Kumpulan Puisi karya Hasbi Burman

Nama Hasbi Burman mungkin tak selalu tercatat rapi dalam buku-buku sejarah sastra Indonesia arus utama. Namun bagi Aceh, terutama Banda Aceh dan sekitarnya, ia adalah nama yang hidup—bernapas di jalanan, warung kopi, sudut kota, dan ingatan banyak orang. Julukannya, “Presiden Rex”, bukan gelar akademik, bukan pula pangkat resmi kesenian, melainkan pengakuan kultural yang lahir dari pergaulan sehari-hari, dari kehadirannya yang konsisten sebagai penyair jalanan yang setia pada kata.

Hasbi Burman

Hasbi Burman lahir di Lhok Buya, Aceh Barat, pada 9 Agustus 1955. Ia tumbuh dan hidup dalam konteks sosial yang jauh dari kemewahan. Namun justru dari keterbatasan itulah puisinya menemukan pijakan yang kuat. Hasbi bukan penyair yang ditempa oleh bangku kuliah sastra atau ruang-ruang diskusi elite. Ia adalah seniman otodidak, belajar dari pengalaman hidup, pertemuan manusia, dan denyut kota yang ia jalani sehari-hari.

Julukan “Presiden Rex” merujuk pada sebuah tempat kuliner bernama Rex di Peunayong, Banda Aceh. Tempat ini bukan sekadar lokasi makan, melainkan ruang sosial tempat berbagai latar belakang bertemu. Di sanalah Hasbi kerap mangkal sebagai tukang parkir, sekaligus sebagai penyair. Ia membaca puisi-puisinya sendiri dalam berbagai event budaya, membawa kata-kata dari pinggir kehidupan ke ruang publik tanpa rasa minder.

Fenomena Hasbi Burman menarik karena ia mematahkan anggapan bahwa sastra harus lahir dari menara gading. Puisi-puisinya tidak dibangun dari bahasa yang berjarak, melainkan dari realitas yang dekat: tentang hidup, luka, harapan, dan kegigihan. Ia menulis karena kebutuhan batin, bukan karena tuntutan pasar atau legitimasi institusi. Dalam konteks ini, Hasbi adalah contoh nyata bahwa sastra bisa tumbuh subur di luar sistem formal.

Selama hidupnya, Hasbi Burman gemar menulis puisi tanpa pernah terlalu memikirkan apakah karyanya akan dibukukan atau tidak. Ia menulis sebagaimana orang bernapas. Baru pada 2019, berkat kepedulian dan dorongan teman-temannya, antologi puisi tunggalnya diterbitkan oleh Nuansa Cendekia, Bandung. Buku tersebut memuat 107 puisi, menjadi penanda penting bahwa suara Hasbi layak diarsipkan dan dibaca lintas generasi.

Buku Puisi Tunggal karya Hasbi Burman:

  1. Sekeping Hati yang Tinggal (Bandung. Nuansa Cendekia, 2019).

Terbitnya buku itu bukan sekadar peristiwa penerbitan, melainkan bentuk pengakuan kolektif. Pengakuan bahwa Hasbi Burman adalah bagian dari khazanah sastra Aceh, bahkan sastra Indonesia. Ia mungkin tidak banyak hadir dalam seminar atau forum nasional, tetapi puisinya telah lama hadir dalam kehidupan nyata orang-orang di sekitarnya.

Hasbi Burman meninggal dunia selepas salat tarawih pertama Ramadan 1445 H, Senin malam, 11 Maret 2024, di rumahnya di Gampong Karieng Blang Bintang, Aceh Besar. Kepergiannya menutup perjalanan seorang penyair yang hidup sederhana, namun meninggalkan jejak kultural yang dalam. Ia pergi di bulan suci, dalam suasana yang hening dan sakral, seolah selaras dengan kesunyian yang sering hadir dalam puisinya.

Kepergian Hasbi Burman menyisakan pelajaran penting: bahwa sastra tidak selalu lahir dari panggung besar. Kadang ia tumbuh dari tempat parkir, dari warung makan, dari pertemuan singkat dengan orang-orang yang lalu-lalang. Hasbi mengajarkan bahwa menjadi penyair bukan soal pengakuan formal, melainkan soal kesetiaan pada kata dan keberanian untuk terus bersuara, betapapun sederhana ruang hidup yang dimiliki.

Dalam ingatan Aceh, Hasbi Burman bukan hanya penyair, tetapi simbol kegigihan seniman rakyat. Julukan “Presiden Rex” akan terus dikenang bukan karena kekuasaan, melainkan karena keberadaannya yang merdeka—merdeka dalam menulis, merdeka dalam hidup, dan merdeka dalam memaknai sastra sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Sebagai bahan telaah, berikut kami sudah merangkum beberapa contoh puisi karya Hasbi Burman untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa.

    Kumpulan Puisi karya Hasbi Burman

© Sepenuhnya. All rights reserved.