Dalam jagat sastra Melayu modern, nama Prof. Dr. Muhammad Haji Salleh berdiri tegak sebagai mercusuar intelektual dan spiritual. Lahir di Taiping, Perak pada 26 Maret 1942, ia bukan sekadar penyair produktif, melainkan juga seorang cendekiawan yang menyulut kesadaran tentang pentingnya identitas kebudayaan Melayu di tengah arus globalisasi. Karya-karyanya adalah gabungan antara perenungan mendalam, kedisiplinan ilmiah, dan keberanian estetik—sebuah kombinasi langka yang menjadikannya bukan hanya penyair besar Malaysia, tapi juga tokoh panutan sastra Asia Tenggara.
Sebagai penyair, Muhammad Haji Salleh menempuh jalan yang tidak sederhana. Ia menulis puisi dalam bahasa Melayu dan Inggris dengan kekuatan yang seimbang, menempatkannya di posisi unik sebagai jembatan antara Timur dan Barat. Puisinya tidak pernah terasa semata-mata lokal, namun juga tidak kehilangan akar. Ia mengangkat warisan sastra klasik Melayu—seperti Hikayat Hang Tuah dan Sulalat-as-Salatin—bukan sebagai fosil sejarah, tetapi sebagai bahan hidup yang terus berdialog dengan zamannya.
Dalam puisinya, suara Melayu bukan sekadar estetika bahasa, melainkan juga ekspresi nilai, sejarah, dan jati diri. Ia meminjam khazanah lama untuk menyoroti kegelisahan baru: tentang identitas, peradaban, kemanusiaan, dan arah masa depan dunia Melayu. Dalam puisi-puisi seperti Sajak Pendatang atau Penyair, kita melihat betapa ia menggali pengalaman manusia yang universal—rasa rindu, kegamangan, keterasingan, hingga pencarian makna—namun tetap dalam balutan konteks kultural yang spesifik.
Menarik pula bahwa di tengah pencapaian akademiknya yang luar biasa—mulai dari menjadi profesor termuda Malaysia hingga mengajar di universitas dunia seperti di Amerika, Belanda, dan Jepang—Muhammad Haji Salleh tidak pernah menjauh dari peran dasar seorang penyair: sebagai penafsir jiwa zaman. Ia tidak menjadikan puisi sebagai alat pameran intelektualisme, tetapi sebagai medium kontemplatif yang merakyat, jujur, dan membumi. Bahkan ketika berbicara soal teori sastra, ia tetap menjaga kesederhanaan dan keterhubungan antara gagasan dan rasa.
Kiprahnya dalam dunia kritik sastra juga sangat penting. Ia tidak hanya mengkritik, tetapi merumuskan peta jalan baru bagi pengembangan sastra Melayu. Ia menulis dengan pendekatan akademik yang ketat, namun tetap dengan semangat untuk membebaskan, bukan membelenggu. Ia sadar bahwa dunia Melayu memerlukan fondasi teoritis yang kokoh agar tidak terus-menerus menjadi objek dari lensa luar.
Salah satu pencapaian monumental Muhammad Haji Salleh adalah usahanya memperkenalkan puisi Melayu ke tingkat global. Dengan karya-karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 12 bahasa, ia menunjukkan bahwa puisi Melayu bukan sekadar milik lokal, tapi mampu bicara dalam bahasa dunia. Ini bukan semata prestise, tetapi juga bentuk perjuangan kultural—membawa suara yang selama ini tersembunyi dalam peta sastra dunia ke panggung internasional.
Namun mungkin yang paling mengesankan dari perjalanan Muhammad Haji Salleh adalah konsistensinya menjaga akar. Di saat banyak intelektual tenggelam dalam modernitas dan melupakan tradisi, ia justru menggali lebih dalam untuk menemukan kekuatan dari hikayat dan syair lama. Dengan mendirikan pusat studi Melayu di Indonesia, ia memperluas pengaruhnya sekaligus menghubungkan kembali jaringan budaya serumpun yang lama terpisah oleh batas politik.
Muhammad Haji Salleh adalah penyair yang tidak hanya menulis puisi, tapi menjadikan hidupnya sendiri sebagai puisi panjang tentang perjuangan identitas, kebijaksanaan lokal, dan keinsafan universal. Ia adalah penjaga akar sekaligus penjembatan dunia.
Sebagai bahan telaah, berikut kami sudah merangkum beberapa Contoh Puisi karya Muhammad Haji Salleh untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa.
