Mengapa anak yang membela temannya justru bisa menjadi korban perundungan? Padahal, ia hanya ingin membela temannya. Lantas, mengapa niat baik itu justru bisa berujung pada kekerasan?
Dalam dunia pendidikan kembali dikejutkan kasus perundungan, kali ini di Kota Bekasi. Seorang murid kelas 3 sebuah sekolah dasar di kawasan Harapan Indah, yang diberi inisial G, dilaporkan mengalami trauma psikis yang mendalam setelah diduga menjadi korban kekerasan fisik teman sekelasnya pada 29 Oktober 2025. Semuanya bermula ketika G menegur pelaku berinisial A yang tengah mengolok-olok teman mereka yang yatim piatu. Alih-alih berhenti, A membalas teguran itu dengan kekerasan di lingkungan sekolah. Kenapa perundungan masih saja terjadi di sekolah? Apa penyebabnya?
Menurut psikolog Kasandra Putranto, perundungan di sekolah masih sulit diatasi karena dipengaruhi banyak faktor sosial dan psikologis. Ia menjelaskan bahwa perilaku ini sering lahir karena dinamika pergaulan anak dan remaja, dengan pemicu seperti iri hati, dendam, atau keinginan menguasai kelompok. Pelaku juga kerap meniru apa yang dilihatnya di rumah atau di media, sedangkan korban memilih diam karena takut dicap lemah atau dibalas. Karena itu, sekolah tidak cukup hanya menghukum pelaku. Anak juga perlu dilatih memahami perasaan temannya.
Salah satu cara menumbuhkan empati siswa adalah dengan pembelajaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) berbasis proyek. Lewat kerja kelompok, siswa tidak sekadar menghasilkan karya, tetapi juga berlatih mendengarkan pendapat, membagi tugas, dan menghargai perbedaan. Bekerja sama dalam percobaan pun menumbuhkan rasa percaya diri dan melatih anak belajar dari kegagalan. STEAM juga memberi ruang bagi guru dan siswa untuk berinovasi dan berkolaborasi, terutama bila pembelajaran dikaitkan dengan konteks lokal. Dengan begitu, peserta didik tidak hanya memahami konsep akademik, tetapi juga menyerap nilai kearifan lokal seperti gotong royong dan tanggung jawab sosial. Bahkan, kegiatan kokurikuler antiperundungan pada siswa kelas V dilaporkan meningkatkan perilaku empatik dan menurunkan perundungan verbal.
Contoh proyek kecilnya adalah membuat perahu dari bahan bekas. Dalam proyek ini, siswa menguji benda yang mengapung dan tenggelam, memilih bahan, merancang bentuk perahu, mengukur ukurannya, lalu menghiasnya dengan warna. Proyek ini dapat menumbuhkan empati jika setiap perahu membawa muatan berupa kartu pesan baik dari teman dan semuanya tiba dengan selamat.
Tahapannya sebagai berikut:
- Science (menyelidiki). Anak diminta mengamati dan mencatat benda bekas yang mengapung atau tenggelam, seperti botol plastik, tutup botol, gabus, dan kardus. Semua hasil uji didengarkan, termasuk milik anak yang pendiam, agar anak belajar menghargai pendapat temannya.
- Technology (memilih bahan dan alat). Anak memilih bahan dan alat sederhana yang cocok, misalnya gunting dan lem. Setiap anggota boleh memberi saran dan kelompok menindaklanjutinya, agar saran teman dipertimbangkan, bukan langsung diabaikan.
- Engineering (merancang dan membangun). Anak membuat sketsa perahu, membagi tugas memotong dan menempel, lalu menguji perahunya di dalam baskom. Jika perahu tenggelam, kelompok memperbaikinya bersama. Pembagian tugas ini dibuat agar anak merasa saling membutuhkan, bukan saling menyalahkan.
- Arts (mengekspresikan). Anak mewarnai dan menghias perahu, lalu menuliskan pesan baik untuk teman pada kartu muatan. Lewat karya itu, anak dapat mengungkapkan perasaannya dan mengenal selera temannya.
- Mathematics (mengukur dan menghitung). Anak mengukur panjang dan lebar perahu, menghitung jumlah muatan yang tertahan, lalu membandingkan hasil antarkelompok dalam diagram. Keputusan diambil berdasarkan data dan setiap muatan teman ikut dihitung, agar tidak ada yang diabaikan.
Lewat proyek itu, anak tidak hanya belajar membuat perahu, Mereka juga belajar saling menghormati, mendengarkan, dan mengandalkan satu sama lain, kebiasaan yang dapat mengurangi kecenderungan mengejek dan menyakiti teman sebaya. Ketika semua perahu tiba dengan selamat, setiap anak merasakan bahwa keberhasilan itu milik bersama.
Agar tujuan bersama tercapai, anak perlu belajar berinteraksi dengan teman sebaya, mengelola emosi, serta mengembangkan empati dan tanggung jawab sosial. Kajian pada anak usia dini menunjukkan bahwa anak yang terbiasa bekerja sama cenderung lebih baik dalam mendengarkan, menaati aturan kelompok, dan membicarakan masalah ketika muncul. Pengalaman seperti ini menjadi fondasi yang kokoh bagi kompetensi sosial-emosional mereka.
Meski begitu, STEAM bukan jawaban untuk semua masalah. Hubungan langsung antara STEAM dan berkurangnya perundungan masih perlu dibuktikan lewat penelitian lebih lanjut. Memang, penelitian tentang permainan tradisional melaporkan menurunnya agresi sosial dan meningkatnya kekompakan siswa, tetapi itu bukan STEAM. Karena itu, proyek seperti ini sebaiknya dipandang sebagai peluang, bukan jaminan. Guru tetap perlu memberi peran bagi setiap siswa dan menindak perundungan sejak dini.
STEAM menawarkan lebih dari sekadar keterampilan teknis. Kolaborasi, berpikir kritis, dan kreativitas merupakan sebagian aspek Profil Pelajar Pancasila yang diusulkan sebagai dasar pendidikan karakter antiperundungan di MI/SD, dan pembelajaran semacam ini berpotensi melatih ketiganya sekaligus. Dengan begitu, anak tumbuh tidak hanya terampil, tetapi juga kreatif, mampu bekerja sama, dan berempati. Semoga kelak lebih banyak anak yang berani membela temannya, dan tidak lagi sendirian saat melakukannya.
Daftar Pustaka:
- Adhy Putri Rilianti, Wahyu Nugroho, and Monika Handayani. “Pendekatan Science, Technology, Engineering, Art, & Math (STEAM)Untuk Mengembangkan Keterampilan Abad 21 Siswa Sekolah.” Journal of Primary Education Research 1, no. 2 (2023): 78–85.
- Awwaliyah, Ghaida Khoirunnisa. “Mengurai Akar Perundungan Di Sekolah_ Dari Kurangnya Empati Hingga Minimnya Pengawasan.” Mudanesia, 2025. https://mudanesia.pikiran-rakyat.com/pendidikan-karir/pr-1349785680/mengurai-akar-perundungan-di-sekolah-dari-kurangnya-empati-hingga-minimnya-pengawasan.
- Ewox, Bung. “Kasus Bullying Di SD Galatia Bekasi_ Siswa Alami Trauma Berat Usai Bela Teman — Beyond Your Local News.” Rakyat Bekasi, 2025. https://rakyatbekasi.com/diduga-dibiarkan-sekolah-siswa-sd-di-bekasi-alami-trauma-psikis-usai-jadi-korban-perundungan/.
- Hasanah, Uswatun, and Nidzom Muis. “Concept of Anti-Bullying Character Education Development through Pancasila Student Profile Strengthening Project (P5) in Elementary School: Konsep Pengembangan Pendidikan Karakter Anti-Bulying Melalui Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Di MI….” Edulab: Majalah Ilmiah Laboratorium Pendidikan 8, no. 2 (2023): 194–209. https://ejournal.uin-suka.ac.id/tarbiyah/edulab/article/view/7443.
- Kanza, Nurun Fitra Mutia, Sofa Muthohar, and Mursid Mursid. “Strategi Guru Dalam Menumbuhkan Empati Dan Kerja Sama Anak Usia Dini.” Aulad: Journal on Early Childhood 8, no. 2 (2025): 615–25. https://doi.org/10.31004/aulad.v8i2.891.
- Rahmawati, Khair, Fatimatuzzahra. “Implementasi Pendekatan Steam Dalam Meningkatkan Berpikir Kritis Siswa.” Journal of Early Childhood Education Studies 1, no. 1 (2026): 17–24. https://doi.org/10.70716/jeces.v1i1.145.
- Riyadi, R, S Sarwanto, S Triyani, and K Saddhono. STEAM-A (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, Animation) Berbasis Kearifan Lokal Di Sekolah Dasar. Tren Digital Publishing, 2025. https://books.google.co.id/books?id=Qc6iEQAAQBAJ.
- Rusnah, Rusnah, Rabwan Satriawan, Ewan Irawan, Firdaus Firdaus, and Salahudin Salahudin. “Efektivitas Model Edukasi Anti Perundungan Berbasis Permainan Tradisional Terhadap Penguatan Karakter Siswa.” DIKSI: Jurnal Kajian Pendidikan Dan Sosial 7, no. 2 (2026): 589–602. https://doi.org/10.53299/diksi.v7i2.4922.
Penulis:
Sopi Sulistiawati | Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prodi PGMI.