"Mengko rasido dolan menyang alun-alun ya, anakku ujug-ujug panas." "HOROK! Lha napa kok iso?"
Atau dalam cuplikan gosip sore hari: "Kowe wis krungu durung, kae tonggomu bar ketiban rejeki menang undian?" "HOROK! Sik bener kuwi?"
Dua potongan dialog di atas adalah contoh kecil dari keajaiban kosakata harian yang akan sering Anda dengar jika sedang bertandang ke Kabupaten Boyolali. Sebagai warga asli Boyolali yang saban hari beraktivitas di wilayah perbatasan Solo Raya, saya sering dibuat tertawa melihat reaksi kepanikan orang luar daerah saat mendengar kata "HOROK" meluncur deras dari mulut warga lokal. Bagi pendatang atau masyarakat luar kota yang baru pertama kali mendengarnya, kata tersebut sering kali terdengar sangat intimidatif, mirip suara gertakan, mantra gaib, atau malah dikira nama jenis makanan tradisional yang lupa digoreng. Padahal, bagi kami masyarakat Boyolali, kata "horok" adalah respons refleks paling jujur saat menerima kabar mendadak, mendengar fakta yang salah, menyimak gosip hangat, hingga menyaksikan kejadian di luar nalar.
Kosakata "horok" ini hidup dan mengakar sangat kuat di seluruh pelosok Boyolali, mulai dari pedagang pasar di kawasan kota, para peternak sapi perah di lereng Merapi-Merbabu, hingga anak-anak muda yang sedang berkumpul di alun-alun. Penggunaannya sangat luwes dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dampaknya sangat krusial untuk mencairkan atau justru menegaskan tensi sebuah percakapan.
Bagi orang luar kota yang kebetulan menyimak obrolan warga lokal, mereka akan kesulitan mengartikan frasa ini secara harfiah. Ditinjau dari sudut mana pun, kata "horok" berdiri sendiri tanpa ada arti langsung di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia maupun kamus bahasa Jawa standar mana pun. Namun dalam dinamika sosial masyarakat Boyolali, kata "horok" adalah senjata multifungsi: perpaduan sempurna antara rasa kaget, heran, kecewa, protes halus, sekaligus tuntutan meminta penjelasan atas berita apa pun yang baru saja didengar.
Di sinilah letak benturan kebahasaan yang sangat unik dan menggelitik. Jika mendengar kabar mencengangkan atau perubahan rencana, orang dari daerah lain biasanya mengekspresikan diri dengan kata yang netral seperti "Lho?", "Hah?", atau "Masa sih?". Namun bagi lidah warga Boyolali, kata-kata itu terasa kelewat lemas dan kurang bertenaga. Kata "Lho" terasa terlalu sopan, sedangkan kata "Hah" terkesan seperti orang yang kurang jelas mendengar obrolan.
Jika diukur menggunakan Skala Kaget Kebahasaan, kata "Lho" milik warga Solo berada di Level 2 (kaget sopan), kata "Hah" milik anak Jakarta berada di Level 3 (kaget bingung), sementara kata "HOROK!" milik warga Boyolali berada di Level 9,5—sebuah refleks kaget yang sanggup menghentikan kunyahan makanan di mulut seketika.
Sebagai contoh sederhana dalam interaksi digital: coba lemparkan kabar aneh atau pengumuman mendadak di grup percakapan yang berisi warga Boyolali. Dalam waktu kurang dari tiga detik, layar ponsel Anda dipastikan bakal dipenuhi ketikan "HOROK!" lengkap dengan deretan tanda seru.
Kata "horok" bukan sekadar kosakata kedaerahan biasa. Kata ini adalah identitas kultural dan bukti betapa kaya serta bahagianya masyarakat Boyolali dalam merespons dinamika kehidupan harian yang sering kali penuh kejutan. Jadi, jika besok lusa Anda sedang berkunjung ke Boyolali lalu mendengar ada warga lokal yang tiba-tiba berteriak "Horok!", Anda tidak perlu bingung apalagi panik mencari tempat perlindungan. Itu bukan tanda bahaya atau ancaman mantra, melainkan sinyal bahwa ada informasi menarik yang baru saja memicu rasa kaget warga lokal.
Penulis:
Rizal Aditya Pratama adalah mahasiswa Jurusan Keperawatan di Poltekkes Kemenkes Surakarta. Selain menekuni pendidikan kesehatan, ia aktif menulis artikel populer kebudayaan lokal, dan pandangan reflektif mengenai dinamika sosial-masyarakat di kawasan Jawa Tengah.