Darman Moenir (dieja Darman Munir) adalah salah satu sastrawan Indonesia yang mencatatkan namanya dalam sejarah sastra Indonesia pada era 1980-1990-an. Lahir di Sawah Tangah, Pariangan, Tanah Datar, Sumatra Barat, Darman Moenir tumbuh sebagai sosok yang tidak hanya produktif dalam menulis puisi, cerpen, dan novel, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan sastra internasional.
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Darman Moenir (lahir 27 Juli 1952 – meninggal dunia 30 Juli 2019) memulai karir sastranya pada usia yang relatif muda, yaitu 18 tahun. Karya-karyanya tersebar luas, dimuat dalam majalah-majalah terkemuka seperti Horison, Titian, dan Kompas, serta surat kabar seperti Sinar Harapan dan Suara Pembaruan.
Pendidikan formalnya dimulai dari Sekolah Rakyat di Sawah Tangah dan berlanjut hingga ke Akademi Bahasa Asing Prayoga di Padang, di mana ia menyelesaikan studi Bahasa Inggris.
Karier dan Kontribusi Sastra
Selama kariernya, Darman Moenir aktif dalam berbagai kegiatan sastra internasional. Dia mengikuti acara Hari Sastra di Ipoh, Malaysia (1980), Asian Writers Conference di Manila, Filipina (1981), pertemuan dunia Melayu di Malaysia (1982), International Writing Program di Iowa City, dan International Visitor Program di Amerika Serikat (1988).
Di samping itu, Darman Moenir juga bekerja di Museum Negeri Provinsi Sumatera Barat hingga pensiun pada Agustus 2008.
Penghargaan dan Prestasi
Sebagai pengakuan atas karyanya, Darman Moenir menerima sejumlah penghargaan, termasuk Hadiah Utama Sayembara Mengarang Roman DKJ (1980), Pemenang Kedua Sayembara Novel Majalah Kartini (1987), dan Hadiah Sastra dari Pemerintah Republik Indonesia (1992).
Karya Sastra
Darman Moenir telah menghasilkan berbagai karya sastra yang mencakup puisi, cerpen, dan novel, di antaranya:
Buku Puisi Tunggal:
- Kenapa Hari Panas Sekali (1975)
- Tanpa Makna (1977)
Buku Puisi Antologi Bersama:
- Tonggak 4 (1987)
- Dari Negeri Poci 2 (1994)
- Dari Negeri Poci 3 (1996)
Buku Cerpen Tunggal:
- Jelaga Pusaka Tinggi (1997)
Buku Cerpen Antologi Bersama:
- Cerpen-Cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
- Antologi Cerpen Indonesia-Malaysia (2003)
Novel:
- Gumam (1976)
- Bako (1983)
- Dendang (1988)
- Aku, Keluargaku, dan Tetanggaku (1993)
- Negeri Hujan (1999, terjemahan dari novel berjudul Monsoon Country, karya Pira Sudham)
- Krit & Sena (2010)
- Jejak Sang Pencerah (2010)
- Andika Cahaya (2012)
- Akar Anak Tebu (2012)
Cerita Anak:
- Surat dari Seorang Prajurit 45 kepada Cucunya (1993)
- Di Lembah Situjuh Batur (1993)
- Ingin Jadi Pak Habibie (2000)
- Dongeng Kisah dari Minangkabau (2000)
Buku Esai Antologi Bersama:
- Literature and Social Justice (1981)
Warisan dan Pengaruh
Darman Moenir tidak hanya dikenal sebagai penulis produktif, tetapi juga sebagai pemikir sastra yang kritis dan berpengaruh. Karyanya tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan refleksi mendalam tentang kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan. Warisannya dalam dunia sastra Indonesia tetap relevan dan memberi inspirasi bagi generasi sastrawan yang akan datang.
Dengan meninggalnya Darman Moenir pada tanggal 30 Juli 2019 (pada usia 67 tahun) di Kota Padang, Sumatra Barat, sastra Indonesia kehilangan salah satu tokoh penting yang telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan sastra Indonesia modern. Namun, karyanya akan terus dikenang dan dihargai dalam sejarah sastra Indonesia.
Sebagai bahan telaah, berikut kami sudah merangkum beberapa Contoh Puisi karya Darman Moenir untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa.
