Puisi Eka Budianta

Puisi: Tidak Setiap Tunas Akan Tumbuh (Karya Eka Budianta)

Tidak Setiap Tunas Akan Tumbuh Tidak setiap tunas akan tumbuh Tidak setiap tumbuh jadi kuncup Tidak setiap kun…

Puisi: Perjalanan yang Tiada Terselesaikan (Karya Eka Budianta)

Perjalanan yang Tiada Terselesaikan Ada jalan dan barisan panjang menempuhnya melalui abad-abad datang dan abad-abad lalu ada semacam kerinduan…

Puisi: Aku Mutiara Bangsa Indonesia (Karya Eka Budianta)

Aku Mutiara Bangsa Indonesia Aku anak Indonesia sejati Berdarah laut berjiwa matahari Aku pemilik garis khatulistiwa Dilahirkan pertiwi …

Puisi: Masih Ada Etsa (Karya Eka Budianta)

Masih Ada Etsa Rembulan di laut Gunung-gunung di langit Membentuk lukisan singkat Dalam cinta abadi. Sel…

Puisi: Aku Ingin Seorang Teman (Karya Eka Budianta)

Aku Ingin Seorang Teman Aku ingin seorang  teman Yang senyumnya bertahan dalam gemuruh kota dan sunyi desa…

Puisi: Negeri Budianta (Karya Eka Budianta)

Negeri Budianta Tiba-tiba aku begitu yakin Kamu tentu ingat padaku Pada waktu berdiri melihat gunung Menatap hutan dan jurang Berkah dan kutukan Indo…

Puisi: Catatan di Dusun Selatan (Karya Eka Budianta)

Catatan di Dusun Selatan Gadis-gadis desa dengan topi dan sepatu tinggi Diantar ibu dan ayah mereka menuju kota. Di Mulhouse — sekian ratus batu sela…

Puisi: Pohon-Pohonku Jangan Menangis (Karya Eka Budianta)

Pohon-Pohonku Jangan Menangis Kalau suatu saat aku mesti pergi Menetap di Afrika atau Australia Pohon-pohonku jangan menangis. Tumbuhlah terus sesubu…

Puisi: Ode untuk Goya (Karya Eka Budianta)

Ode untuk Goya Goya telah pergi ke lembah asing dan gua-gua Goya telah pergi jauh menuju bapanya. Goya telah pergi mengembara di pada…

Puisi: Menuju Luzern, Switzerland (Karya Eka Budianta)

Menuju Luzern, Switzerland (1) Ladang-ladang anggur Dan matahari di selatan Menghapus capek dan rindu Pada langit yang setia. Perancis tidur di hari …

Puisi: Hanya untuk Sungai (Karya Eka Budianta)

Hanya untuk Sungai Tiba-tiba sungai itu teringat laut. Sungai mana tak boleh pergi ke laut, sungai mana dilarang mengalir ke sana? Ia marah, berteria…

Puisi: Pantai Kota di Malam Hari (Karya Eka Budianta)

Pantai Kota di Malam Hari Pelabuhan itu kelihatan sayup-sayup dan sunyi ketika sinar matanya yang rindu dan penuh pengharapan memandangn…

Puisi: In Memoriam Motinggo Boesje (Karya Eka Budianta)

In Memoriam Motinggo Boesje (1937-1999) Seekor lumba-lumba terdampar di hatiku Aku tak bisa menolongnya Pada pagi di masa kecilku Di pantai malam ini…

Puisi: Sungai Kemungkinan (Karya Eka Budianta)

Sungai Kemungkinan Seandainya kita ketemu malam ini Aku tahu, kamu bukan sungai yang dulu. Di pegunungan kamu jernih, gemericik. Tapi di kota, bebanm…
© Sepenuhnya. All rights reserved.