Energi Bersih, Lingkungan Terjaga: Menimbang Rencana Geotermal di Kawasan Gunung Rinjani

Bisakah geothermal di Gunung Rinjani mendukung transisi energi tanpa mengancam lingkungan? Yuk simak pentingnya kajian ilmiah dan perlindungan warga.

Peralihan menuju energi yang lebih bersih merupakan kebutuhan penting di tengah upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Namun, pembangunan energi terbarukan tetap harus mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat di sekitar lokasi. Perdebatan mengenai wacana pemanfaatan panas bumi atau geothermal di kawasan Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), menunjukkan bahwa tujuan menyediakan energi tidak dapat dipisahkan dari kewajiban menjaga sumber daya alam. Menurut saya, keputusan mengenai proyek ini harus didasarkan pada kajian yang terbuka, manfaat ekonomi yang jelas, dan perlindungan lingkungan yang kuat.

Energi Bersih
Diilustrasikan dengan ChatGPT

Pada awal Oktober 2026, masyarakat di sekitar Gunung Rinjani menyampaikan penolakan terhadap wacana pembangunan pembangkit listrik panas bumi. Warga mengkhawatirkan potensi gangguan terhadap ekosistem dan ketersediaan air. Pemberitaan detikBali pada 4 Oktober 2026 menyebutkan bahwa puluhan warga menandatangani petisi penolakan. Di sisi lain, pemerintah daerah melalui Dinas ESDM NTB menegaskan bahwa pembangunan geothermal di kawasan Rinjani belum dipastikan. Potensi sumber panas bumi di suatu wilayah tidak otomatis berarti proyek akan dilaksanakan. Karena itu, pembahasan ini perlu dilihat sebagai perdebatan tentang rencana, bukan sebagai bukti bahwa pembangunan telah berlangsung atau kerusakan telah terjadi.

Dari sudut pandang ekonomi lingkungan, manfaat suatu proyek tidak cukup dinilai dari jumlah listrik yang dapat dihasilkan atau investasi yang masuk. Perhitungan ekonomi juga perlu memasukkan biaya yang mungkin timbul bagi masyarakat dan lingkungan. Jika kegiatan pembangunan mengganggu sumber air, lahan pertanian, atau ekosistem yang menopang pariwisata, masyarakat dapat menghadapi biaya tambahan dan kehilangan pendapatan. Dampak seperti ini disebut biaya eksternal, yaitu biaya yang tidak selalu tercermin dalam harga listrik atau perhitungan keuntungan proyek, tetapi dapat ditanggung oleh pihak lain.

Kawasan Rinjani memiliki fungsi penting sebagai penyangga sumber air bagi Pulau Lombok. Oleh karena itu, kekhawatiran warga mengenai air layak ditanggapi melalui pemeriksaan ilmiah, bukan diabaikan ataupun langsung dianggap sebagai bukti bahwa pencemaran pasti terjadi. Kajian perlu menjelaskan kebutuhan air proyek, kondisi sumber air sebelum pembangunan, potensi dampak terhadap daerah tangkapan air, serta langkah pencegahan dan pemulihan jika terjadi gangguan. Informasi tersebut harus dapat diakses masyarakat agar keputusan tidak hanya didasarkan pada janji manfaat ekonomi atau kekhawatiran yang belum diuji.

Di sisi lain, panas bumi berpotensi menjadi sumber listrik dengan emisi operasional yang relatif rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil. Pengembangan energi juga dapat membuka pekerjaan dan mendukung pasokan listrik. Manfaat ini penting untuk dipertimbangkan. Akan tetapi, label energi bersih tidak berarti suatu proyek bebas risiko di setiap lokasi. Lokasi, teknologi, skala pembangunan, dan kondisi ekosistem sangat menentukan besarnya dampak. Maka, kebijakan yang baik bukan sekadar menerima atau menolak teknologi secara umum, melainkan menilai apakah proyek tertentu layak secara teknis, sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Pemerintah sebaiknya melakukan kajian lingkungan yang transparan dan melibatkan masyarakat sejak tahap awal. Kajian itu perlu memuat data dasar tentang kualitas dan ketersediaan air, kondisi hutan, mata pencaharian warga, serta kemungkinan dampak terhadap pertanian dan pariwisata. Hasil kajian harus disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, disertai kesempatan bagi warga, akademisi, dan organisasi lingkungan untuk memberikan masukan. Jika risiko tidak dapat dicegah atau dikendalikan secara memadai, pemerintah perlu mempertimbangkan perubahan lokasi, desain, atau pilihan energi lain.

Alternatif energi juga patut dibandingkan secara adil. NTB memiliki potensi tenaga surya, angin, dan air, sebagaimana disampaikan dalam pemberitaan mengenai perdebatan geothermal Rinjani. Setiap pilihan mempunyai kebutuhan lahan, biaya, keandalan pasokan, dan dampak lingkungan yang berbeda. Karena itu, pemerintah perlu membandingkan biaya sepanjang umur proyek, bukan hanya biaya awal. Partisipasi warga juga harus bermakna: masyarakat perlu mengetahui siapa yang memperoleh manfaat, bagaimana risiko ditangani, dan mekanisme apa yang tersedia jika mereka mengalami kerugian.

Wacana geothermal di kawasan Gunung Rinjani memperlihatkan bahwa transisi energi harus berjalan bersama perlindungan lingkungan dan kepentingan masyarakat. Manfaat listrik dan investasi perlu ditimbang dengan biaya sosial serta ekologis yang mungkin muncul. Sampai ada kepastian proyek dan kajian yang memadai, tidak tepat menyatakan bahwa pembangunan pasti dilakukan ataupun bahwa kerusakan pasti terjadi. Pemerintah perlu membuka informasi, menguji risiko secara independen, membandingkan alternatif, dan melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan. Energi yang benar-benar berkelanjutan bukan hanya menghasilkan listrik yang lebih bersih, tetapi juga menjaga sumber air, ekosistem, dan penghidupan warga untuk jangka panjang.

Daftar Referensi:

  1. detikBali, 4 Oktober 2026 — Warga Tolak Rencana Proyek Energi Panas Bumi di Kawasan Gunung Rinjani. https://www.detik.com/bali/nusra/d-8691963/warga-tolak-rencana-proyek-energi-panas-bumi-di-kawasan-gunung-rinjani
  2. Rinjani Mengemuka, Dinas ESDM NTB Sebut Belum Pasti. https://lombokpost.jawapos.com/ntb/2610070030/wacana-pemanfaatan-geothermal-rinjani-mengemuka-dinas-esdm-ntb-sebut-belum-pasti
  3. Inside Lombok, 5 Oktober 2026 — Warga Lingkar Rinjani Khawatir Geothermal Picu Krisis Air. https://insidelombok.id/lombok-timur/warga-lingkar-rinjani-khawatir-geothermal-picu-krisis-air-tolak-rencana-pemanfaatan-panas-bumi/

Penulis:

Salsabila Dhea Ardian, mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi angkatan 2024 di Universitas Sebelas Maret. Ia memiliki ketertarikan pada isu-isu pendidikan, ekonomi, dan sosial yang berkembang di masyarakat. Melalui tulisan opini, ia ingin menyampaikan gagasan, mengembangkan pemikiran kritis, serta berbagi pandangan terhadap berbagai persoalan aktual yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.