkan alasan cuma bercanda menutupi luka akibat perundungan. Mari ajarkan anak menghargai teman dan menciptakan sekolah yang aman.

Pernahkah kita mendengar seorang anak dipanggil dengan julukan yang bukan namanya, lalu teman-temannya tertawa bersama? Ketika anak tersebut ikut tertawa, kita mungkin menganggap semuanya baik-baik saja. Namun, bagaimana jika tawanya hanya untuk menutupi rasa malu atau sakit hati?

Perundungan di lingkungan sekolah dasar
Diilustrasikan dengan ChatGPT

Di lingkungan sekolah dasar, mengejek nama, menertawakan kekurangan, atau memberikan julukan tertentu kepada teman sering dianggap sebagai hal biasa. Anak-anak mungkin hanya berniat bercanda tanpa menyadari bahwa perkataan mereka bisa menyakiti orang lain. Padahal, ketika candaan terus diulang meskipun teman yang menjadi sasaran merasa tidak nyaman, perilaku tersebut tidak bisa dianggap sepele.

Hal ini mengingatkan kita bahwa sekolah bukan hanya tempat anak belajar membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga tempat mereka belajar menghargai perasaan orang lain.

Ketika Candaan Berubah Menjadi Perundungan

Bercanda merupakan hal yang wajar dalam pergaulan anak-anak asalkan dilakukan dengan cara yang ramah dan membuat kedua belah pihak merasa nyaman. Namun, situasinya berbeda ketika candaan mulai digunakan untuk menyakiti seseorang.

UNICEF menjelaskan bahwa godaan dapat berubah menjadi perundungan ketika dilakukan dengan sengaja dan berulang kali, sambil menggunakan kekuasaan untuk mengendalikan atau melukai orang lain. Contohnya, seorang anak terus-menerus diejek dengan julukan tertentu meskipun sudah menunjukkan ketidaknyamanan. Teman-temannya mungkin menganggapnya lucu, sementara anak tersebut justru merasa malu atau tersisih.

Karena itu, alasan “cuma bercanda” tidak selalu berarti perilaku tersebut tidak bermasalah. Untuk mengenali perundungan, kita perlu memperhatikan pengulangan perilaku, maksud untuk menyakiti, dan ketimpangan kekuatan. Candaan seharusnya membuat semua orang merasa nyaman, bukan menjadikan seseorang sebagai bahan tertawaan.

Luka yang Tak Selalu Terlihat

Luka akibat perundungan tidak selalu terlihat secara fisik. Ejekan yang terus-menerus diterima seorang anak dapat memengaruhi kepercayaan dirinya. Anak tersebut mungkin merasa malu, takut bergaul, atau khawatir kembali menjadi bahan tertawaan teman-temannya.

Menurut UNICEF, dampak perundungan berbeda pada setiap anak, bergantung pada kondisi individu serta tingkat keparahan dan lamanya perundungan berlangsung. Dampaknya dapat berupa menurunnya rasa percaya diri, kesulitan berkonsentrasi, prestasi akademik yang buruk, hingga ketakutan bersosialisasi. Perundungan juga berpotensi berkaitan dengan masalah psikologis, seperti kecemasan dan depresi.

Perubahan perilaku, seperti anak yang menjadi lebih pendiam atau menjauh dari teman-temannya, patut diperhatikan meskipun tidak selalu menandakan perundungan. Guru dan orang tua perlu membangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman untuk menceritakan pengalamannya tanpa takut disalahkan.

Belajar Menghargai Perasaan Teman

Mencegah perundungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu menghargai perasaan orang lain. Anak-anak perlu memahami bahwa tidak semua candaan dapat diterima oleh setiap orang. Ketika teman merasa tidak nyaman atau meminta agar ejekan dihentikan, mereka perlu menghormatinya, bukan melanjutkan candaan dengan alasan hanya bercanda.

UNICEF menekankan pentingnya memberikan edukasi tentang perundungan dan membangun komunikasi terbuka agar anak berani menceritakan pengalaman yang dialami atau disaksikannya. Guru dapat membimbing siswa mengenali perilaku yang menyakiti teman, sedangkan orang tua dapat membiasakan anak bercerita tentang kegiatan dan perasaannya di sekolah.

Anak-anak juga bisa membantu mencegah perundungan dengan tidak ikut menertawakan ejekan, mengajak teman yang dikucilkan untuk bergabung, dan memberikan dukungan kepada teman yang diperlakukan tidak menyenangkan. Tindakan sederhana ini dapat membantu menciptakan lingkungan pertemanan yang lebih aman.

Pada akhirnya, sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi setiap anak untuk belajar, bermain, dan berteman tanpa takut direndahkan. Sebab, kata-kata yang dianggap sepele oleh seseorang bisa meninggalkan luka bagi orang lain. Jangan sampai alasan “hanya bercanda” membuat kita mengabaikan perasaan teman sendiri.

Daftar Referensi:

  • UNICEF. (n.d.). Bullying: What is it and how to stop it. https://www.unicef.org/parenting/child-care/bullying
  • UNICEF Egypt. (n.d.). Bullying. https://www.unicef.org/egypt/bullying

Penulis:

Efa Nurzazila merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia tertarik pada dunia pendidikan dasar dan isu-isu yang berkaitan dengan perkembangan karakter anak. Melalui tulisannya, ia berharap dapat mengajak pembaca untuk lebih peduli terhadap perundungan di sekolah dasar serta pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi setiap anak.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.