Dunia sekolah dasar bagi seorang anak idealnya penuh dengan momen seru bermain bersama teman, mengeksplorasi hal-hal baru, dan menemukan minat mereka. Masa-masa ini menjadi fondasi awal bagi pembentukan karakter dan rasa percaya diri anak. Sayangnya, tidak semua anak merasakan pengalaman manis ini. Bagi sebagian anak, melangkahkan kaki ke sekolah justru menjadi hal yang amat menakutkan karena proses belajar terasa seperti siksaan harian.
Anak-anak yang menghadapi hambatan belajar seperti lambat membaca, sulit memahami hitungan dasar, atau susah fokus sering kali harus menanggung beban mental yang terlalu berat untuk usia mereka. Ketika materi di kelas bergerak terlalu cepat, tuntutan kurikulum makin padat, dan ekspektasi di rumah terlalu tinggi, anak perlahan merasa tertinggal sendirian. Kalau situasi ini didiamkan terus-menerus tanpa ada pemahaman dari lingkungan sekitar, dampaknya bukan cuma soal nilai rapor yang merah, melainkan juga kesehatan mental anak yang perlahan runtuh.
Tekanan yang Dirasakan Anak dan Dampak Psikologisnya
Anak SD yang kesulitan mengejar pelajaran sering kali terjebak dalam situasi yang sangat tidak menyenangkan. Karena tidak bisa menyerap pelajaran secepat teman-temannya, mereka rentan mendapat respons negatif dari lingkungan sekitar. Tanpa disadari, label seperti "anak malas", "bodoh", atau "lamban" kerap menempel pada diri mereka, baik dari teman sekelas maupun dari guru dan orang tua yang belum memahami kondisi sebenarnya.
Pengalaman pahit dan tekanan yang dirasakan secara terus-menerus ini tentu meninggalkan bekas mendalam pada kondisi emosional anak. Beberapa dampak psikologis yang sering muncul antara lain:
- Rasa Cemas Berlebihan saat Sekolah: Anak menjadi mudah gugup, cemas, bahkan stres setiap kali ada tugas kelompok, ujian, atau sekadar saat namanya dipanggil guru untuk berdiri di depan kelas.
- Kehilangan Rasa Percaya Diri: Karena selalu merasa tertinggal, anak mulai membandingkan dirinya dengan teman-teman lain. Mereka mulai percaya bahwa dirinya memang tidak sepintar yang lain dan akhirnya memilih untuk berhenti berusaha sama sekali.
- Perubahan Sikap dan Emosi: Stres yang tertumpuk biasanya meluap lewat perubahan perilaku harian. Ada anak yang jadi sangat pemalu dan menarik diri dari pergaulan, namun ada juga yang menjadi gampang marah, reaktif, atau sering tantrum di rumah tanpa alasan yang jelas.
Langkah Nyata Menjaga Kesehatan Mental Anak
Merawat mental anak yang punya hambatan belajar bukanlah hal yang mustahil, tetapi butuh kesabaran ekstra dan kepedulian dari orang-orang terdekatnya. Guru dan orang tua bisa saling bergandengan tangan melakukan beberapa pendekatan konkret ini:
- Fokus pada Proses, Bukan Cuma Nilai: Sudah saatnya kita tidak lagi menilai kemampuan anak hanya dari angka di atas kertas. Berikan pujian yang tulus pada usaha keras dan keberanian mereka untuk terus mencoba, sekecil apa pun kemajuannya.
- Pahami Cara Belajar Anak: Setiap anak menyerap informasi dengan cara yang unik. Ada yang lebih cepat paham lewat gambar, ada yang lewat mendengarkan cerita, dan ada pula yang harus mempraktikkannya langsung. Tugas kita adalah menemukan metode yang cocok untuk mereka.
- Ciptakan Suasana yang Aman dan Nyaman: Anak perlu merasa aman untuk bertanya dan berbuat salah tanpa takut dimarahi, diejek, atau dibanding-bandingkan dengan saudaranya maupun teman sekelasnya.
- Jalin Komunikasi yang Jujur dan Terbuka: Guru dan orang tua harus sering berdiskusi untuk memantau perkembangan emosi anak, bukan hanya sibuk melaporkan tugas-tugas sekolah yang belum selesai dikerjakan.
Nilai pelajaran di sekolah bisa diperbaiki kapan saja, tetapi kesehatan emosional dan kenangan masa kecil anak tidak bisa diulang kembali. Ketika kita lebih dulu merawat mental mereka, belajar tidak akan lagi terasa sebagai beban yang menakutkan, melainkan sebuah proses tumbuh kembang yang menyenangkan dan bermakna.
Daftar Pustaka:
- Abdurrahman, S., & Kibtiyah, A. (2021). Strategi Mengatasi Masalah Kesulitan Belajar Siswa Dengan Memahami Gaya Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan Tambusai, 5(3), 6444–6454.
- Kibtiyah, A., Gunadi, I., & Umam, K. (2023). Kesehatan mental dan prestasi belajar siswa sekolah dasar. Al-Adawat: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 2(1), 12–22.
- Latifah, S. (2017). Dampak Kesulitan Belajar Menulis pada Aspek Sosial-Emosi Siswa Kelas 2 di SD Muhammadiyah Bodon, Bantul. Jurnal Widia Ortodidaktika, 6(6), 573–582.
- Restuina, C., Anugrahana, A., & Mayasari, E. D. (2022). Analisis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Materi Penjumlahan dan Pengurangan Mata Pelajaran Matematika. Jurnal Curere, 6(2), 18–24.
Penulis:
Syifa Fatma Khairani | Mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah & Keguruan, Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.