Pentingnya Mengajarkan Empati pada Siswa MI/SD dalam Mencegah Bullying Terjadi

Jangan anggap bullying sebagai candaan biasa! Simak dampaknya dan tumbuhkan empati bersama guru serta orang tua untuk menciptakan sekolah yang aman.

Tanpa disadari sebenarnya banyak yang berawal hanyalah dari sebuah tawa akan tetapi justru hal itulah tanpa kita ketahui yang membuat seseorang diam diam ternyata merasakan adanya luka kecil di lubuk hatinya.

Bullying

Bayangkan terdapat seorang siswa yang setiap hari mendapat julukan karena bentuk tubuhnya. Teman-temannya tertawa, sedangkan guru yang melihat kejadian tersebut hanya tersenyum. Bagi mereka, hal itu mungkin sekadar candaan. Namun, bagi anak yang mengalaminya, ejekan tersebut dapat menimbulkan rasa malu dan perasaan tidak diterima.

Perundungan atau bullying tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Ejekan, julukan yang merendahkan, dan pengucilan juga perlu diperhatikan. Olweus (1993) menjelaskan bahwa bullying ditandai oleh perilaku agresif yang berulang serta ketimpangan kekuatan antara pelaku dan korban. Oleh karena itu, alasan “cuma bercanda” tidak dapat membenarkan tindakan yang menyakiti orang lain.

Sikap diam orang dewasa dan teman sekelas juga dapat membuat ejekan terasa wajar. Ketika tidak ada yang menegur, pelaku merasa perbuatannya diterima, sedangkan korban merasa sendirian. Karena itu, perundungan bukan hanya persoalan antara dua anak, melainkan persoalan budaya yang dibangun bersama di dalam kelas.

Dampak dari Bullying dan Pentingnya Empati

Laporan PISA 2018 menunjukkan bahwa sekitar 41% siswa Indonesia berusia 15 tahun melaporkan mengalami perundungan setidaknya beberapa kali dalam sebulan, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 23% (OECD, 2019). Data tersebut menunjukkan pentingnya pencegahan bullying di sekolah.

Dampaknya dapat memengaruhi kondisi psikologis dan proses belajar anak. Moore et al. (2017) menemukan hubungan antara pengalaman menjadi korban bullying dan meningkatnya risiko masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan dan depresi. Anak juga dapat menjadi pendiam, kehilangan semangat belajar, atau sulit berkonsentrasi.

Salah satu upaya pencegahannya adalah menumbuhkan empati. Anak perlu belajar memahami perasaan orang lain agar tidak menganggap penderitaan temannya sebagai hiburan. Borba (2016) menekankan pentingnya empati dalam pembentukan karakter anak.

Empati dapat dimulai dari hal sederhana, misalnya membiasakan anak bertanya pada dirinya sendiri, “Bagaimana perasaanku jika diperlakukan seperti itu?” Pertanyaan tersebut melatih anak berhenti sejenak sebelum berbicara atau bertindak. Dari kebiasaan kecil inilah kepekaan sosial tumbuh dan memengaruhi cara anak memperlakukan temannya.

Guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman. Peran ini penting karena guru adalah orang dewasa yang paling sering hadir dalam keseharian anak di sekolah, sehingga sikap dan tanggapannya mudah ditiru oleh siswa.

Berikut beberapa langkah nyata yang dapat dilakukan:

Pertama, memberikan teladan. Guru perlu menggunakan bahasa yang santun, menghargai perbedaan, dan tidak menjadikan kekurangan siswa sebagai bahan tertawaan.

Kedua, menghentikan ejekan. Guru harus segera menegur perilaku yang merendahkan teman secara tegas dan tenang. Korban perlu dilindungi, sedangkan pelaku dibina tanpa dipermalukan di depan kelas.

Ketiga, melatih empati. Cerita, diskusi, dan bermain peran dapat membantu siswa memahami perasaan orang lain. Goleman (1995) menempatkan empati sebagai salah satu unsur penting dalam kecerdasan emosional.

Keempat, menyediakan ruang aman untuk melapor. Siswa harus mengetahui kepada siapa mereka dapat meminta bantuan ketika mengalami atau menyaksikan perundungan. Sekolah juga perlu memiliki mekanisme penanganan yang jelas.

Selain itu, guru tidak dapat bekerja sendirian. Komunikasi yang baik dengan orang tua sangat dibutuhkan agar pesan tentang saling menghargai terdengar sama di sekolah maupun di rumah. Ketika guru dan orang tua sejalan, anak mendapat contoh yang konsisten tentang cara bersikap kepada orang lain.

Upaya tersebut sejalan dengan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, yang menekankan pentingnya perlindungan serta kesejahteraan warga sekolah.

Membangun Sekolah yang Aman

Pencegahan bullying tidak cukup dilakukan melalui hukuman setelah kejadian. Sekolah perlu membiasakan sikap saling menghargai melalui pembelajaran dan kegiatan sehari-hari. Pada jenjang SD/MI, guru dapat mengintegrasikan pendidikan empati melalui kerja kelompok, pembiasaan sikap santun, dan refleksi pembelajaran.

Contohnya, guru dapat mengawali hari dengan percakapan singkat tentang perasaan siswa, atau menutup pelajaran dengan meminta setiap anak menyebutkan satu hal baik yang dilakukan temannya. Kegiatan sederhana ini tidak memakan banyak waktu, tetapi membantu siswa terbiasa memperhatikan orang lain dan merasa dihargai.

Candaan seharusnya menghadirkan kebahagiaan, bukan membuat seseorang merasa rendah diri. Keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur melalui nilai akademik, tetapi juga melalui kemampuan anak menghargai sesama. Melalui keteladanan dan pembiasaan yang konsisten, guru dapat membantu menciptakan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.

Daftar Pustaka:

  1. Borba, M. (2016). UnSelfie: Why empathetic kids succeed in our all-about-me world. Touchstone.
  2. Goleman, D. (1995). Emotional intelligence. Bantam Books.
  3. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. (2026). Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. https://peraturan.bpk.go.id/Details/345185/permendikdasmen-no-6-tahun-2026
  4. OECD. (2019). PISA 2018 results (Volume III): What school life means for students’ lives. OECD Publishing.
  5. Olweus, D. (1993). Bullying at school: What we know and what we can do. Blackwell.

Penulis:

Zakia Khairunnisa | Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah & Keguruan, Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.