Kumpulan Puisi karya Yudhistira A.N.M. Massardi

Ketika membicarakan wajah sastra Indonesia modern, nama Yudhistira Andi Noegraha Moelyana Massardi atau lebih akrab disebut Yudhistira A.N.M. Massardi tidak bisa diabaikan. Lahir di Karanganyar, Subang, Jawa Barat pada 28 Februari 1954, dan berpulang pada 2 April 2024, Yudhis menghadirkan satu fenomena unik dalam peta kesusastraan Indonesia: seorang penulis yang menolak dikekang oleh definisi “sastra serius” dan lebih memilih jalur membumi, akrab dengan khalayak, bahkan bila itu berarti disebut sebagai penulis “sastra dangdut”.

Puisi

  1. Rudi Jalak Gugat (1982)
  2. Sajak Sikat Gigi (1983)
  3. Syair Kebangkitan (1985)
  4. 99 Sajak (2015)
  5. Perjalanan 63 Cinta (2017)
  6. Luka Cinta Jakarta (2017)
  7. Jangan Lupa Bercinta (2020)

Cerpen

  1. Penjarakan Aku Dalam Hatimu (1970)
  2. Yudhistira Duda (1981)
  3. Wawancara dengan Rahwana (1982)
  4. Wanita Dalam Imajinasi (1993)
  5. Forum BengKarung (1994)

Novel

  1. Arjuna Mencari Cinta (1977)
  2. Ding Dong (1978)
  3. Arjuna Mencari Cinta Part II (1980)
  4. Mencoba Tidak Menyerah (1980)
  5. Arjuna Wiwahahaha (1984)
  6. Obladi-Oblada (1979)
  7. Joni Garang (1992)
  8. Penari dari Serdang (2019)

Sandiwara

  1. Wot atawa Jembatan (1977)
  2. Ke (1978)
  3. Bisu in Blue (2001)
  4. Jangan Sakiti Anakku (2002)
  5. Karpet Merah Cleopatra (2003)
  6. Sopirku/Opsirku/Korupsi (2005)
  7. Tikungan-H (2016)

Sastra yang Tak Mau Elitis

Di tengah derasnya perdebatan intelektual sastra pada dekade 1970–an, Yudhistira hadir dengan kumpulan puisinya Sajak Sikat Gigi (1977). Buku ini mengundang kontroversi, sebab ia disejajarkan dengan karya para nama besar seperti Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, dan Sitor Situmorang dalam ajang Dewan Kesenian Jakarta. Sejumlah kritikus meragukan kualitasnya, namun Yudhis santai menanggapi. Ia bahkan pernah berujar bahwa sastra seharusnya seperti musik dangdut: dekat dengan rakyat, akrab, dan bisa dinikmati siapa saja tanpa syarat intelektual yang berbelit.

Yudhistira ANM Massardi

Sikap ini menegaskan posisinya: Yudhis tidak hendak menjadi penyair menara gading. Baginya, sastra adalah jembatan komunikasi, bukan tembok eksklusif. Dan dari sinilah ia melahirkan karya-karya yang hidup dalam ruang keseharian, mulai dari cerpen di majalah populer, novel remaja, hingga naskah sinetron televisi.

Dari “Arjuna Mencari Cinta” hingga “Penari dari Serdang”

Salah satu karya yang paling dikenang adalah novel Arjuna Mencari Cinta (1977), bacaan remaja terbaik versi Yayasan Buku Utama. Novel ini menjadi representasi khas Yudhis: ringan, segar, menghibur, tapi tetap memuat kegelisahan anak muda tentang cinta, jati diri, dan pencarian makna hidup. Keberhasilan novel ini bahkan sempat dilanjutkan dengan sekuel dan diangkat ke layar lebar, meski judulnya diubah menjadi Mencari Cinta Saja akibat sensor pemerintah.

