Bagi penikmat kesenian tradisional di area Solo Raya dan sekitarnya, nama Saleho Karya Budaya asal Cluntang, Musuk, Boyolali sudah tidak asing lagi. Kelompok seni ini berhasil mendobrak pakem lewat kreasi Warok Nyai Bendolegi, sebuah pertunjukan reog dan warok yang belakangan ini kerap berseliweran di FYP TikTok dan beranda YouTube.
| Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=hMsJZnFJVMM |
Di saat banyak kesenian tradisional megap-megap mencari penonton generasi Z, pentas Nyai Bendolegi justru selalu dipadati ribuan orang. Penonton rela berdesakan, berpanas-panasan, bahkan datang dari luar kota hanya untuk menyaksikan aksi panggung mereka.
Lantas, kenapa jagoan budaya dari lereng Gunung Merapi ini bisa se-viral itu dan tampil beda dari kelompok reog kebanyakan? Mengapa mereka begitu dicintai?
1. Gong Utama Pertunjukan: Kehadiran Lagu "Kembang Lintang"
Jika ada satu momen yang sanggup menahan ribuan pasang mata untuk tidak beranjak dari lapangan pementasan, itu adalah saat lagu "Kembang Lintang" (Arum Arum Burat Wengi) mulai berkumandang. Lagu ini sudah seperti lagu wajib atau national anthem tidak resmi di setiap pementasan Nyai Bendolegi.
Aransemennya digarap sangat apik oleh Saleho Karya Budaya. Begitu vokal khas berpadu dengan tabuhan gamelan yang intens dimulai, atmosfer di area penonton mendadak berubah penuh energi. Inilah bagian klimaks yang paling dicari, ditunggu-tunggu, dan selalu berhasil memicu riuh sorak penonton yang hapal setiap ketukan nadanya.
2. Kombinasi Gerakan Ikonik dan Adrenalin Modern
Lagu "Kembang Lintang" tidak akan se-viral ini jika tidak dibarengi dengan koreografi yang memukau. Kelompok ini memadukan ketegasan gerakan warok tradisional dengan transisi modern yang dinamis.
Saat lagu ini dimainkan, gerakan para penari, terutama tokoh Nyai Bendolegi dan barisan warok putri, tampak sangat sinkron, tajam, namun tetap luwes. Lompatan tinggi, entakan kaki yang seirama dengan kendang, hingga ekspresi wajah yang gahar sekaligus estetik adalah menu utama yang disajikan. Setiap detail gerakan inilah yang menjadi incaran utama para kreator konten untuk direkam dan dipotong menjadi video pendek yang sukses memanen jutaan views di media sosial.
3. Rebranding Citra Warok: Dari Mistis-Seram Menjadi Estetik-Gahar
Secara pakem tradisional, figur warok biasanya diidentikkan dengan pria bertubuh kekar, berkumis tebal, berwajah angker, dan lekat dengan nuansa magis yang bikin bulu kuduk berdiri. Bagi anak muda zaman sekarang, tontonan seperti itu kadang terasa terlalu berat.
Saleho Karya Budaya melakukan manuver cerdas dengan menghadirkan konsep warok komunal yang dikemas sangat estetik. Tokoh Nyai Bendolegi digambarkan sebagai sosok perempuan sakti mandraguna, namun dibawakan dengan busana hitam khas warok yang dipadukan dengan riasan wajah tajam namun elok dipandang. Hasilnya? Garang tapi sedap dipandang. Anak muda tidak lagi melihat warok sebagai hal yang kuno, melainkan sebagai sesuatu yang cool dan relevan dengan budaya visual hari ini.
4. Kedekatan Komunitas dan Pemanfaatan Media Sosial
Kunci utama dari viralnya Saleho Karya Budaya adalah kesadaran digital yang tinggi. Mereka tidak anti dengan kamera. Sebaliknya, para pemain dan manajemen sangat terbuka dengan para YouTuber, fotografer, dan TikToker lokal.
Setiap kali mereka tampil, puluhan kreator konten sudah bersiap dengan kameranya masing-masing, terutama saat bagian lagu "Kembang Lintang" dimulai. Konten-konten organik inilah yang kemudian menyebar luas, menciptakan rasa penasaran bagi netizen yang belum pernah menonton langsung dan mengubah pertunjukan desa menjadi sebuah fenomena kultur populer berskala regional.
Penutup
Warok Nyai Bendolegi dari Saleho Karya Budaya Boyolali adalah bukti nyata bahwa seni tradisi tidak harus mati digilas zaman, asalkan para pelakunya berani berinovasi. Dengan mengandalkan daya tarik lagu "Kembang Lintang", koreografi yang penuh adrenalin, dan bersahabat dengan algoritma media sosial, mereka sukses membuktikan bahwa budaya lokal bisa tampil sekelas pertunjukan modern yang sangat dicintai masyarakat luas hingga membuat lapangan selalu penuh sesak oleh penonton.
Penulis:
Rizal Aditya Pratama merupakan mahasiswa Jurusan Keperawatan di Poltekkes Kemenkes Surakarta. Selain menekuni pendidikan di bidang keperawatan, ia aktif menulis artikel populer tentang kehidupan sosial-masyarakat, serta mengamati dinamika kebudayaan lokal dan lingkungan di wilayah Jawa Tengah.