Puisi: Siapa Menyimpan Sekuntum Bunga (Karya Handrawan Nadesul) Siapa Menyimpan Sekuntum Bunga untuk Kita Nanti? Berkeranjang-keranjang bunga Mekar di benak orang-orang yang kakinya masih tulus berjalan Di kegelap…
Puisi: Gurindam (Karya Taufiq Ismail) Gurindam Satu Secoret parafku memancarkan komisi seratus juta Bertahun-tahun begitu sampai mataku buta. Gurindam Satu Setengah Harimau mat…
Puisi: Presiden Boleh Pergi Presiden Boleh Datang (Karya Taufiq Ismail) Presiden Boleh Pergi Presiden Boleh Datang Sebuah orde tenggelam sebuah orde timbul tapi selalu saja ada suatu lapisan masyarakat di atas …
Puisi: Jembatan (Karya Sutardji Calzoum Bachri) Jembatan Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung airmata bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi dalam ewuh pekewuh dalam isyara…
Puisi: Akulah Inong - Wanita Aceh (Karya Fikar W. Eda) Akulah Inong (Wanita Aceh) "Hello, call me please I wait here" (kemana kuhadapkan wajah mataha…
Puisi: Bersyukurlah San, Bersyukurlah (Karya Taufiq Ismail) Bersyukurlah San, Bersyukurlah Bersyukurlah San, kau tak ikut-ikutan Mempersembahkan gelar Pemimpin Besar Revol…
Puisi: Catatan Oktober (Karya Diah Hadaning) Catatan Oktober (1) Kain putih telah direntang nama-nama telah dituliskan menjadi ombak pada laut menjadi warna bagi bendera menjadi pijar…
Puisi: Demokrasi (Karya Taufiq Ismail) Demokrasi Pah pah kok papah orasi ngotot begitu amat sih. dengarkan juga kami-kami ini dong. mbok yo sing sabar ngono to pak. tos sabar…
Puisi: Sejak Dingin (Karya Ahmad Faisal Imron) Sejak Dingin sepasang matamu yang nyaman seakan kepanjangan lain dari musim bunga di timur kota seperti …
Puisi: Seratus Juta (Karya Taufiq Ismail) Seratus Juta Umat miskin dan penganggur berdiri hari ini Seratus juta banyaknya Di tengah mereka tak tahu akan berbuat apa Ki…
Puisi: Nyanyian Anak Cucu (Karya Upita Agustine) Nyanyian Anak Cucu Aroma hutan-hutan dan jerami terbakar kucium sampai kini Menumbuhkan hutan lindung dalam rahimku Menghamparkan berjuta pir…