Kumpulan Puisi karya Sunaryono Basuki KS

Di antara deretan nama-nama penting dalam jagat sastra Indonesia, nama Sunaryono Basuki KS hadir sebagai sosok yang senyap namun berpendar dalam kesunyian. Tidak banyak penyair yang mampu menjaga daya cipta mereka selama lebih dari setengah abad, apalagi menyampaikannya dalam dua bahasa dengan intensitas dan ketekunan yang nyaris tak terputus. Sunaryono Basuki KS, atau nama lengkapnya Sunaryono Basuki Koesnosoebroto, adalah contoh dari konsistensi dan dedikasi dalam berkarya, menulis, dan mencerahkan ruang kesusastraan Indonesia—dengan cara yang senyap, namun mengakar kuat.

Buku

  1. Scarf Merah Hati (Rosda, 1986)
  2. Hunus (Balai Pustaka, 1991)
  3. Siti Nurjanah (Balai Pustaka, 1993)
  4. Maut di Pantai Lovina (Gramedia, 1993)
  5. Di Sudut Hyde Park (Balai Pustaka, 1993)
  6. Dadong Sandat (Balai Pustaka, 1994, cetak ulang pada tahun 2000)
  7. Ompong (Grafikatama, 1995)
  8. Bumi Hangus (Pustaka Jaya) dan Rangda (Indonesiatera, 2001)
  9. Peter Hilang (Balai Pustaka, 2001)
  10. Topeng Jaro Kebut (novel, Indonesiatera, 2001)
  11. Antara Jalan Jaksa dan Lovina (novel, Grasindo, 2004)
  12. Siska Ambarwati (novel, Grasindo, 2004)
  13. Maling Republik (novel, Mizan Pustaka, 2005)
  14. Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura (cerpen, Kompas, 2005)
  15. Cinta berbunga di Lovina (novel, Pinus Book Publisher, 2005)
  16. Hanya Nestapa (novel, Arti Foundation, 2008)
  17. Seroja (novel, Interprebook, 2009)
  18. Biyang Bulan (Jaring Pena, 2010)
  19. Antara Jimbaran Dan Lovina (cerpen, Cakra Press, 2011)
  20. Love in Bali (novel, Jenius Publisher, 2012)

Dari Kepanjen Menuju Dunia Kata

Lahir di Kepanjen, Malang, pada 9 Oktober 1941, Sunaryono tumbuh dalam lingkungan guru yang menanamkan kedisiplinan, ketekunan, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Ayahnya, Saim Koesnosubroto, serta ibunya, Sariati Koesnosoebroto, adalah pengajar yang tidak hanya mewariskan semangat literasi, tetapi juga membentuk kepekaan anak-anaknya terhadap narasi kehidupan.

Sunaryono Basuki KS

Sejak belia, bakat menulis Sunaryono mulai bersemi. Ia telah menulis laporan perjalanan yang dimuat di majalah Mingguan Anak-Anak pada tahun 1953—sebuah tonggak awal yang menandai hubungan panjangnya dengan dunia tulis-menulis. Di usia remaja, ia berguru kepada Emil Sanossa, seorang tokoh teater Malang yang memperkenalkannya pada disiplin mengarang dan kesenian panggung. Inilah awal dari perjalanan intelektual dan artistiknya yang kelak membentang hingga akhir hayatnya.

Pendidikan dan Kematangan Intelektual

Sunaryono menyelesaikan pendidikan di IKIP Malang dan kemudian melanjutkan studi di Inggris, memperdalam pemahamannya tentang bahasa dan sastra. Ia kemudian mengabdikan diri sebagai akademisi, menjabat sebagai Guru Besar Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni di STKIP Singaraja (kini Universitas Pendidikan Ganesha), Bali. Tidak hanya mengajar, ia aktif dalam kegiatan redaksional sejumlah media pendidikan dan sastra, seperti majalah Bukitmanis, Dian, Suara, dan Aneka Widya. Dedikasinya sebagai pengajar dan penggerak literasi lokal tidak bisa dipandang sebelah mata.

Namun yang paling menarik adalah bagaimana Sunaryono mampu menjaga identitas kepenyairannya di tengah kesibukan akademik dan jurnalistik. Ia bukan hanya penulis, tetapi juga penyunting, penerjemah, kolumnis, dan koresponden yang produktif. Ia menjembatani dunia akademik dan kesusastraan secara elegan—sebuah kombinasi yang jarang ditemui.

Penyair Bilingual yang Tangguh

Sebagai penyair, Sunaryono Basuki KS menulis ratusan puisi dan cerpen, baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Karyanya melintasi batas bahasa, menunjukkan kedalaman tema yang universal namun tetap berakar kuat pada lokalitas. Puisinya masuk dalam antologi internasional seperti On the Verandah (Cambridge University Press, 1995)—bukti bahwa kualitas karyanya mampu menembus arena sastra global.

