1997

Puisi: Menggali Luka (Karya Widodo Arumdono)

Menggali Luka Kugali luka dari lubang dunia "ke mana amis nafas mengirim beritanya ketika hati bumi menguakkan ozon jingga ke wajah langit matah…

Puisi: Stanza Air Mata (Karya Nurhayat Arif Permana)

Stanza Air Mata yang berurai mengalir merayap itu adalah tetesmu nyimpan naluri embun hening dalam pupusnya padang semesta nembang amarah sunyi diaml…

Puisi: Syair Kerudung (Karya Cecep Syamsul Hari)

Syair Kerudung Maafkan kecupan-kecupanku pada harum kerudung rambutmu. Malam telah mengutuk aku menjadi pecinta yang risau. Terpukau menunggu malam b…

Puisi: Syair Kematian (Karya Husnul Khuluqi)

Syair Kematian Engkaulah itu, yang diam-diam datang dalam kelengangan? sedang gerbong-gerbong penantian belum juga tuntas kutuang dalam kanvas atauka…

Puisi: Sepasang Pohon Kecapi (Karya Husnul Khuluqi)

Sepasang Pohon Kecapi bagi Ray Sahetapy sepasang pohon kecapi tumbuh di samping rumahmu tegak menghijau dan rimbun bersahabat dengan angin kampung se…

Puisi: Sebab Aku Kehilangan (Karya Ulfatin Ch.)

Sebab Aku Kehilangan Sebab aku kehilangan pagi engkau mencaciku bagai burung mencaci langit. Dan cuaca seperti mencakar bahu suara angin bagai tiupan…

Puisi: Kangen (Karya Iyut Fitra)

Kangen (sekadar catatan buat nonera) di sini aku hanya sendiri, sayang tidak seperti hari-hari lain, dadamu kau selimutkan untuk segala gelisahku, ke…

Puisi: Sinopsis Legenda (Karya Iyut Fitra)

Sinopsis Legenda sebagai tuahkah, malin atau si jebat entahlah, berkali kugulung-kembangkan layar dengan warna berbeda, sampai nyaris sempurna laut k…

Puisi: Kesedihan Pagi Hari (Karya Cecep Syamsul Hari)

Kesedihan Pagi Hari Seperti malam sebelumnya, kau tinggalkan untukku cinta yang melahirkan kesedihan pagi hari. Sebuah roman, mungkin sebuah film ata…

Puisi: Syair Sebelum Senja (Karya Cecep Syamsul Hari)

Syair Sebelum Senja Di jalan Braga. Potongan-potongan kertas menyerupai puluhan panji berwarna langit siang hari. Sebentar lagi hujan. Pintu separuh …

Puisi: Lewat Sebuah Jendela Kamar (Karya Husnul Khuluqi)

Lewat Sebuah Jendela Kamar lewat sebuah jendela kamar kusaksikan dunia luar terbakar pohonan mati, hutan jadi lautan api tak ada embun, tak ada rerum…

Puisi: Di Pemakaman (Karya Cecep Syamsul Hari)

Di Pemakaman Ciseah tengah hari. Di tempatku berdiri, sungai itu mengingatkanku pada koridor rumah sakit. Putih dan dingin. Daun-daun jagung keras da…

Puisi: Syair Hujan (Karya Cecep Syamsul Hari)

Syair Hujan Membayangkan kau duduk di kursi goyang, empat puluh tahun kemudian. Membaca kumpulan puisi seorang penyair; ia menulisnya pada suatu masa…
© Sepenuhnya. All rights reserved.