Di tengah padatnya arena kehidupan yang berkutat dengan hukum dan kenegaraan, nama Surachman R.M. muncul sebagai anomali yang memikat—seorang jaksa dan legislator yang juga penyair. Lahir di Garut pada 13 September 1936 dan dibesarkan di Cibatu, Surachman R.M. adalah sosok langka: penegak hukum yang juga menekuni dunia puisi, dunia yang identik dengan perenungan, ironi, dan empati. Dalam dirinya, logika dan estetika menemukan ruang kompromi yang nyaris mustahil.
Surachman R.M. menempuh pendidikan hukum di dua universitas besar di Indonesia—Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran—dan melanjutkan studi ke Syracuse University College of Law di New York. Ia pernah menjadi jaksa di berbagai daerah, duduk di DPRGR Kabupaten Bandung, hingga menjabat sebagai Komisioner Ombudsman Republik Indonesia dan anggota Komisi Konstitusi. Akan tetapi, keberadaannya dalam dunia sastra justru menawarkan sisi manusiawi dari seseorang yang, dalam karier resminya, mesti bersikap tegas dan objektif.
Buku Puisi
- Di Balik Matahari (Budaya Jaya, 1974)
- Seribu Kekupu (2012)
- Buat Sebuah Nama (manuskrip)
- Di Negeri Hirota Koki (manuskrip).
Buku Puisi bahasa Sunda
- Surat Kayas (Balai Pustaka, 1967)
- Basisir Langit (Balai Pustaka, 1976)
- Di Taman Larangan (Kiblat Buku Utama, 2012)
- Basa Ka Olivia (manuskrip).
Buku Antologi Bersama
- Anthologie Bilingue De La Poesie Indonesienne Contemporaine: antologi dwibasa puisi Indonesia dewasa ini (ed. Ajip Rosidi dan Ramadhan K.H., 1972)
- Tonggak 2: antologi puisi Indonesia modern (ed. Linus Suryadi AG, 1987)
- Angkatan 66: antologi prosa dan puisi (ed. H.B. Jassin, 1988)
- On foreign shores: American images in Indonesian poetry (ed. John H. McGlynn, 1990)
- Manhattan Sonnet: Indonesian Poems, Short Stories, and Essays about New York (ed. John H. McGlynn, 2001)
Puisi Sebagai Ruang Perenungan
Kumpulan puisi Di Balik Matahari (1974) mencerminkan pandangan mendalam Surachman R.M. terhadap dunia yang tak hanya tampak dalam cahaya. Judulnya sendiri mengisyaratkan upaya melihat realitas dari sudut yang tidak biasa—sebuah refleksi khas dari penyair yang terbiasa dengan narasi hukum dan debat konstitusional. Dalam bait-baitnya, tersimpan kegelisahan eksistensial sekaligus harapan terhadap kemanusiaan. Puisi-puisinya hadir sebagai tafsir sunyi dari pengalaman panjangnya mengarungi sistem hukum dan politik yang sering kali tak bersahabat dengan nurani.
Lalu ada Seribu Kekupu (2012), kumpulan puisi yang tampaknya merupakan bentuk kontemplasi puitik tentang waktu dan perubahan. Imaji kekupu (kupu-kupu) mengandung simbol kerapuhan sekaligus keindahan yang abadi. Di tengah riuhnya jabatan dan beban birokrasi, Surachman justru menyodorkan kelembutan dan sensibilitas estetika sebagai bagian tak terpisahkan dari kepribadiannya. Puisi-puisinya dalam antologi ini tidak menggugat dunia secara frontal, melainkan membisikkan keraguan, kesangsian, dan sesekali harapan dengan lirih.
Sunda sebagai Identitas Puitik
Yang tak kalah penting dalam kiprah Surachman R.M. adalah kesetiaannya pada bahasa Sunda. Ia bukan hanya menulis puisi dalam bahasa Indonesia, tetapi juga melahirkan beberapa karya penting dalam bahasa ibunya. Kumpulan puisi Surat Kayas (1967) dan Basisir Langit (1976) memperlihatkan bagaimana bahasa lokal tidak hanya menjadi media komunikasi, tetapi juga alat untuk mengeksplorasi kesadaran kultural dan spiritual yang khas.
Karya-karya berbahasa Sunda ini bukan sekadar nostalgia atau pelestarian bahasa daerah, tetapi menunjukkan bagaimana bahasa Sunda dapat menangkap nuansa emosional dan filosofis yang tak kalah kuat dibanding bahasa Indonesia. Puisi dalam Di Taman Larangan (2012), misalnya, adalah perayaan sekaligus kegundahan yang dirajut dalam diksi yang sangat khas Sunda—penuh rasa, namun tak kehilangan logika. Ini adalah wajah lain dari Surachman: lokal, personal, dan intim.
Penyair yang Melintasi Zaman dan Bahasa
Puisi-puisi Surachman R.M. telah diterjemahkan ke berbagai bahasa: Inggris, Prancis, Jerman, hingga Rumania. Keikutsertaannya dalam antologi internasional seperti Contemporaine (1972), On Foreign Shores (1990), dan Manhattan Sonnet (2001) menunjukkan bahwa suara puitiknya memiliki gaung global. Artinya, nilai-nilai yang dibawanya dalam puisi bukan sekadar lokal atau nasional, tetapi menyentuh sisi universal kemanusiaan.
Namun menariknya, meskipun puisinya menyeberangi batas bahasa dan budaya, Surachman tetap tidak kehilangan ciri khasnya sebagai seorang penyair Indonesia—lebih spesifik lagi, penyair Sunda. Ia tetap konsisten dengan tema-tema reflektif, terkadang melankolis, tapi juga kritis dan bernas. Ada kejujuran dalam karyanya, kejujuran yang tak terpaku pada tuntutan zaman, tapi justru terus relevan karena kedalaman kontemplatifnya.
Politik dan Puisi: Dua Dunia yang Tidak Saling Menafikan
Salah satu aspek paling menonjol dari Surachman R.M. adalah kemampuannya menjembatani dua dunia yang kerap dianggap berseberangan: politik dan puisi. Di satu sisi, ia menjalani karier di ranah formal negara—berkutat dengan hukum, menjadi anggota dewan, bahkan terlibat dalam komisi konstitusi. Di sisi lain, ia menulis puisi, menciptakan metafora, dan membangun dunia batin yang sangat pribadi.
Kedua dunia itu tidak saling menafikan, bahkan saling melengkapi. Dunia hukum yang keras memberinya landasan realitas, sedangkan dunia puisi memberinya ruang untuk bermimpi dan mengungkapkan rasa. Di antara pasal-pasal dan logika formal, puisi-puisi Surachman menjadi napas yang menyegarkan. Dalam konteks ini, ia tidak hanya menjadi penyair biasa, tetapi penyair yang memahami struktur sosial dan hukum secara mendalam.
Penyair sebagai Cendekiawan dan Penjaga Etika
Surachman R.M. bisa dibilang mewakili figur “intelektual publik” dalam pengertian sejati. Ia bukan hanya menulis puisi, tetapi juga aktif dalam berbagai lembaga negara dengan integritas yang terbukti. Posisi sebagai Komisioner Ombudsman dan anggota Komisi Konstitusi menunjukkan kepercayaan negara terhadap kapasitas intelektual dan moralnya.
Peran ganda ini membuat puisinya sarat bobot etis. Tidak ada flamboyansi retorik atau romantisme berlebihan. Yang ada justru keprihatinan yang jernih, amatan sosial yang tajam, dan ketulusan yang konsisten. Ia menulis bukan untuk mencari popularitas, melainkan untuk menyuarakan sisi terdalam manusia yang kerap dilupakan: keraguan, kejujuran, dan pencarian makna.
Warisan Sunyi Seorang Penyair-Jaksa
Kini, ketika publik lebih banyak mengenal tokoh melalui kontroversi dan viralitas, kehadiran sosok seperti Surachman R.M. terasa langka dan menenteramkan. Ia bukan selebritas sastra, tetapi pekerja sunyi yang membiarkan karyanya berbicara sendiri. Melalui puisi-puisi dan kontribusinya dalam kehidupan kenegaraan, Surachman mengajarkan bahwa keindahan dan kebenaran bisa berjalan beriringan. Hukum dan puisi, dalam dirinya, tidaklah saling bertolak belakang, tetapi saling melengkapi.
Warisan puisinya dalam dua bahasa—Indonesia dan Sunda—adalah kontribusi penting bagi khazanah sastra nasional. Ia tidak hanya memperkaya perbendaharaan estetika, tetapi juga menunjukkan bahwa penyair bisa sekaligus menjadi penjaga nilai dan konstitusi. Dalam diam, dalam bait-bait, dan dalam dedikasi, Surachman R.M. telah memberi kita satu pelajaran penting: bahwa keadilan bukan hanya urusan pasal, melainkan juga rasa.
Sebagai bahan telaah, berikut kami sudah merangkum beberapa Contoh Puisi karya Surachman R.M. untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa.