Puisi-puisi Sunaryono bukan sekadar rangkaian metafora; ia menyelami sisi eksistensial manusia, dilema sosial, dan lanskap budaya Indonesia—khususnya Bali, tempat ia menetap hingga akhir hayat. Gaya penulisannya tenang, reflektif, dan terkadang mengandung sindiran halus terhadap berbagai absurditas sosial. Sebagai pembaca, kita diajak merenung, bukan sekadar terpukau oleh bunyi atau bentuk.

Dedikasi pada Prosa dan Cerpen

Di luar puisi, Sunaryono juga dikenal sebagai penulis prosa yang produktif. Novel-novelnya seperti Siti Nurjanah, Maut di Pantai Lovina, Dadong Sandat, hingga Maling Republik menyajikan keragaman tema: dari realisme sosial, psikologi perempuan, hingga satire politik. Dadong Sandat, yang menjadi karya ikoniknya, bukan hanya menarik dari sisi cerita, tetapi juga berhasil merangkai Bali sebagai ruang simbolik yang sarat nilai budaya dan spiritualitas.

Sunaryono tidak pernah berpretensi menjadi sastrawan avant-garde. Ia tetap menulis dengan bahasa yang mengalir, mudah dipahami, namun sarat makna. Karyanya sering dijumpai dalam media populer seperti Femina, Kartini, Kompas, dan Suara Merdeka, menjadikannya sastrawan yang menjangkau banyak lapisan pembaca. Ia menulis untuk rakyat, namun tidak meninggalkan kualitas estetika.

Menjaga Kesetiaan pada Proses

Salah satu hal yang paling patut dihargai dari Sunaryono adalah kesetiaannya pada proses kreatif. Ia tidak mengejar ketenaran sesaat, tidak bermain dalam kerumunan sastrawan besar di kota-kota besar, namun tetap produktif menulis dari Singaraja dan kemudian Bali. Ia membuktikan bahwa karya yang besar tidak harus lahir dari pusat kekuasaan budaya. Justru dari pinggiran, ia menyusun suara yang autentik, jujur, dan menggugah.

Lebih dari sepuluh kali ia memenangkan berbagai lomba menulis, namun ia tidak menjadikan penghargaan sebagai tujuan utama. Ia menulis karena itulah panggilan hidupnya. Ia mengajar, menerjemahkan, dan menyunting karena ia percaya pada pentingnya pendidikan dan literasi sebagai kekuatan pembebas.

Penyunting dan Penerjemah yang Teliti

Kontribusi Sunaryono juga nyata dalam bidang penerjemahan dan penyuntingan. Ia menerjemahkan karya-karya penting seperti Rumahku di Sorga (Ryunosuke Akutagawa) dan Surat Wasiat (Rabindranath Tagore), menjadikan karya sastra dunia lebih dapat diakses oleh pembaca Indonesia. Ia juga menyunting kumpulan puisi Matabunga karya Yudhi Ms., menunjukkan kepeduliannya terhadap pengembangan penulis muda dan pematangan karya orang lain.

Dalam dunia yang penuh dengan kejar-kejaran kecepatan produksi, Sunaryono justru memberi contoh tentang pentingnya ketelitian, kesabaran, dan kepekaan dalam mengelola kata. Ia memahami bahwa setiap karya memiliki nyawanya sendiri, dan tugas penulis adalah membantu nyawa itu bernafas.

Jejak yang Tak Hilang

Sunaryono Basuki KS wafat pada 20 Desember 2019 di Kutuh, Kabupaten Badung, Bali. Ia pergi dengan tenang, namun meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan. Di antara tumpukan buku dan antologi, namanya akan terus hidup—dalam sunyi yang puitis, dalam bahasa yang halus namun menyengat, dalam metafora yang melintasi zaman.

Dalam dunia sastra Indonesia yang kerap diramaikan oleh gebyar nama-nama besar dan suara keras, Sunaryono hadir sebagai suara lirih yang tetap memancarkan kekuatan. Ia bukan hanya penulis, tetapi juga pendidik, pembaca yang baik, penerjemah yang teliti, penyair yang penuh empati, dan pemikir yang tenang.

Ia tidak memilih jalan spektakuler, tapi ia memilih jalan yang terus ia tempuh—dengan keyakinan, dengan cinta pada kata-kata, dan dengan hormat pada pembaca.

Sebagai bahan telaah, berikut kami sudah merangkum beberapa Contoh Puisi karya Sunaryono Basuki KS untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa.

    Kumpulan Puisi karya Sunaryono Basuki KS

© Sepenuhnya. All rights reserved.