Puisi Afrizal Malna

Puisi: Mitos-Mitos Kecemasan (Karya Afrizal Malna)

Mitos-Mitos Kecemasan Kota kami dijaga mitos-mitos kecemasan. Senjata jadi kenangan tersendiri di hati kami, yang akan kembali membuat cerita, s…

Puisi: Tanaman Tahun (Karya Afrizal Malna)

Tanaman Tahun Satu dua orang datang satu dua orang pergi Pohon tumbuh sendiri, sapi berjalan sendiri Kemarin aku berjanji menjengukmu Nont…

Puisi: Mayat Politik Ditutupi Koran Pagi (Karya Afrizal Malna)

Mayat Politik Ditutupi Koran Pagi Ada orang hilang. Tapi ada orang pecah juga. Presiden di rumah sakit, tangan …

Puisi: Apartemen Identitas (Karya Afrizal Malna)

Apartemen Identitas Aku ingin bisa melihat angin. Melihatnya. Menggenggamnya.   Menatapnya. Menghembuskan setia…

Puisi: Karung Merica Heinrich Heine (Karya Afrizal Malna)

Karung Merica Heinrich Heine Kau pakai tubuhku untuk berdiri di sini, tubuh dari bengkel ingatan. Sekarang, 200 tahun berputar ke belakang, pama…

Puisi: Penyair Anwar (Karya Afrizal Malna)

Penyair Anwar Aku mengaji, Anwar Anwar Hidup dari pasar terbuka dalam tubuh Orang tanah yang ditutup senja,…

Puisi: Aku Baru Saja Mengepel Lantai (Karya Afrizal Malna)

Aku Baru Saja Mengepel Lantai Aku baru saja mengepel lantai. Aku berjalan dengan ujung jari-jari kakiku, agar lantai yang baru dipel tidak kotor l…

Puisi: Catatan di Sungai (Karya Afrizal Malna)

Catatan di Sungai kubaca airku dari sungai bapak anak-anak di batuan batu nenekku kusimak batuku dari sungai sejak kutanya akar-akarnya ibuku berdara…

Puisi: Jalan-Jalan Berteriak (Karya Afrizal Malna)

Jalan-Jalan Berteriak Jam dada! Jalan-jalan berteriak: dada leher putaran ke waktu dada: nol-nol memban…

Puisi: Mantel Hujan Dua Kota (Karya Afrizal Malna)

Mantel Hujan Dua Kota Kota itu telah jadi Semarang sejak air laut ingin  mendaki bukit, dan pesta tahun baru di r…

Puisi: Dada (Karya Afrizal Malna)

Dada Sehari. Waktu sama sekali tak ada, Dada. Bumi  terbaring dalam tangan yang tidur. Ingin jadi manusia terbakar dalam mimpi sendiri. Sehari.…

Puisi: Khotbah di Bawah Tiang Listrik (Karya Afrizal Malna)

Khotbah di Bawah Tiang Listrik Aku membiarkan malam membuat balok kayu di punggungku. Angin berhembus seperti tiang gantungan yang menyeret taliny…
© Sepenuhnya. All rights reserved.