Siswa Aktif di Media Sosial, tetapi Lumpuh Menulis Efektif: Salah Siapa?

Siapa yang bertanggung jawab ketika siswa aktif di media sosial tetapi kesulitan menulis? Yuk kaji peran siswa, guru, sekolah, dan orang tua.

Di era digital saat ini, perkembangan teknologi berlangsung begitu cepat dan hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Arus informasi bergerak dengan sangat cepat melalui berbagai perangkat, terutama telepon pintar atau smartphone. Penggunaannya pun tidak terbatas pada orang dewasa, tetapi telah menjangkau remaja bahkan anak-anak. Media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, dan berbagai platform lainnya menjadi bagian dari kehidupan generasi muda. Melalui media sosial, siswa dapat berkomunikasi, memperoleh informasi, mencari hiburan, bahkan menunjukkan kreativitasnya.

Siswa Aktif di Media Sosial

Namun, di balik kemudahan tersebut muncul sebuah persoalan yang menarik untuk dipertanyakan: mengapa siswa yang begitu aktif menggunakan media sosial justru sering mengalami kesulitan ketika diminta menulis secara efektif? Mereka mampu membuat unggahan, memberikan komentar, membuat video, atau mengikuti berbagai tren di media sosial, tetapi ketika berhadapan dengan tugas menulis esai, artikel, laporan, atau opini, tidak sedikit yang merasa kesulitan menuangkan gagasan secara runtut. Dari sinilah muncul pertanyaan: salah siapa?

Persoalan ini sebenarnya tidak tepat jika hanya dibebankan kepada siswa. Siswa memang memiliki tanggung jawab untuk belajar dan mengembangkan kemampuan literasinya. Akan tetapi, lingkungan digital, keluarga, sekolah, guru, dan pola pembelajaran juga memiliki peran yang besar. Dengan demikian, masalah rendahnya kemampuan menulis efektif seharusnya dipahami sebagai persoalan bersama.

Media sosial pada dasarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk bagi siswa. Justru media sosial dapat menjadi ruang belajar dan ruang kreativitas apabila digunakan dengan tepat. Henry Jenkins, seorang akademisi yang banyak membahas budaya media dan literasi, memperkenalkan konsep participatory culture atau budaya partisipatif. Dalam budaya ini, pengguna media tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga dapat menjadi pembuat dan penyebar konten.

Jenkins menekankan bahwa literasi di era media baru tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis secara konvensional, tetapi juga kemampuan berpartisipasi, berkomunikasi, menciptakan, dan memahami media secara kritis.

Artinya, ketika seorang siswa aktif membuat konten di TikTok, menulis komentar di Instagram, atau membagikan informasi di media sosial, sebenarnya ia sedang melakukan aktivitas literasi dalam bentuk tertentu. Masalahnya adalah aktivitas tersebut belum tentu melatih kemampuan menulis akademik atau menulis efektif. Bahasa yang digunakan di media sosial biasanya singkat, spontan, tidak formal, dan terkadang mengabaikan struktur kalimat maupun kaidah bahasa. Kebiasaan tersebut dapat terbawa ketika siswa harus menulis dalam konteks pendidikan.

Di sinilah perbedaan antara aktif menggunakan media dan melek literasi digital menjadi penting. UNESCO menjelaskan bahwa Media and Information Literacy tidak hanya berarti mampu mengakses teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan menemukan, mengevaluasi, memahami, menggunakan, dan menghasilkan informasi secara kritis dan bertanggung jawab.

Dengan demikian, siswa yang mampu mengoperasikan berbagai aplikasi media sosial belum tentu memiliki literasi digital yang baik. Kemampuan mengedit video, mendapatkan banyak likes, atau mengikuti tren bukanlah satu-satunya ukuran literasi. Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, memeriksa kebenarannya, mengolah gagasan, kemudian menyampaikannya secara jelas kepada orang lain.

Persoalan lain terletak pada kebiasaan siswa dalam mengonsumsi informasi. Media sosial menyediakan informasi dalam bentuk yang sangat cepat dan pendek. Sebuah video dapat menyampaikan pesan hanya dalam beberapa detik. Sebuah unggahan dapat diringkas menjadi beberapa kalimat. Akibatnya, siswa terbiasa menerima informasi secara instan. Ketika mereka diminta membaca teks panjang dan kemudian mengolahnya menjadi tulisan, proses tersebut terasa lebih berat.

