Putu Oka Sukanta adalah salah satu sastrawan dan aktivis kemanusiaan Indonesia yang memiliki perjalanan hidup penuh perjuangan. Lahir di Singaraja, Bali, pada 29 Juli 1939, ia telah menapaki dunia sastra sejak usia muda dan terus berkarya meskipun menghadapi berbagai tantangan, termasuk penahanan politik selama satu dekade tanpa proses peradilan. Karya-karyanya yang kaya akan nilai kemanusiaan dan kritik sosial menjadikannya sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra Indonesia.
Awal Karier dan Pengaruh Lekra
Putu Oka Sukanta mulai menulis sejak duduk di bangku SMP. Kegemarannya pada sastra membawanya menjadi wartawan dan guru SMA di Yogyakarta serta Jakarta. Ia aktif dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), sebuah organisasi kebudayaan yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Aktivitasnya di Lekra membuatnya menjadi target rezim Orde Baru. Pada tahun 1966, ia ditahan tanpa melalui proses hukum dan menjalani masa tahanan hingga tahun 1976 di Jakarta dan Tangerang.
Karya Sastra yang Kaya Makna
Sebagai penulis, Putu Oka Sukanta menghasilkan banyak karya yang mencerminkan pengalaman hidupnya dan realitas sosial di Indonesia. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain:
- I Belog (Cerita Anak-Anak Bali, 1980)
- Selat Bali (Kumpulan Puisi, 1982)
- Salam atau Greetings (Kumpulan Puisi Dwi Bahasa, 1986)
- Luh Galuh (Kumpulan Cerpen, 1987 dan 1988)
- Keringat Mutiara (Kumpulan Cerpen, 1991 dan 2006)
- Matahari, Tembok Berlin (Kumpulan Puisi, 1992)
- Kelakar Air, Air Berkelakar (Novel, 1999)
- Merajut Harkat (Novel, 1999)
- Kerlap Kerlip Mozaik (Novel, 2000)
- Di Atas Siang Di Bawah Malam (Novel, 2004)
- Rindu Terluka (Kumpulan Cerpen, 2004 dan 2005)
- Lobakan (Cerita Seputar Tragedi 1965/1966 di Bali, 2009)
- Istana Jiwa (Novel, 2012)
Banyak dari karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Prancis. Ia juga berkontribusi dalam berbagai antologi internasional seperti Indonesian Contemporary Poetry (1963), This Prison Where I Live (1966), dan Another Kind of Paradise (2008).
Aktivisme dan Perjuangan Kemanusiaan
Selain berkarya di dunia sastra, Putu Oka Sukanta juga aktif dalam gerakan kemanusiaan. Ia memproduksi film dokumenter yang mengangkat tema "Dampak Sosial Tragedi Kemanusiaan 1965/66", serta menulis banyak buku kesehatan. Ia dikenal sebagai aktivis dalam Program Penanggulangan HIV/AIDS dan terus berkontribusi dalam isu-isu sosial yang berkaitan dengan kesehatan dan hak asasi manusia.
Di bidang kesehatan, ia juga mengembangkan praktik akupunktur, keterampilan yang ia pelajari dari Dr. Lie Tjwan Sin, teman satu selnya di penjara. Bersama istrinya, Endah Lasmadiwati, ia mengelola "Taman Sringanis", sebuah gerakan kebudayaan di bidang kesehatan.
Penghargaan dan Pengakuan Internasional
Dedikasi dan kontribusi Putu Oka Sukanta di dunia sastra dan kemanusiaan telah mendapatkan berbagai penghargaan, di antaranya:
- Deklamator Terbaik Bali (1958)
- Pemenang ke-2 Lomba Dongeng Lingkungan Hidup di Jakarta (1982)
- Hellmann/Hammett Grant Award (2012)
- Herb Feith Foundation Human Rights Education Award (2016)
Selain itu, beberapa puisinya telah digubah menjadi tembang puitik oleh komponis dan pianis musik klasik Ananda Sukarlan, menunjukkan bahwa pengaruhnya tidak hanya terbatas pada dunia sastra, tetapi juga menjangkau dunia musik.
Putu Oka Sukanta adalah contoh nyata seorang seniman yang tetap teguh dalam prinsip dan perjuangannya. Melalui karya sastra, film dokumenter, dan aktivisme di bidang kesehatan serta hak asasi manusia, ia telah memberikan kontribusi besar bagi masyarakat. Kehidupannya yang penuh tantangan tidak menghentikannya untuk terus berkarya dan menyuarakan keadilan. Putu Oka Sukanta bukan hanya seorang penyair dan penulis, tetapi juga pejuang kemanusiaan yang patut dikenang.
Sebagai bahan telaah, berikut kami sudah merangkum beberapa Contoh Puisi karya Putu Oka Sukanta untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa.
