Dari Sindiran Menjadi Sapaan: Strategi Guru SD/MI Membentuk Budaya Kelas Tanpa Perundungan

Ubah sindiran menjadi sapaan positif di kelas SD/MI. Simak strategi guru dalam menumbuhkan empati, mencegah perundungan, dan membentuk akhlak mulia.

Ruang kelas di Sekolah Dasar maupun Madrasah Ibtidaiyah (MI) merupakan gambaran kecil untuk interaksi sosial di masyarakat. Di Lingkungan ini anak-anak belajar membangun relasi, berbagi peran, sekaligus mengujibatasan sosial mereka. Namun, di tengah keriuhan ruang kelas, sering kali terselip interaksi verbal yang kasat mata tetapi berdampak berkelanjutan: sindiran.

Budaya Kelas Tanpa Perundungan

Meskipun sering dianggap sebagai candaan antar teman, sindiran terselubung seperti mengejek penampilan, memberi julukan negatif, hingga mengkritik cara biara merupakan akar dari perilaku relational bullying (perundungan relasional). Pada anak SD/MI di usia (6-12 tahun), fase perkembangan emosional dan kognitif berada pada tahap pembentukan. Jika sindiran dibiarkan tanpa intervensi, anak-anak akan mengartikan bahwa merendahkan sesama adalah wujud komunikasi yang wajar.

Oleh karena itu, guru memegang peran utama sebagai pendidik sekaligus arsitek budaya kelas. Kuncinya ada pada transformasi pola komunikasi harian dengan mengubah sindiran menjadi sapaan.

Memahami Perundungan Relasional pada Anak Usia MI

Perundungan tidak selalu muncul dalam bentuk kekerasan fisik seperti memukul atau merusak barang milik teman. Pada jenjang MI, fenomena yang paling dominan justru berbentuk relational bullying. Bentuknya meliputi kata-kata yang menyindir, meremehkan, tatapan sinis, hingga pengabaian dalam kelompok.

Siswa usia sekolah dasar sering belum memiliki pemahaman matang mengenai batasan antara candaan dan tindakan yang melukai perasaan. Ketika seorang siswa melontarkan ujaran, “Wah, gaya bicaramu aneh sekali hari ini!”, ucapan tersebut kerap disambut tawa oleh teman sekelas. Bagi anak yang menjadi sasaran momen tersebut berpotensi menimbulkan trauma emosional, menurunkan harga diri serta merusak motivasi belajar di sekolah.

Strategi Transformasi Budaya Kelas

Mengubah kebiasaan berbahasa anak membutuhkan pendekatan pedagogis yang konsisten, edukatif, dan humanis. Berikut tiga strategi utama yang dapat diterapkan oleh guru SD/MI:

1. Mengubah Sudut Pandang Komunikasi dan Pembiasaan Empati

Langkah awal dilakukan melalui intervensi aktif saat mendengar sindiran, tanpa menghakimi anak secara represif. Guru perlu membimbing siswa mengubah sudut pandang dalam menyampaikan maksud mereka secara santun.

2. Menerapkan Ritual Sapaan Positif

Budaya kelas terbentuk melalui rutinitas berkelanjutan. Guru MI dapat merancang tradisi penyambutan (morning greeting) sebelum pembelajaran dimulai.

Melalui kegiatan ini, siswa diajak menyapa teman sekelas dengan jabat tangan, salam hangat, atau ucapan apresiasi sederhana. Ketika lingkungan kelas diawali dengan energi posistif dan sapaan yang tulus, ruang bagi munculnya sindiran dan tindakan merendahkan akan terkikis secara alami.

3. Integrasi Nilai Krakter Islami (Akhlakul Krimah)

Sebagai lembaga pendidikan berbasis Islam, MI memegang keunggulan dalam mengintegrasikan nilai spiritual ke dalam pembentukan karakter. Guru dapat menanamkan konsep hifzhul lisan (menjaga lisan/ucapan) melalui narasi keteladanan.

Dengan meneladani sikap Rasulullah SAW yang senantiasa menyapa orang lain secara santun, siswa dibimbing untuk memahami bahwa menghargai teman melalui kata-kata yang baik merupakan wujud nyata dari ibadah dan akhlak mulia.

Penerapan Nyata di Dalam Kelas

Sebagai gambaran di lapangan, suatu hari ada anak yang tidak sengaja mengejek bekal makanan temannya dengan nada meremehkan. Guru tidak perlu langsung menegurnya keras-keras di depan seluruh kelas. Cukup panggil anak itu sebentar waktu jam istirahat, lalu ajak ngobrol santai. Bantu dia membayangkan rasanya kalau berada di posisi temannya, kemudian ajak dia latihan bilang, "Wah, laukmu kelihatan enak hari ini."

Dampak Jangka Panjang bagi Perkembangan Siswa

Ketika kebiasaan menyindir bisa diubah menjadi kebiasaan menyapa dan saling menghargai, suasana belajar di kelas akan terasa jauh lebih menyenangkan. Beberapa perubahan positif yang bisa dirasakan siswa antara lain:

  1. Anak Lebih Berani dan Percaya Diri: Siswa tidak lagi takut diejek saat mencoba menjawab pertanyaan, maju ke depan kelas, atau membuat kesalahan. Mereka merasa ruang kelas adalah tempat yang aman untuk belajar.
  2. Lebih Mudah Fokus Belajar: Ketika pikiran siswa tidak dibebani oleh rasa takut dianiaya secara verbal atau dikucilkan teman, perhatian mereka bisa sepenuhnya tercurah pada pelajaran di sekolah.
  3. Punya Hubungan Pertemanan yang Lebih Sehat: Anak-anak terbiasa saling peduli dan menghargai perasaan orang lain. Bekal empati dan cara berkomunikasi yang baik ini akan terus terbawa sampai mereka dewasa nanti.

Menciptakan ruang kelas yang aman dan ramah perundungan merupakan proses pembiasaan yang berkelanjutan. Melalui pergeseran sederhana dari sindiran yang melukai menjadi sapaan yang menguatkan, guru MI berperan besar dalam meletakkan fondasi karakter siswa yang santun, inklusif, dan berakhlak mulia.

Daftar Pustaka:

  1. ​Adiyono, A., Irvan, I., & Rusanti, R. (2022). Peran Guru Dalam Mengatasi Perilaku Bullying. Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 6(3), 649–658.
  2. ​Fathoni, M. S. A., & Setiawati, D. (2020). Pendekatan Edukatif Berbasis Spiritual dalam Penanganan Bullying Relasional di MI. Nusantara: Jurnal Pendidikan Indonesia, 4(4), 1085–1096.
  3. ​Nainggolan, W. S. S., Damanik, E. K., Ingtyas, F. T., & Ginting, L. (2025). Dampak Tindakan Bullying Relasional Terhadap Minat Belajar Siswa. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Pendidikan, 4(3), 596–609.
  4. ​Nasution, U. A. (2024). Peran Guru dalam Mencegah Perilaku Bullying di Lingkungan Sekolah. Analysis: Journal of Education, 2(1), 189–195.
  5. ​Prastowo, A. (2017). Manajemen Kelas dan Mencegah Bullying di Sekolah Dasar/MI. Yogyakarta: Diva Press.

Penulis:

Neng Rahma Ramadlanti | Mahasiswa di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah & Keguruan, Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

Posting Komentar

© Sepenuhnya. All rights reserved.