Puisi Hamid Jabbar

Puisi: Setitik Nur (Karya Hamid Jabbar)

Setitik Nur di dalam waktu dan malam yang mengalirkan gairahnya lahirlah aku setitik nur pijar-Mu dan beranak-pinak dari tanda…

Puisi: Indonesiaku (Karya Hamid Jabbar)

Indonesiaku jalan berliku-liku tanah airku penuh rambu-rambu indonesiaku Sehelai karcis di genggaman, hari se…

Puisi: Wajah Kita (Karya Hamid Jabbar)

Wajah Kita bila kita selalu berkaca setiap saat dan di setiap tempat maka tergambarlah: alangkah bermacamnya wajah kita yang…

Puisi: Telepon (Karya Hamid Jabbar)

Telepon yang dia itu siap deringkan sekeranjang kring panjang kriing! siaplah. barangkali itulah kring penghabisan yang akan…

Puisi: Tidak Hanya (Karya Hamid Jabbar)

Tidak Hanya Apakah aku sedan menuju padamu, kesengsaraan atau bukan: Aku tidak tahu. Aku mabuk ingin keluar dari debu dan gudang …

Puisi: Luka Itu Aneh Sekali (Karya Hamid Jabbar)

Luka Itu Aneh Sekali luka itu aneh sekali, dia menangis diam-diam ketika embun luruh dinihari, sebelum gema adzan. dan kemudian dia menyeka nanahnya,…

Puisi: Ternyata (Karya Hamid Jabbar)

Ternyata Kalau bukan karena angin, tak kutahu indahnya lagu. Kalau bukan karena angan, tak kutahu indahnya rindu. Kalau bukan ka…

Puisi: Lapangan Rumput, Masa Kanak-Kanak, dan Sisa Embun (Karya Hamid Jabbar)

Lapangan Rumput, Masa Kanak-kanak, dan Sisa Embun Lapangan rumput, sisa embun dan masa kanak-kanak menggelinding bagai bola, serangga…

Puisi: Sajak-Sajak, Wesel untuk Ummi (Karya Hamid Jabbar)

Sajak-Sajak, Wesel untuk Ummi (1) Sebelum awan luruh jadi duri, aku harus pergi. Entah kemana, memang, ya kalau pun aku tetap disini, begini …

Puisi: Tentang Selamat (Karya Hamid Jabbar)

Tentang Selamat (I) "Selamat Siang," katamu. Tapi aku tidak menemukan matahari di langit sana, hanya segumpal awan dari r…
© Sepenuhnya. All rights reserved.