Setiap Anak Punya Cara Belajarnya Masing-Masing

Guru madrasah bisa membantu murid belajar lebih efektif tanpa alat mahal. Yuk simak gaya belajar anak dan terapkan metode mengajar yang lebih beragam.

Bayangkan sebuah kelas tiga madrasah ibtidaiyah. Guru menjelaskan perkalian di papan tulis, dan banyak murid langsung mengangguk paham. Tapi di bangku belakang, ada satu anak yang menunduk dan diam-diam menghitung pakai jari di bawah meja. Beberapa minggu kemudian, ia dicap “lambat”. Padahal belum tentu begitu. Bisa jadi ia cuma belum ketemu cara belajar yang cocok.

Belajar di Sekolah

Kejadian seperti ini sering kita lihat. Satu guru, tiga puluhan murid, satu cara mengajar. Semua anak diminta duduk rapi, mendengarkan, lalu mengerjakan soal yang sama di waktu yang sama. Anak yang cocok dengan pola itu tampak pintar, sedangkan yang tidak cocok dianggap bermasalah. Padahal, kesulitan belajar belum tentu berarti kemampuan rendah.

Setiap anak punya cara sendiri dalam menerima, mengolah, dan mengingat informasi. Itulah yang disebut gaya belajar (Yani, 2023). Ada tiga yang paling umum: visual, auditori, dan kinestetik. Anak visual lebih mudah paham lewat gambar dan warna. Anak auditori lebih mudah lewat penjelasan, cerita, dan diskusi. Anak kinestetik butuh bergerak dan memegang benda langsung. Ini sesuai dengan sifat anak SD yang suka bermain, aktif bergerak, senang kerja kelompok, dan suka pengalaman langsung.

Penelitian di salah satu sekolah menunjukkan bahwa murid di sana punya gaya belajar yang berbeda-beda, dan satu anak bisa punya lebih dari satu gaya. Para ahli memang masih berdebat apakah gaya belajar boleh dikotak-kotakkan secara kaku. Tapi satu hal cukup jelas: anak yang diberi banyak jalan untuk memahami materi biasanya lebih mudah menangkapnya. Yang perlu dijaga adalah keberagaman caranya, bukan pemberian label.

Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap perbedaan sebagai kekurangan. Anak yang susah membaca disebut malas, anak yang tidak bisa diam disebut nakal. Label seperti ini lebih berbahaya daripada kesulitannya sendiri, karena lama-lama anak ikut percaya. Ia berhenti mencoba karena merasa memang tidak bisa.

Lalu, apa yang bisa dilakukan guru, apalagi di madrasah yang sarananya terbatas? Pertama, kenali murid lewat pengamatan di kelas, survei sederhana, atau tes gaya belajar. Catat kapan anak semangat dan kapan ia menyerah. Kedua, ajarkan satu materi lewat beberapa cara: peragaan dengan benda di sekitar, gambar, permainan, dan diskusi kecil. Pecahan, misalnya, bisa dikenalkan dengan melipat kertas atau membelah kue. Ketiga, beri ruang untuk salah tanpa membuat anak malu. Keempat, ajak orang tua terlibat supaya belajar di rumah sejalan dengan di sekolah. Semua ini tidak butuh alat mahal, cukup kemauan memperhatikan anak satu per satu.

Tentu, ini bukan tugas guru sendirian. Kurikulum Merdeka sudah mendorong pembelajaran berdiferensiasi, tapi butuh dukungan nyata, seperti jumlah murid per kelas yang wajar, pelatihan guru yang berkelanjutan, dan kepala madrasah yang memberi ruang untuk mencoba.

Kembali ke anak di bangku belakang tadi. Mungkin ia akan paham perkalian kalau diajak menyusun kelereng. Mungkin juga tidak, dan kita baru tahu setelah mencobanya. Tugas guru bukan memastikan semua anak cocok dengan cara mengajarnya, tapi mencari cara mengajar yang cocok untuk murid-muridnya. Sebab, yang sering terjadi bukanlah anak yang gagal belajar, melainkan cara belajar yang belum ketemu.

Daftar Pustaka:

  • Fadhila, A., Agusdianita, N., & Desri, D. (2024). Tinjauan Pustaka: Gaya Belajar Siswa Sekolah Dasar. Dalam Studi Sosial, Humaniora, dan Pendidikan (SHES): Seri Konferensi (Vol. 7, No. 3).

Penulis:

Dini Srikandi Jumarnis Siregar | Mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah & Keguruan, Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.