Pengaruh Media Sosial terhadap Kesehatan Mental Siswa SD/MI di Era Digital

Bagaimana media sosial memengaruhi anak SD/MI? Yuk pelajari risikonya dan temukan cara bagi orang tua serta guru untuk mendampingi anak.

Oleh Ghea Febrian

Media sosial bisa menjadi tempat anak belajar dan berkreativitas. Namun, tanpa pendampingan yang tepat, dunia digital juga bisa membuat anak merasa minder, takut, bahkan kehilangan rasa percaya diri.

Anak Bermain Media Sosial

Pernah nggak sih, melihat anak SD yang sudah asyik bermain media sosial, menonton video pendek, atau mengikuti tren yang sedang ramai? Di zaman sekarang, hal seperti ini bukan sesuatu yang asing lagi. Internet sudah dekat dengan kehidupan anak-anak, termasuk siswa Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI). Namun, apakah mereka sudah siap menghadapi berbagai hal yang ada di dunia digital?

Media sosial sebenarnya punya banyak manfaat. Anak bisa mendapatkan informasi baru, menonton video edukasi, mengenal budaya dari berbagai daerah, bahkan menemukan inspirasi untuk membuat karya. Sayangnya, penggunaan media sosial yang kurang bijak juga bisa membawa pengaruh terhadap perasaan dan perilaku anak.

Media Sosial Bikin Kreatif atau Malah Bikin Minder?

Bayangkan seorang siswa yang sering melihat teman-temannya mendapatkan banyak pujian di media sosial. Lama-kelamaan, ia mungkin mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia merasa kurang pintar, kurang menarik, atau tidak sehebat teman-temannya. Padahal, apa yang terlihat di media sosial belum tentu menggambarkan kehidupan seseorang secara keseluruhan.

Pada usia sekolah dasar, anak masih belajar mengenali dirinya sendiri dan memahami perasaannya. Karena itu, komentar negatif, ejekan di internet, dan kebiasaan membandingkan diri dapat menjadi pengalaman yang sulit dihadapi. Anak mungkin menjadi lebih pendiam, kehilangan rasa percaya diri, atau takut bergaul dengan teman-temannya.

Laporan UNICEF Indonesia berjudul Pengetahuan dan Kebiasaan Daring Anak di Indonesia: Sebuah Kajian Dasar 2023, yang diterbitkan pada 2025, menunjukkan bahwa anak-anak menghadapi berbagai risiko di internet, termasuk perundungan siber dan paparan konten yang tidak sesuai. Laporan tersebut juga menemukan bahwa 42% anak yang diteliti merasa tidak nyaman atau takut akibat pengalaman mereka di dunia daring. Temuan ini menunjukkan bahwa keamanan anak di internet perlu mendapat perhatian serius.

Meski begitu, bukan berarti media sosial harus langsung dilarang sepenuhnya. Jika digunakan dengan bijak, media sosial bisa menjadi sarana belajar yang menarik. Anak dapat menonton eksperimen sederhana, mencari inspirasi menggambar, atau mempelajari materi sekolah melalui video edukasi. Jadi, persoalannya bukan hanya boleh atau tidak boleh menggunakan media sosial, tetapi juga bagaimana anak menggunakannya.

Peran Orang Tua dan Guru Itu Penting

Anak-anak tidak seharusnya menghadapi persoalan dunia digital sendirian. Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa nyaman bercerita ketika mengalami hal yang membuatnya takut atau sedih di internet.

Daripada hanya memarahi anak saat terlalu lama bermain ponsel, orang tua bisa mengajak anak membuat kesepakatan waktu penggunaan gawai. Anak juga perlu diajarkan untuk menjaga informasi pribadi, berhati-hati terhadap orang asing di internet, dan meminta bantuan orang dewasa ketika mengalami perundungan.

Di sekolah, guru dapat mengajak siswa berdiskusi tentang cara menghadapi komentar negatif, menghargai perbedaan, dan menggunakan internet secara bertanggung jawab. Dengan begitu, anak tidak hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga belajar memahami perasaan diri sendiri dan orang lain.

Belajar Bijak Bermedia Sosial Lewat STEAM

Salah satu cara menarik untuk mengenalkan penggunaan media sosial yang sehat adalah melalui pembelajaran berbasis STEAM, yaitu Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics. Menurut Safitri (2022), pendekatan STEAM dapat mendukung pengembangan keterampilan abad ke-21 siswa sekolah dasar, seperti kreativitas, berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi.

Contohnya, guru dapat mengajak siswa membuat poster digital bertema “Bijak Bermedia Sosial”. Siswa mencari informasi tentang keamanan internet, berdiskusi dalam kelompok, menyusun pesan yang mudah dipahami, lalu membuat desain poster sederhana. Kegiatan ini melatih kreativitas sekaligus mengajak siswa memahami pentingnya menjaga diri saat menggunakan media sosial.

Kegiatan tersebut memang bukan solusi tunggal untuk masalah kesehatan mental. Namun, pembelajaran seperti ini bisa menjadi salah satu cara mengenalkan kesadaran digital sejak dini. Siswa juga dapat belajar menyampaikan pendapat tanpa merendahkan orang lain.

Pada akhirnya, media sosial bukan sepenuhnya baik atau buruk. Dampaknya bergantung pada cara penggunaan, pengalaman yang ditemui anak, dan dukungan orang-orang di sekitarnya. Anak SD/MI perlu dibekali kemampuan untuk memilih konten, menjaga privasi, mengelola perasaan, dan meminta pertolongan ketika mengalami masalah.

Jangan sampai anak-anak mahir menggunakan teknologi, tetapi belum memahami cara melindungi dirinya sendiri. Sebab, mendidik anak di era digital bukan hanya tentang membuat mereka pintar menggunakan gawai, melainkan juga membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, peduli terhadap orang lain, dan sehat secara emosional.

Referensi:

  1. Mulawarman, & Nurfitri, A. D. (2017). Perilaku pengguna media sosial beserta implikasinya ditinjau dari perspektif psikologi sosial terapan. Buletin Psikologi, 25(1), 36–44.
  2. Safitri, N. A. (2022). The STEAM approach to improve 21st century skills in elementary schools. Kalam Cendekia: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 10(2), 227–233.
  3. UNICEF Indonesia. (2025). Pengetahuan dan kebiasaan daring anak di Indonesia: Sebuah kajian dasar 2023.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.