Puisi: Sungai Mississippi (Karya Frans Nadjira) Sungai Mississippi (1) "Mesin, berikan kartu nasibku hari ini" kataku sejam lalu sewaktu menekan tombol sebuah kotak Tapi…
Puisi: Barnett Newman, Siapa yang Takut pada Warna? (Karya Frans Nadjira) Barnett Newman, Siapa yang Takut pada Warna? Dengan sekali sentakan tulisan di tembok kusam subway melar seperti permen karet: " …
Puisi: Ada Sebuah Kota, Katamu, Tak Pernah Teduh (Karya Abdul Hadi WM) Ada Sebuah Kota, Katamu, Tak Pernah Teduh AKU ingin mengunjungi sebuah negeri tanpa mesjid dan rumah sakit, tanpa kedai minum, lewat peperangan y…
Puisi: Rakyat (Karya Sandy Tyas) Rakyat rakyat adalah segelintir manusia para yang mulia dalam pemerintahan politisi, ahli-ahli ekonomi , para raja uang negarawan-negarawan ulung yan…
Puisi: Batu ke Lima Puluh Satu (Karya Taufiq Ismail) Batu ke Lima Puluh Satu Seorang penjahat dan pembunuh lama Sedang berjalan sendirian Di lebuh pasir ini Gamisnya terjela menyapu debu Cambangnya leba…
Puisi: Batu Belah (Karya Amir Hamzah) Batu Belah (kabaran) Dalam rimba rumah sebuah Teratak bambu terlampau tua Angin menyusup di lubang tepas Bergulung n…
Puisi: Panorama Satu Asyura Parangkusuma (Karya Ragil Suwarna Pragolapati) Panorama Satu Asyura Parangkusuma Laut menghempaskan gelombang raksasa. Pantai menghamparkan samudera manusia. "Orang begitu banyak! Siapaka…
Puisi: Secangkir Teh Panas (Karya Arifin C. Noer) Secangkir Teh Panas Secangkir teh panas pada suatu senja telah menyempurnakan panorama dalam istirah, setelah lepas dan beban timbunan kerja — Terima…