Puisi D. Kemalawati

Puisi: Dahaga Laut (Karya D. Kemalawati)

Dahaga Laut Kami anak nelayan Debur ombak adalah zikir kami Pasir putih adalah sajadah kami Air laut adalah perut kami Dahaga kami Lapar…

Puisi: Penari (Karya D. Kemalawati)

Penari Begitu lama engkau menari sejak rapai ditabuhkan lalu lewat ruang sisamu yang himpit kau kirim berp…

Puisi: Wanita-Wanita dalam Lingkaran (Karya D. Kemalawati)

Wanita-Wanita dalam Lingkaran Wanita-wanita dalam lingkaran telah dipaksa meninggalkan seluruh harga yang me…

Puisi: Kesaksian Hati (Karya D. Kemalawati)

Kesaksian Hati Inilah magma merah kenyal dan basah  berisi selaksa gundah tak tertampung kawah sajadah. Banda Aceh,  29 Desember 2010…

Puisi: Malam dalam Hitungan (Karya D. Kemalawati)

Malam dalam Hitungan Malam, telah malam di sini ketika matahari cepat berlalu laut tetap beriak gamang  se…

Puisi: Yang Pergi di Waktu Malam (Karya D. Kemalawati)

Yang Pergi di Waktu Malam Aku masih terjaga menanti kepulanganmu betapa malam telah sepi desahmu penuh duka …

Puisi: Di Empat Tujuh Usia Kekasih (Karya D. Kemalawati)

Di Empat Tujuh Usia Kekasih Aku ingin seperti perahu di samudra jiwamu yang tanpa batas membiarkan riak-riak…

Puisi: Ketika Kartini Berkunjung ke Aceh (Karya D. Kemalawati)

Ketika Kartini Berkunjung ke Aceh Ia memakai kebaya ungu sanggul melati dan selop berhak tinggi di tangannya buku harian pena emas dan sehelai…

Puisi: Tentang Cinta yang Lebih (Karya D. Kemalawati)

Tentang Cinta yang Lebih Barangkali terlanjur kukabarkan tentang kesetiaan sedang penantian terlanjur panjang dan ketika timbul kesadaran …

Puisi: Ini Bahasaku (Karya D. Kemalawati)

Ini Bahasaku Dalam tubuh bahasamu kau rayakan kemerdekaan tentang siapa yang kau cincang dan kau muliakan …

Puisi: Nak, Tak Ada yang Bisa Mengubahmu (Karya D. Kemalawati)

Nak, Tak Ada yang Bisa Mengubahmu (19 Tahun Fathurrahman Helmi) Nak, sejak dalam rahim Ibu tak ingin menduga-d…

Puisi: Suatu Senja di Bukit Lamreh (Karya D. Kemalawati)

Suatu Senja di Bukit Lamreh Setelah tujuh puluh empat anak tangga aku merasa cukup tinggi dalam kesunyian …

Puisi: Kita Tak Belajar Membaca Tanda-Tanda (Karya D. Kemalawati)

Kita Tak Belajar Membaca Tanda-Tanda ketika kita terhuyung-huyung dalam goncangan panjang ketika kita bersidekap rapat dengan bumi …

Puisi: Jakarta (Karya D. Kemalawati)

Jakarta Semalam terakhir itu seribu jarum di bantal tidur mengukir luka. Jakarta, 1989 Analisis Puis…
© Sepenuhnya. All rights reserved.