Padahal, menulis membutuhkan proses berpikir yang tidak sederhana. Carl Bereiter dan Marlene Scardamalia menjelaskan bahwa penulis pemula cenderung menggunakan strategi knowledge-telling, yaitu sekadar menuangkan apa yang diketahui ke dalam tulisan. Sebaliknya, penulis yang lebih terampil melakukan proses knowledge-transforming, yaitu mengolah, menghubungkan, mengevaluasi, dan memperbaiki pengetahuan sebelum menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Teori tersebut membantu menjelaskan mengapa siswa bisa mengetahui banyak hal tetapi belum tentu mampu menuliskannya dengan baik. Mereka mungkin memiliki banyak informasi yang diperoleh dari media sosial, tetapi informasi tersebut masih berupa potongan-potongan pengetahuan. Ketika diminta menulis opini, mereka harus menentukan gagasan utama, menyusun argumen, memberikan contoh, menghubungkan satu gagasan dengan gagasan lainnya, serta menarik kesimpulan. Kemampuan seperti ini tidak terbentuk hanya dengan sering menggunakan media sosial.

Karena itu, sekolah mempunyai tanggung jawab penting. Guru tidak seharusnya hanya melarang siswa menggunakan media sosial, tetapi perlu mengubah media sosial menjadi bagian dari proses pembelajaran. Misalnya, siswa dapat diminta menganalisis sebuah konten TikTok, memeriksa kebenaran informasi di dalamnya, kemudian menulis tanggapan berdasarkan sumber yang terpercaya. Dengan cara tersebut, kebiasaan siswa menggunakan media sosial dapat diarahkan menjadi kegiatan literasi yang produktif.

Pembelajaran menulis juga tidak seharusnya hanya berorientasi pada nilai. Siswa perlu diberi kesempatan untuk menulis secara rutin, mendapatkan umpan balik, melakukan revisi, dan memahami mengapa sebuah tulisan dianggap efektif.

Penelitian mengenai writing to learn menunjukkan bahwa menulis dapat menjadi sarana untuk mengembangkan pemahaman dan pengetahuan, bukan sekadar tugas untuk menghasilkan tulisan yang kemudian dinilai guru.

Orang tua juga mempunyai peran. Pengawasan terhadap penggunaan gawai memang penting, tetapi pembatasan saja tidak cukup. Orang tua perlu membangun kebiasaan membaca dan berdiskusi di rumah. Anak dapat diajak membicarakan berita yang mereka lihat di media sosial, membandingkan informasi dari beberapa sumber, atau menuliskan pendapat mereka terhadap suatu persoalan. Dengan demikian, penggunaan teknologi tidak berhenti pada hiburan.

Jadi, pertanyaan “siswa aktif di media sosial tetapi lumpuh menulis efektif, salah siapa?” tidak memiliki satu jawaban sederhana. Jika siswa sepenuhnya disalahkan, kita mengabaikan pengaruh lingkungan digital. Jika media sosial yang disalahkan, kita mengabaikan kenyataan bahwa teknologi juga dapat menjadi sarana belajar. Jika sekolah yang disalahkan, kita mengabaikan tanggung jawab siswa untuk berlatih. Begitu pula jika orang tua yang disalahkan, kita melupakan bahwa pendidikan literasi merupakan tanggung jawab bersama.

Yang lebih penting bukan mencari siapa yang salah, melainkan mencari apa yang harus diperbaiki. Siswa perlu belajar menggunakan media sosial secara kritis dan produktif. Guru perlu mengembangkan pembelajaran menulis yang lebih kontekstual dengan kehidupan digital siswa. Sekolah perlu memberikan ruang bagi literasi digital dan literasi menulis. Orang tua perlu mendampingi anak dalam menggunakan teknologi.

Media sosial seharusnya tidak menjadi musuh kemampuan menulis. Sebaliknya, media sosial dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kemampuan membaca, berpikir kritis, menulis, dan berkomunikasi. Tantangannya adalah bagaimana mengubah siswa dari sekadar konsumen informasi menjadi pencipta informasi yang mampu berpikir dan menulis secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, siswa yang aktif di media sosial tidak harus menjadi siswa yang lemah dalam menulis. Keduanya dapat berjalan bersama apabila teknologi digunakan bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga sebagai sarana belajar. Sebab, di tengah derasnya arus informasi, kemampuan yang paling penting bukan sekadar mampu berbicara di dunia digital, melainkan mampu berpikir, menyaring informasi, dan menyampaikan gagasan secara efektif.

Anita Karolina Noya

Penulis:

Anita Karolina Noya | Mahasiswa Unika Santu Paulus Ruteng.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.