Dalam denyut sejarah kesusastraan Indonesia, dekade 1970-an sering disebut sebagai masa yang bergelora. Banyak penyair muda muncul membawa semangat baru, menggugat tradisi, dan menuliskan dunia dengan bahasa yang lebih personal, eksistensial, dan kadang politis. Salah satu nama yang pernah hadir kuat pada masa itu—meski kini nyaris tenggelam dalam ingatan kolektif pembaca sastra—adalah Suripto Harsah.
Nama Suripto Harsah barangkali tidak lagi sepopuler penyair seangkatan seperti Sutardji Calzoum Bachri, Linus Suryadi AG, atau Emha Ainun Nadjib. Tapi bagi pembaca setia Horison edisi 1970-an, nama ini hadir dengan konsistensi yang luar biasa. Puisinya sering menghiasi halaman-halaman majalah sastra paling prestisius pada masanya itu. Dan ini bukan prestasi kecil. Dalam konteks waktu itu, Horison bukan sekadar media publikasi, tapi juga semacam ‘panggung nasional’ bagi para penyair yang dianggap layak bicara di tengah gegap gempita pemikiran kebudayaan Indonesia.
Jejak Yogya dan Warisan Persada Studi Klub
Asal-muasal Suripto Harsah dalam dunia sastra Indonesia tidak bisa dilepaskan dari Persada Studi Klub (PSK) di Yogyakarta—sebuah komunitas sastra yang dibentuk oleh Umbu Landu Paranggi, dan telah melahirkan generasi penyair-penyair muda paling berpengaruh di Indonesia. Di sinilah Suripto digembleng, bukan hanya dari sisi teknik puisi, tetapi juga dari filosofi dasar menjadi penyair.
Persada Studi Klub bukan komunitas biasa. Di dalamnya, tumbuh benih-benih keberanian berpikir bebas, semangat eksperimentasi, dan kejujuran artistik. Suripto Harsah termasuk salah satu sosok yang menyerap atmosfer tersebut dengan baik. Puisinya memperlihatkan kedalaman kontemplatif, kekayaan makna, dan penggunaan simbolisme yang khas. Ia bukan penyair populis, tapi penyair meditatif—yang mengajak pembaca tidak sekadar ‘membaca’, tapi mengalami dan merenung bersama puisinya.
Bahasa yang Tenang Tapi Menghunjam
Salah satu ciri khas puisi Suripto Harsah adalah ketenangannya. Ia tidak meledak-ledak seperti puisi protes atau manifesto yang banyak bermunculan di era yang sama. Ia juga tidak bermain-main dengan kekacauan semantik seperti Sutardji. Sebaliknya, Suripto memilih jalur yang lebih lirih, lebih personal, dan kadang melankolis. Tapi justru dalam lirih itulah kekuatannya. Puisinya tidak memekik, tetapi berbisik. Dan bisikan itu justru bisa lebih menghujam daripada teriakan.
Bahasa dalam puisinya bersih, terkontrol, dan reflektif. Ia menulis seperti seseorang yang sangat menghargai diam dan jeda. Setiap kata terasa dipilih dengan hati-hati, bukan demi keindahan kosong, tetapi karena ia mengandung beban batin. Dalam banyak puisinya, tampak pergulatan eksistensial, pertanyaan tentang makna hidup, dan kegelisahan manusia urban dalam masyarakat yang mulai kehilangan arah.
Antara Sajak dan Meditasi
Membaca puisi Suripto Harsah terkadang terasa seperti sedang berjalan menyusuri koridor sunyi di dalam batin manusia. Tidak ada efek teatrikal yang berlebihan. Tidak ada ledakan emosi. Yang ada justru suasana reflektif yang intens. Ia menulis seakan-akan puisi adalah bentuk meditasi—sebuah proses menimbang-nimbang realitas, bukan menghakiminya.
Pendekatan ini mungkin tidak selalu memikat pembaca umum, tapi justru di situlah letak integritas seninya. Suripto tidak menulis untuk memuaskan pasar, atau demi popularitas. Ia menulis karena ada sesuatu dalam dirinya yang harus disuarakan, meskipun suara itu pelan. Ia adalah penyair yang mempercayai bahwa ketulusan lebih penting daripada gemuruh tepuk tangan.
Penyair yang Dilupakan Zaman?
Sayangnya, seperti banyak penyair yang meniti jalan sunyi, nama Suripto Harsah kini seakan terhapus dari narasi besar kesusastraan Indonesia. Karya-karyanya jarang dibicarakan dalam wacana akademik mutakhir. Jejak karyanya memang tidak mudah dicari. Generasi baru bahkan mungkin belum pernah mendengar namanya.
Ini adalah ironi dalam sejarah sastra kita. Kita begitu mudah melupakan mereka yang telah membangun fondasi kepekaan bahasa, hanya karena mereka tidak menciptakan sensasi atau tidak masuk radar penerbit besar. Padahal, puisi-puisi Suripto adalah warisan penting yang menunggu untuk digali kembali. Ia adalah bagian dari denyut suara Yogyakarta yang pernah menjadi pusat intelektual dan kultural pada masanya.
Menggali Kembali Suripto
Sudah saatnya pembaca sastra Indonesia menggali kembali jejak-jejak seperti Suripto Harsah. Di tengah kecenderungan zaman yang makin instan dan dangkal, puisi-puisi seperti miliknya dapat menjadi semacam pengingat bahwa sastra bukan sekadar hiburan intelektual, melainkan juga sarana untuk memperdalam hidup.
Suripto telah memberi kita contoh bahwa puisi tidak harus teriak untuk didengar. Ia telah menempuh jalan puitik yang lurus, penuh kesetiaan, dan tak tergoda kemilau popularitas. Kita tinggal memilih: mau terus melupakan atau mulai membaca kembali.
Karena pada akhirnya, seperti kata Umbu Landu Paranggi, "Penyair adalah pelacak sunyi." Dan Suripto Harsah adalah salah satu pelacak sunyi yang jejaknya pantas ditelusuri ulang—sebelum terlambat.
Sebagai bahan telaah, berikut kami sudah merangkum beberapa Contoh Puisi karya Suripto Harsah untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa.