Perundungan atau bullying bukan sekadar tindakan mengejek atau memukul teman. Perundungan merupakan perilaku yang dilakukan secara sengaja dan berulang terhadap seseorang yang kesulitan membela dirinya. Bentuknya pun beragam, mulai dari tindakan fisik seperti memukul dan berkelahi, hingga tindakan nonfisik seperti mengejek, menghina, dan merendahkan orang lain.
Dalam kehidupan pelajar, perundungan bisa terjadi karena berbagai hal. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah lingkungan pertemanan. Tidak sedikit anak yang awalnya hanya melihat temannya melakukan perundungan, tetapi kemudian ikut melakukannya karena terbiasa berada di lingkungan tersebut.
Hal ini terlihat dalam penelitian terhadap empat pelajar berinisial AF, AS, MS, dan ET. Keempatnya diketahui melakukan perundungan dalam bentuk fisik maupun nonfisik, seperti berkelahi, memukul, memalak, mengejek, serta menghina nama orang tua dan suku. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa perundungan dapat muncul dalam berbagai bentuk dan dilakukan melalui tindakan maupun perkataan yang menyakiti orang lain.
Ketika Teman Sebaya Menjadi Pengaruh
Teman sebaya memiliki peran penting dalam kehidupan remaja. Keinginan untuk diterima dalam kelompok terkadang membuat seorang anak mengikuti perilaku teman-temannya, termasuk perilaku yang merugikan orang lain. Apalagi, remaja cenderung menghabiskan banyak waktu bersama teman di luar rumah sehingga lingkungan pergaulan dapat memengaruhi sikap dan perilakunya.
Pengaruh tersebut terlihat pada pengalaman AF. Awalnya, AF hanya diajak oleh kakak kelas dan teman-temannya untuk melihat tindakan perundungan, seperti memalak dan berkelahi. Namun, seiring waktu, AF mulai mencoba melakukan tindakan serupa hingga merasa nyaman melakukannya. Dari pengalaman ini, terlihat bahwa keterlibatan dalam lingkungan yang melakukan perundungan dapat membuat seseorang yang awalnya hanya menjadi penonton akhirnya ikut menjadi pelaku.
Hal serupa juga ditemukan dalam penelitian Hamdi (2017) dan Achmad (2017) mengenai pelaku perundungan di SMA Balangan, Banjarmasin. Salah satu pelaku mengaku melakukan perundungan karena mengikuti tiga temannya yang lebih dahulu melakukan tindakan tersebut. Pengalaman ini menunjukkan bahwa ajakan dan kebiasaan dalam kelompok pertemanan dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk melakukan perundungan (Rizal 2021).
Keluarga dan Lingkungan Sekitar Juga Berpengaruh
Selain teman sebaya, lingkungan keluarga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Dalam penelitian terhadap AF, diketahui bahwa kedua orang tuanya bekerja dari pagi hingga malam sehingga waktu bersama keluarga menjadi terbatas. AF pun lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, seperti berkumpul bersama teman, bermain gim, dan berolahraga.
Kondisi tersebut menggambarkan terbatasnya kesempatan AF untuk melakukan kegiatan bersama keluarga dan membangun kedekatan emosional. Meski demikian, kurangnya waktu bersama keluarga tidak serta-merta menjadi penyebab seorang anak melakukan perundungan. Pengaruh keluarga perlu dipahami bersama faktor lain yang ada dalam kehidupan anak.
Pola asuh orang tua juga menjadi salah satu aspek yang dibahas dalam memahami perilaku anak. Secara umum, pola asuh dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu otoriter, permisif, dan demokratis. Cara orang tua mendidik anak dapat menjadi bagian penting dalam pembentukan sikap dan perilakunya.
Tidak hanya keluarga dan teman, media massa juga dapat memberikan pengaruh. Tayangan yang menampilkan perkelahian, kebut-kebutan, caci maki, dan perilaku kasar berpotensi ditiru oleh anak atau remaja. Dalam penelitian tersebut, MS diketahui menyukai kelompok geng motor yang lekat dengan perilaku seperti berkelahi, kebut-kebutan di jalan, dan saling mencaci maki. Perilaku yang sering dilihat dapat menjadi contoh bagi anak apabila tidak disertai pemahaman yang tepat.
Memahami Penyebab Bukan Membenarkan Perundungan
Dari berbagai pengalaman tersebut, terlihat bahwa perilaku perundungan tidak bisa dilepaskan dari lingkungan tempat anak tumbuh dan bergaul. Teman sebaya, keluarga, pola asuh, dan media massa merupakan beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika menelusuri alasan anak melakukan perundungan.
Memahami faktor-faktor tersebut bukan berarti membenarkan tindakan pelaku. Perundungan tetap merupakan perilaku yang dapat menyakiti orang lain dan tidak boleh dianggap sebagai candaan biasa. Namun, dengan mengetahui hal-hal yang melatarbelakanginya, orang tua dan pihak sekolah dapat lebih memahami perilaku anak serta menentukan langkah penanganan yang tepat.
Anak perlu dibimbing untuk berani menolak ajakan yang merugikan orang lain, menghargai perbedaan, dan memahami dampak tindakannya. Di sisi lain, lingkungan keluarga dan sekolah juga perlu memberikan contoh perilaku yang baik. Dengan begitu, upaya mengatasi perundungan tidak hanya berfokus pada tindakan yang sudah terjadi, tetapi juga pada pembentukan lingkungan yang mendorong anak untuk saling menghormati.
Referensi:
- Rizal, Ridayanti Safitri. 2021. “Bentuk Dan Faktor Perundungan Pada Siswa SMP.” 9(1):129–36. doi:10.30872/psikoborneo.
Penulis:
Luthfia Amalia Mulyadi merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang memiliki ketertarikan pada dunia pendidikan, perkembangan anak, dan pembentukan karakter. Baginya, setiap perilaku anak memiliki cerita dan latar belakang yang perlu dipahami, bukan sekadar dinilai. Melalui artikel “Menelusuri Alasan Anak Menjadi Pelaku Perundungan”, ia mengajak pembaca melihat perundungan dari sudut pandang yang lebih mendalam, mulai dari faktor keluarga, lingkungan pertemanan, hingga pengaruh sosial. Ia berharap tulisan ini dapat menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya empati, kepedulian, dan pendampingan yang tepat agar anak mampu membangun hubungan sosial yang sehat serta menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua.