Puisi: Kota yang Dibelah (Karya Moh. Wan Anwar) Kota yang Dibelah (1) kota ini telah dibelah, sungai bercabang seperti raut pada rahangmu dan hidup yang sehening batu setajam pucuk ombak, sengilu l…
Puisi: Dalam Deru Waktu (Karya Moh. Wan Anwar) Dalam Deru Waktu dalam deru waktu, dulu, air di ladangmu membasuh luka usia. Bulir-bulir padi musim panen sayur mayur, juga hatimu, merunduk ke henin…
Puisi: Nyanyian Seorang Pendosa (Karya Moh. Wan Anwar) Nyanyian Seorang Pendosa Akhirnya kutangkap juga isyarat itu, lengkingan Yang mememarkan jiwaku, menyayat telingaku Kulihat sakit tersenyum sinis di …
Puisi: Aku Ingin (Karya Moh. Wan Anwar) Aku Ingin aku ingin secoklat musim mengecap gembur lumpur di sawah menjadi ladang-ladang ibadah para penduduk bermata tabah aku ingin sebiru angkasa …
Puisi: Seperti Ada Rintih (Karya Moh. Wan Anwar) Seperti Ada Rintih seperti ada rintih dari reruntuhan benteng itu bukan, mungkin bukan kesedihan, karena laju waktu - siapapun toh tak bisa menahanny…
Puisi: Menjadi Batu (Karya Moh. Wan Anwar) Menjadi Batu aku menjadi batu karena laut merenggutmu dari dekapku aku dibakar matahari, ditikam-tikam dingin tapi tetap bergeming menghadap laut men…
Puisi: Hari Berangkat Dewasa (Karya Moh. Wan Anwar) Hari Berangkat Dewasa lihatlah hari berangkat dewasa matahari mengajari kita agar tak berdusta membagikan kasih sayangnya kepada setiap cinta lihatla…
Puisi: Kasidah Banten (Karya Moh. Wan Anwar) Kasidah Banten aku datang tetapi dari mana aku datang aku pergi tetapi kemana aku pergi kau sambut aku dengan kasidah tempat berdiam segala kisah kup…
Puisi: Lagu Braga Malam (Karya Moh. Wan Anwar) Lagu Braga Malam dengan siapa lagi aku mesti bercakap selain dengan hati sendiri. Atau jalan lengang di antara bangunan angkuh yang berhadapan saat s…
Puisi: Di Ruang Tunggu (Karya Moh. Wan Anwar) Di Ruang Tunggu kita duduk berdua saja kau tamu, aku tamu juga di sini ke mana tuan rumah, tanyamu lantas kita pun berkenalan lewat bahasa yang tak k…