Theoresia Rumthe merupakan salah satu penyair perempuan Indonesia yang dikenal melalui karya-karya puitis yang hangat, intim, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lahir di Ambon, Maluku, pada 16 Oktober 1983, ia kini menetap di Bandung dan aktif berkegiatan di dunia seni serta literasi. Sebelum dikenal luas sebagai penulis, Theoresia sempat berkarier sebagai penyiar radio selama kurang lebih sepuluh tahun, pengalaman yang turut membentuk kepekaannya dalam merangkai kata dan menyampaikan emosi melalui bahasa.
Karya Theoresia Rumthe
Buku Puisi
- Tempat Paling Liar di Muka Bumi (Gramedia Pustaka Utama, 2016); bersama Weslly Johannes.
- Cara-Cara Tidak Kreatif untuk Mencintai (Gramedia Pustaka Utama, 2018); bersama Weslly Johannes.
- Selamat Datang, Bulan (Gramedia Pustaka Utama, 2019)
- Seseorang di Kaca (Gramedia Pustaka Utama, 2019)
- Hati Ke Hati Waktu Ke Waktu (Indonesia TERA, 2019); bersama Seno Gumira Ajidarma, Adimas Immanuel, Cyntha Hariadi, dan Dedy Tri Riyadi.
- Rumah Rindu (Self-Published, 2020); bersama Weslly Johannes.
- Daun Jendela Pagi (Self-Published, 2020); bersama Weslly Johannes.
- Percakapan Paling Panjang Perihal Pulang Pergi (Gramedia Pustaka Utama, 2021); bersama Weslly Johannes.
- Kadang Rumah Tak Memberimu Pulang (Gramedia Pustaka Utama, 2024)
Catatan Harian
- Perempuan Sore (Bookslife, 2017)
Buku Cerpen Antologi Bersama
- Menuju(h) (Gagas Media, 2012)
- Perkara Mengirim Senja (Penerbit Serambi, 2012)
Dalam kesehariannya, Theoresia aktif mengajar public speaking, membuat acara pembacaan puisi, hingga terlibat dalam berbagai diskusi santai di warung kopi. Ia juga dikenal gemar menulis catatan harian dalam buku kecil yang selalu dibawanya ke mana-mana. Kebiasaan sederhana tersebut kemudian menjadi sumber inspirasi bagi banyak karya puisinya yang terasa personal dan reflektif.
Perjalanan kepenulisannya dimulai dari berbagai proyek antologi bersama, seperti Rona Kata pada tahun 2010 dan Perkara Mengirim Senja pada 2012. Namanya semakin dikenal setelah menerbitkan buku puisi Tempat Paling Liar di Muka Bumi bersama pasangannya, Weslly Johannes, pada tahun 2016. Kolaborasi keduanya kemudian berlanjut dalam sejumlah buku puisi lain, seperti Cara-Cara Tidak Kreatif untuk Mencintai, Rumah Rindu, hingga Percakapan Paling Panjang Perihal Pulang Pergi.
Selain aktif menulis puisi, Theoresia juga menerbitkan buku semacam catatan harian berjudul Perempuan Sore pada tahun 2017. Gaya penulisannya yang lembut dan penuh perasaan membuat karya-karyanya dekat dengan pembaca, terutama generasi muda yang menyukai sastra reflektif dan emosional. Hingga kini, Theoresia Rumthe terus menjadi salah satu suara penting dalam perkembangan puisi modern Indonesia.
Sebagai bahan telaah, berikut kami sudah merangkum beberapa contoh puisi karya Theoresia Rumthe untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa.