Nurhayat Arif Permana, yang akrab disapa Alik, merupakan penyair, sastrawan, jurnalis, editor, dan peneliti asal Palembang yang dikenal sebagai salah satu tokoh sastra Sumatera Selatan. Lahir di Palembang pada 23 Oktober 1969, ia tumbuh dalam keluarga yang mencintai dunia sastra dan seni, sehingga minatnya terhadap kepenulisan berkembang sejak usia dini.
Nama panggilan Alik muncul karena ketika kecil ia belum mampu mengucapkan nama "Arif" dengan jelas. Awalnya, kedua orang tuanya memberi nama Nurprihatin, tetapi kemudian diubah menjadi Nurhayat dengan harapan agar ia tumbuh sehat dan mampu bertahan hidup, mengingat semasa kecil ia sering mengalami sakit.
Masa kecil Nurhayat dihabiskan di lingkungan sederhana di Palembang yang kerap dilanda banjir. Pengalaman bermain hujan, kehidupan keluarga yang hangat, serta kedekatannya dengan alam menjadi sumber imajinasi yang kelak banyak memengaruhi karya-karya puisinya. Selain gemar bermain bersama teman-temannya, sejak kecil ia juga menunjukkan bakat menggambar dan kegemaran berimajinasi.
Nurhayat menempuh pendidikan di SD Negeri 27 Palembang, SMP Negeri 2 Palembang, dan SMA Negeri 1 Palembang. Ketika duduk di bangku SMA, bakat sastranya mulai berkembang melalui kegiatan ekstrakurikuler, teater, dan berbagai lomba sastra. Ia beberapa kali menjuarai lomba baca puisi hingga mendapat julukan "Penyair I-8", sesuai nama kelasnya.
Setelah lulus SMA, Nurhayat sempat bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Fakultas Sastra Universitas Indonesia atau Institut Kesenian Jakarta. Namun, atas pertimbangan keluarga, ia memilih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, tempat ia meraih gelar Sarjana Hukum pada tahun 1994. Selama menjadi mahasiswa, ia tetap aktif menulis sastra, bermain teater, melukis, bermain sinetron, serta mengikuti berbagai organisasi kemahasiswaan.
Perjalanan kepenulisannya dimulai sejak remaja. Meskipun karya pertamanya yang dikirim ke majalah Bobo belum dimuat, catatan dari redaksi justru menjadi motivasi besar baginya untuk terus berkarya. Saat masih duduk di kelas II SMA, cerpen karyanya berhasil meraih Juara I Sayembara Cerita Pendek se-Sumatera Selatan yang diselenggarakan tabloid Media Guru. Sejak saat itu, puisi dan cerpennya mulai diterbitkan di berbagai media, termasuk majalah remaja Fantasi dan Aneka.
Pada dekade 1990-an, Nurhayat semakin aktif dalam dunia sastra. Ia membacakan puisi di berbagai forum, mengikuti Pekan Seni Mahasiswa Nasional, serta menghasilkan karya drama yang meraih Juara II melalui naskah Kerudung Bayang-Bayang Bulan. Puisi-puisinya juga dimuat dalam sejumlah buku antologi, seperti Ghirah (1992), Puisi Indonesia, dan Penyair Empat Kota (1997). Namanya tercatat dalam Direktori Penulis di Indonesia (1997) dan Buku Pintar Kesusastraan terbitan Kompas (2002).
Selain sebagai penyair, Nurhayat juga berkiprah di dunia jurnalistik. Ia pernah bekerja sebagai wartawan di Sriwijaya Post dan kemudian menjadi Reporter sekaligus Redaktur Bangka Pos. Pengalaman jurnalistik tersebut membentuk gaya menulisnya yang efektif, padat, dan komunikatif. Pada tahun 2002, ia memilih mengundurkan diri dari dunia pers dan beralih menjadi peneliti lepas di berbagai lembaga penelitian. Bersama sejumlah penulis Bangka Belitung, ia juga menggagas Komunitas Pekerja Sastra Pulau Bangka (KSPB) untuk menghidupkan aktivitas sastra di daerah tersebut.
Di bidang organisasi kesenian, Nurhayat aktif mengikuti berbagai forum sastra nasional dan regional. Ia pernah menjadi peserta program Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) mewakili penulis muda Indonesia, menghadiri Kongres Cerita Pendek III, serta dipercaya menjadi pemimpin Majelis Seniman Sumatera Selatan pada tahun 2003.
Dalam kehidupan pribadinya, Nurhayat menikah dengan Sulityah Kreshna Murti pada tahun 2001.
Sepanjang karier profesionalnya, Nurhayat pernah bekerja sebagai Lawyer Assistant di Barty Law Office, Editor pada Humas Pemerintah Daerah Bengkulu, Reporter dan Desainer Grafis di Sriwijaya Pos, serta Reporter dan Redaktur di Bangka Pos.
Sebagai penyair, Nurhayat Arif Permana telah menerbitkan dua kumpulan puisi tunggal, yaitu:
- Stanza Air Mata (2003)
- Stanza Lara (2011)
Melalui perjalanan panjang sebagai penyair, jurnalis, peneliti, dan pegiat seni, Nurhayat Arif Permana telah memberikan kontribusi penting bagi perkembangan sastra Indonesia, khususnya di Sumatera Selatan. Karya-karyanya banyak dipengaruhi oleh pengalaman hidup, lingkungan masa kecil, serta kepekaannya terhadap persoalan sosial dan kemanusiaan, menjadikannya salah satu penyair daerah yang memiliki jejak berkarya secara konsisten.
Sebagai bahan telaah, berikut kami sudah merangkum beberapa contoh puisi karya Nurhayat Arif Permana untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa.