Puisi HR. Bandaharo

Puisi: Revolusi Jalan Terus (Karya HR. Bandaharo)

Revolusi Jalan Terus Kawan-kawan, mereka telah menelanjangi dirinya di depan kaca, dan bagi kita terbuka semua rahsia; lihatlah nyala, kebalikan sega…

Puisi: Djuhainah Masih Bernyanyi (Karya HR. Bandaharo)

Djuhainah Masih Bernyanyi Djuhainah bernyanyi diiringi angklung Bayuwangi Tapi kawan-kawan, ini bukan dendang ini rintihan manusia meregang Cambuk me…

Puisi: Terkadang di Kala-Kala Tak Terduga (Karya HR. Bandaharo)

Terkadang di Kala-Kala Tak Terduga Terkadang di kala-kala tak terduga di dada luka lama terbuka: teringat seorang teman yang mati di penjara jauh di …

Puisi: Remaja Abadi, Tetap Seorang Guru (Karya HR. Bandaharo)

Remaja Abadi, Tetap Seorang Guru Mereka membunuhnya di malam-hari. Tak usah tanya waktu yang ditunjuk oleh jarum-jarum. Semua hari adalah malam. Tiap…

Puisi: Nama yang Hanyut (Karya HR. Bandaharo)

Nama yang Hanyut Di Pyongyang ada sebuah sungai yang banyak tau tapi diam selalu. Dalam kebisuan mengarus ke laut ini dia kudatangi. Lewat tengahmala…

Puisi: Menempuh Jalan Rakyat (Karya HR. Bandaharo)

Menempuh Jalan Rakyat Pada 7 Januari malam, malam itu malam Jum'at, hanya senafas, hanya dalam beberapa detik, hanya 7 kata, dirangkai dalam kali…

Puisi: Kembalikan kepada Sejarah (Karya HR. Bandaharo)

Kembalikan kepada Sejarah Aku tertegun di tepi laut dirasuk sangsi. Akan kubuangkah beban duka dan rindu ini lalu kembali ke dunia snob mengenakan sa…

Puisi: Antara Dua Sungai (Karya HR. Bandaharo)

Antara Dua Sungai (1) untuk Pai Yu-hua Senja itu aku berdiri di tebing-beton Sungai Mutiara Berapa lama sudah air ini bulak-balik ke laut? Dia membaw…

Puisi: Oktober 1917 (Karya HR. Bandaharo)

Oktober 1917 Bersama dengan dentuman meriam     dari kapal perang Aurora         nama Lenin ditembakkan ke angkasa; dan seperti bom api     pecah men…
© Sepenuhnya. All rights reserved.