Novel-novel berikutnya seperti Ding Dong (1978), Mencoba Tidak Menyerah (1980), hingga Penari dari Serdang (2019) menunjukkan keberanian Yudhis merambah berbagai tema. Dari kisah remaja, satire sosial, hingga potret kehidupan urban Jakarta, ia konsisten menulis dengan gaya yang tidak berpretensi muluk.

Penulis yang Hidup di Banyak Dunia

Selain sebagai penyair dan novelis, Yudhistira juga aktif menulis naskah drama dan sinetron televisi. Karya seperti Wot atawa Jembatan (1977) menunjukkan keberaniannya bereksperimen dalam panggung teater, sementara sinetron Kerikil Putih (1993) atau Joni Garang (1994) membuktikan betapa luwesnya ia beradaptasi dengan selera massa.

Tidak berhenti di sana, Yudhis juga pernah menjadi wartawan dan redaktur di berbagai media terkemuka, mulai dari Tempo, Editor, hingga Gatra. Dunia jurnalistik memberinya ruang untuk mengasah gaya penulisan yang komunikatif, lugas, dan aktual. Tak heran bila karya-karya sastranya pun terasa akrab, seakan ditulis bukan untuk ruang seminar melainkan untuk percakapan sehari-hari.

Kontroversi dan Keberanian

Kehidupan pribadi Yudhistira juga penuh kontroversi. Kisah pernikahannya dengan Aprisca Hendriany yang lebih muda belasan tahun sempat menuai sorotan, bahkan sampai kini masih menjadi bahan diskusi ketika membicarakan aspek etika dalam kehidupan seorang sastrawan. Namun di luar kontroversi tersebut, yang tak bisa dipungkiri adalah ketekunan Yudhis dalam menulis. Ia tidak berhenti menelurkan karya, bahkan hingga usia senja masih aktif dengan buku-buku seperti Luka Cinta Jakarta (2017) dan Jangan Lupa Bercinta (2020).

Warisan: Membumikan Sastra

Apa yang bisa kita pelajari dari jejak Yudhistira A.N.M. Massardi? Pertama, ia mengajarkan bahwa sastra tidak harus eksklusif. Sastra bisa hadir di ruang remaja, bisa jadi sinetron, bisa hidup di majalah hiburan, bahkan bisa lahir dari obrolan ringan di warung kopi. Kedua, ia mengingatkan bahwa sastra tidak selalu soal penghargaan, tapi soal komunikasi: sejauh mana karya mampu menyapa pembaca.

Dalam pandangan Yudhis, sastra bukan milik segelintir elite. Ia milik semua orang. Inilah yang membuatnya dijuluki oleh sebagian kalangan sebagai sastrawan “dangdut”—bukan dalam arti merendahkan, melainkan sebagai simbol keterbukaan, kerakyatan, dan daya hidup.

Kepergian Yudhistira A.N.M. Massardi pada April 2024 menutup sebuah bab dalam sejarah sastra Indonesia, tapi warisannya masih hidup. Dari Sajak Sikat Gigi hingga Arjuna Mencari Cinta, dari drama panggung hingga naskah televisi, Yudhis menorehkan jejak bahwa sastra bisa cair, bisa luwes, dan bisa menemani kehidupan sehari-hari.

Dalam dunia yang kerap mengagungkan formalitas dan intelektualitas, Yudhistira mengingatkan kita bahwa sastra sejati adalah yang dekat dengan manusia, menyentuh emosi, menghibur, sekaligus mengajak berpikir tanpa kehilangan senyum. Ia mungkin tak mau disebut “penyair besar” dalam pengertian konvensional, tapi justru di situlah kebesarannya: ia memilih jalan lain, jalan yang membumi.

Sebagai bahan telaah, berikut kami sudah merangkum beberapa Contoh Puisi karya Yudhistira A.N.M. Massardi untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa.

    Kumpulan Puisi karya Yudhistira A.N.M. Massardi

© Sepenuhnya. All rights reserved.