Dalam peta sastra Indonesia, nama-nama besar dari Jawa, Sumatera Timur, atau Jakarta kerap mendominasi percakapan. Namun, dari Cot Seumeureung, Aceh Barat, lahirlah seorang penyair yang konsisten menuliskan jejaknya dalam dunia puisi: Syarifuddin Aliza, lahir 23 Agustus 1967. Ia bukan datang dari ruang akademik yang mapan atau jaringan sastra metropolitan, melainkan dari semangat otodidak yang tumbuh bersama denyut kehidupan masyarakat Aceh. Justru di situlah letak kekuatannya—ia menulis dari akar, dari keseharian, dan dari pengalaman kultural yang khas.
Puisi yang Tumbuh dari Daerah Pinggiran
Syarifuddin memulai debutnya di harian Serambi Indonesia pada akhir 1980-an, ketika puisinya Mata Pena Mataku dan Tentang Cinta yang Jauh dimuat. Dari sana, jalan panjang kepenyairan terbuka. Pada dekade 1990-an, ia semakin sering menghiasi ruang sastra media massa. Berbeda dengan penyair kota besar yang mudah berjejaring, Syarifuddin bergerak dari daerah pinggiran, membuktikan bahwa puisi bisa tumbuh di mana saja selama ada kesungguhan.
Karya-karyanya kemudian masuk ke sejumlah antologi bersama, seperti Pasie Karam (2016), Kopi Dunia Takengon (2016), dan Epitaf Kota Hujan, Padang Panjang (2018). Meski bukan buku tunggal, keterlibatannya dalam antologi tersebut menunjukkan konsistensi dan kehadirannya di lingkaran sastra nasional.
Antara Seni dan Kehidupan Sosial
Yang menarik dari Syarifuddin Aliza adalah posisinya yang ganda: seorang penyair sekaligus pegawai negara. Sejak 1998, ia bekerja di Kementerian Agama Aceh Barat dan terakhir menjabat sebagai Penghulu Ahli Madya di Kantor Urusan Agama Kecamatan Johan Pahlawan. Kehidupan birokrasi tidak mematikan suaranya sebagai seniman, justru memberi sudut pandang lain: puisi bukan sekadar ekspresi personal, melainkan cermin pergulatan sosial.
Selain itu, ia aktif dalam seni pertunjukan. Tahun 1992, ia ikut mendirikan Teater Sua, lalu tahun 1994 mendirikan Sanggar Sebaya bersama seniman Aceh Barat. Dari aktivitas itu terlihat bahwa ia tidak hanya menulis untuk dirinya, tetapi juga menciptakan ruang bagi masyarakat untuk berkesenian.
Tema dan Napas Puisi
Membaca puisi-puisi Syarifuddin Aliza, kita menemukan perpaduan antara lirisisme cinta dan kepedulian sosial. Ia menulis tentang cinta yang jauh, tentang luka, tentang hujan, tentang laut, dan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh. Ada kesan intim sekaligus kolektif, seolah ia berbicara kepada orang-orang di sekitarnya sekaligus kepada dirinya sendiri.
Dalam antologi Pasie Karam, misalnya, imaji laut dan pantai begitu kental, bukan sekadar lanskap geografis, melainkan simbol perjalanan hidup, kehilangan, dan ketabahan. Laut dalam puisi-puisinya seakan memanggil kembali ingatan Aceh sebagai daerah pesisir yang penuh sejarah, juga penuh tragedi.
Menjaga Api di Daerah
Dalam diskursus sastra nasional, sering kali penyair daerah terpinggirkan karena kurang terekspos. Namun, kehadiran sosok seperti Syarifuddin Aliza membuktikan bahwa kualitas puisi tidak ditentukan oleh pusat-pinggir. Ia menunjukkan bahwa penyair bisa hidup dan berkarya tanpa harus menetap di ibu kota. Bahkan, keberadaannya di Aceh Barat memberi keotentikan tersendiri.
Lebih jauh, melalui perannya di Dewan Kesenian Aceh Barat sebagai Wakil Ketua I, ia berusaha menjaga agar api kesenian tetap menyala. Di tengah gempuran modernitas dan hiruk pikuk politik lokal, suara penyair seperti Syarifuddin menjadi pengingat: seni adalah ruang kebebasan, ruang permenungan, dan ruang merawat ingatan.
Jejak Syarifuddin Aliza sebagai penyair, pekerja seni, dan abdi negara adalah bukti bahwa sastra Indonesia kaya oleh keragaman latar. Ia menulis bukan untuk mengejar popularitas, melainkan untuk menjaga denyut rasa, menyulam cinta dan pengalaman sosial ke dalam larik-larik puisi.
Bila penyair lain sering bergulat dengan panggung besar dan pengakuan nasional, Syarifuddin memilih jalannya sendiri: tetap setia pada tanah kelahiran, tetap menulis, dan tetap hadir di tengah masyarakatnya. Dari Aceh Barat, ia memperlihatkan bahwa puisi bisa menjadi cahaya kecil yang menjaga kemanusiaan tetap hangat.
Sebagai bahan telaah, berikut kami sudah merangkum beberapa Contoh Puisi karya Syarifuddin Aliza untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa.