Di antara nama-nama besar dalam lanskap seni dan kesusastraan Malaysia, Abdul Latiff Mohidin adalah sebuah entitas yang sulit untuk diklasifikasikan. Ia bukan sekadar penyair, bukan pula hanya pelukis atau pematung. Ia adalah fenomena silang antara kata dan warna, antara jiwa yang mengembara dan ekspresi yang mewujud dalam berbagai medium. Dalam dirinya, puisi tidak hanya bersuara, tetapi juga berwarna; lukisan tidak hanya berbicara, tetapi juga berpuisi.
Dilahirkan pada tahun 1941 di Lenggeng, Negeri Sembilan, Abdul Latiff telah menunjukkan bakat luar biasa sejak usia belia. Pendidikan awalnya membawanya dari Singapura ke Seremban, lalu melintasi benua ke Berlin, Paris, dan New York, menjadikannya bukan hanya seniman lokal tetapi juga seniman dunia. Beasiswanya ke Akademie der Künste di Berlin (1960–1964), kursus di Atelier Lacourière-Frélaut, Paris, serta residensi di Pratt Institute, New York, adalah bukti bagaimana dunia turut membentuk pandangannya, namun tidak pernah menghilangkan jejak akar budayanya.
Pago Pago: Manifestasi Jiwa yang Merantau
Siri lukisan Pago Pago—dihasilkan antara 1964 hingga 1968—bukan sekadar representasi visual modernisme tropika, tetapi juga refleksi perjalanan batin seorang seniman muda dari dunia Timur yang menafsirkan semula pengalaman Barat. Ia bukan imitasi Barat, tetapi suatu bentuk resistensi estetika, yang menyerap namun juga menanggapi. Dalam Pago Pago, kita melihat dunia yang hibrid: antara bentuk-bentuk primitif dan struktur modernis, antara simbolisme Nusantara dan idiom seni global.
Lukisan-lukisan ini menunjukkan bagaimana Latiff menjadikan dirinya sebagai penghubung antara dunia. Bagi banyak seniman, perjalanan ke Eropa bisa mengakibatkan keterputusan dari akar. Bagi Latiff, sebaliknya, pengalaman itu memperkukuh pemahamannya akan pentingnya identitas, dan seni menjadi medium untuk membumikan gagasan-gagasan besar tentang budaya, spiritualitas, dan eksistensi.
Penyair yang Melukis: Estetika Kata yang Padat
Meskipun lebih dikenali dalam kalangan seni rupa, puisi-puisi Abdul Latiff tidak kurang menggugah. Sungai Mekong (1972), Kembara Malam (1974), Wayang Pak Dalang (1977), hingga Rawa-Rawa (1992), adalah karya-karya puisi yang mencerminkan kepekaan khas penyair-visual: ringkas, tajam, namun penuh imaji.
Puisi Sungai Mekong misalnya, yang ditulis pada puncak Perang Vietnam, menggambarkan duka seorang ibu yang kehilangan anaknya di pusaran konflik. Imajinasinya bukan berlebihan, tetapi menggetarkan.
Latiff Mohidin menulis puisi seperti ia melukis: tak banyak kata, tetapi sarat makna. Puisinya bukan narasi, melainkan gema. Ia tidak menjelaskan, tetapi membangkitkan rasa. Banyak dari sajak-sajaknya menyerupai haiku: pendek, hening, dan memantulkan ruang kosong di antara kata.
Antara Goresan dan Kata: Seniman Multibahasa Jiwa
Salah satu hal yang menjadikan Latiff unik ialah kemampuan alaminya dalam menjembatani disiplin—puisi dan lukisan, melakar dan menerjemah, menulis dan menterjemahkan. Ia telah menterjemahkan karya-karya besar seperti Rubaiyat Omar Khayyam, puisi-puisi Rumi, Tao Te Ching, Gitanjali Tagore, hingga Faust Goethe. Bagi Latiff, bahasa bukanlah penghalang, tetapi jendela. Terjemahan bukan hanya proses pemindahan makna, tetapi pertemuan dua jiwa dalam satu bingkai.
Pendekatannya yang multidisipliner juga membuatnya melampaui batasan nasional. Puisinya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa: Inggris, Jerman, Cina, Tamil, Danish, Italia. Ia adalah suara Malaysia yang bergema dalam bahasa dunia.
Warisan yang Terus Hidup
Pada tahun 2007, Seminar Kefahaman Budaya ke-12 mengangkat tema: “Dari Warna ke Bahasa: Lukisan dan Puisi Latiff Mohidin.” Ini adalah pengakuan formal terhadap seorang seniman yang telah melampaui zamannya. Namun yang lebih penting, ia adalah bukti bahwa karya Latiff terus berbicara meskipun sang penciptanya semakin jarang muncul di ruang publik karena faktor usia dan kesihatan.
Namun kehadiran seninya tidak pernah pudar. Dari galeri-galeri Eropa ke seminar-seminar sastera, dari halaman buku puisi ke dinding pameran, Latiff Mohidin adalah nama yang tetap hidup—bukan hanya sebagai kenangan, tetapi sebagai inspirasi.
Ia adalah seniman yang membuktikan bahwa seni bukan soal disiplin, tetapi soal pengalaman yang mendalam. Lukisan-lukisannya adalah puisi yang tidak berkata-kata. Puisinya adalah lukisan yang tidak perlu kanvas.
Sebuah Nama, Sebuah Dunia
Dalam Abdul Latiff Mohidin, kita melihat betapa seni bisa menjadi jalan hidup yang utuh. Ia bukan pelukis yang kebetulan menulis, atau penyair yang kebetulan melukis. Ia adalah penyair-pelukis dalam satu nafas, satu jiwa, satu dunia yang kompleks dan puitik.
Ia telah menunjukkan kepada kita bahwa seni yang agung tidak datang dari teknik semata, tetapi dari perjalanan jiwa yang jujur dan terbuka. Maka selama kata dan warna masih bersatu dalam ekspresi manusia, nama Abdul Latiff Mohidin akan terus dikenang sebagai mata hati dan suara batin zamannya—dan zaman kita juga.
Sebagai bahan telaah, berikut kami sudah merangkum beberapa Contoh Puisi karya Abdul Latiff Mohidin untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa.
