Di antara nama-nama penyair Indonesia kontemporer, M. Aan Mansyur menjadi salah satu sosok yang berhasil membawa puisi lebih dekat kepada generasi muda. Puisinya dikenal sederhana, lirih, namun menyimpan kedalaman emosional yang kuat. Ia bukan hanya penyair, tetapi juga penulis, penyunting, pustakawan, penerjemah, dan penggerak literasi yang aktif membangun ekosistem sastra di Indonesia, khususnya di Makassar.
Nama lengkapnya adalah Martan Mansyur, namun publik lebih mengenalnya sebagai M. Aan Mansyur. Ia lahir di Bone, Sulawesi Selatan, pada 14 Januari 1982. Sejak muda, Aan telah aktif menulis dan menjadikan sastra sebagai ruang untuk memahami kehidupan, kesepian, cinta, kehilangan, hingga persoalan manusia sehari-hari. Gaya kepenyairannya yang intim membuat karya-karyanya mudah diterima pembaca lintas usia.
Popularitas Aan Mansyur meluas ketika beberapa puisinya muncul dalam film Ada Apa dengan Cinta? 2. Salah satu puisi yang paling dikenal ialah “Tidak Ada New York Hari Ini”, yang kemudian juga menjadi judul buku puisinya pada 2016. Kehadiran puisi-puisi tersebut dalam film membuat banyak orang yang sebelumnya jauh dari dunia sastra mulai tertarik membaca puisi.
Namun perjalanan Aan Mansyur di dunia sastra telah dimulai jauh sebelum itu. Ia menetap di Makassar dan aktif menggerakkan Makassar International Writers Festival sejak 2011. Festival tersebut berkembang menjadi salah satu ajang sastra internasional penting di Indonesia yang mempertemukan penulis, pembaca, dan pegiat budaya dari berbagai negara. Selain itu, Aan juga terlibat dalam pengelolaan KataKerja, sebuah perpustakaan komunitas yang menjadi ruang literasi alternatif bagi masyarakat.
Sebagai penyair, Aan Mansyur dikenal memiliki karakter penulisan yang reflektif. Ia sering menggunakan bahasa sederhana, tetapi mampu menciptakan suasana emosional yang kuat. Tema-tema seperti kehilangan, kerinduan, luka batin, dan hubungan manusia hadir secara halus dalam puisinya. Pembaca seolah diajak berbicara secara pribadi melalui kalimat-kalimat yang tenang namun menyentuh.
Perjalanan kreatifnya dibuktikan melalui banyak karya yang diterbitkan sejak awal 2000-an. Buku puisi pertamanya, Sajak dengan Huruf Tak Cukup (2004), menjadi penanda awal kiprahnya di dunia sastra Indonesia. Setelah itu lahir berbagai kumpulan puisi lain seperti Hujan Rintih-Rintih (2005), Aku Hendak Pindah Rumah (2008), Cinta yang Marah (2009), hingga Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini? (2012). Judul-judul tersebut memperlihatkan kecenderungan Aan dalam menghadirkan puisi yang personal dan kontemplatif.
Karya-karyanya terus berkembang melalui buku seperti Tokoh-Tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012), Kepalaku: Kantor Paling Sibuk di Dunia (2014), Melihat Api Bekerja (2015), Tidak Ada New York Hari Ini (2016), Sebelum Sendiri (2017), hingga Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau (2020). Pada tahun-tahun berikutnya, ia kembali menerbitkan Waktu yang Tepat untuk Melupakan Waktu (2021), Memasihkan yang Pernah (2023), dan Bahasa Pohon-Pohon Tumbang (2025).
Selain puisi, Aan juga menulis prosa. Novel Perempuan Rumah Kenangan (2007) dan Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi (2015) memperlihatkan kemampuannya membangun narasi yang puitis dalam bentuk cerita panjang. Sementara kumpulan cerpen Kukila (2012) memperkaya posisinya sebagai penulis lintas genre.
Peran Aan Mansyur sebagai penerjemah juga cukup penting. Ia menerjemahkan sejumlah karya sastra dunia ke dalam bahasa Indonesia, di antaranya karya Pablo Neruda berupa 100 Soneta Cinta (2019) dan Dua Puluh Sajak Cinta dan Satu Nyanyian Putus Harapan (2024). Selain itu, ia juga menerjemahkan Love & Misadventure / Cinta & Kesialan-Kesialan karya Lang Leav serta Yang Memberi Kita Nama karya Alvin Pang. Melalui penerjemahan, Aan ikut membuka akses pembaca Indonesia terhadap sastra dunia.
Kiprahnya di bidang sastra memperoleh berbagai penghargaan. Pada 2017 ia menerima beasiswa residensi dari Komite Buku Nasional untuk berkarya di Krakow, Polandia. Kemudian ia meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2021, Anugerah Sastra Kemendikbud 2021, serta Penghargaan Sastra Kementerian Hukum dan HAM 2022. Penghargaan-penghargaan tersebut menunjukkan pengakuan atas kontribusinya dalam perkembangan sastra Indonesia modern.
Sebagai direktur Makassar International Writers Festival, Aan Mansyur juga aktif membangun ruang dialog budaya dan literasi. Ia tidak hanya berkarya untuk dirinya sendiri, tetapi juga memberi tempat bagi lahirnya penulis-penulis baru. Perannya sebagai penggerak komunitas menjadikan dirinya figur penting dalam perkembangan sastra Indonesia kontemporer.
Puisi-puisi Aan Mansyur sering dianggap dekat dengan generasi muda karena menggunakan bahasa yang sederhana tanpa kehilangan kedalaman makna. Ia mampu mengubah pengalaman sehari-hari menjadi renungan yang puitis. Dalam banyak puisinya, kesunyian bukanlah sesuatu yang menakutkan, melainkan ruang untuk memahami diri sendiri.
Kehadiran M. Aan Mansyur membuktikan bahwa puisi masih memiliki tempat penting di tengah masyarakat modern. Ia berhasil menjembatani sastra dengan kehidupan sehari-hari, menghadirkan puisi bukan sebagai sesuatu yang jauh dan sulit dipahami, melainkan sebagai bahasa perasaan yang akrab bagi banyak orang.
Sebagai bahan telaah, berikut kami sudah merangkum beberapa contoh puisi karya M. Aan Mansyur untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa.
