Postingan

Puisi: Rindu yang Tak Terucap (Karya Marthen Luther Worembay)

Rindu yang Tak Terucap Dalam kegelapan malam yang sunyi, Hatiku merintih, meratapi kerinduan yang tak terucap. Kenangan bersamamu, layaknya bayang ya…

Puisi: Ubud, Hanya Keluh dan Riuh (Karya Wayan Jengki Sunarta)

Ubud, Hanya Keluh dan Riuh malam makin mabuk seorang turis separuh baya berceloteh tentang Rsi Markandeya dan masa silam yang hanyu…

Puisi: Hari yang Lewat Tanpa Ayah (Karya Alex R. Nainggolan)

Hari yang Lewat Tanpa Ayah Betapa cepat, hari yang lewat tanpa Ayah. Hanya getar takbir yang menelikung. Tak berujung. Dan tak bisa kus…

Puisi: Anak Samosir di Hutan Meratus (Karya Kurniawan Junaedhie)

Anak Samosir di Hutan Meratus Dari Samosir, Parulian jauh-jauh menumpang bus menuju Loksado. Rambutnya kelimis.…

Puisi: Para Pembakar Ombak (Karya Dorothea Rosa Herliany)

Para Pembakar Ombak Seketika ufuk menderas, hingga senja bergetar tepian jiwa laksana laut samar 'niti …

Puisi: Setiap Ayah (Karya Alex R. Nainggolan)

Setiap Ayah di tubuh setiap ayah akan ada jalan pulang rumah yang bagai selimut dari kepala yang kusut telah kugali-gali ta…

Puisi: Api (Karya Remy Sylado)

Api Tuhan dalam datukku adalah api dibakarnya ranjang tempatku tidur dan aku bangun saban detik dalam takut …

Puisi: Tuhan dan Ayahku (Karya Nersalya Renata)

Tuhan dan Ayahku satu tuhan tak pernah cukup bagi ayahku. ia selalu mencari tuhan-tuhan lain. tuhan yang bisa mengabulkan permohona…

Puisi: Lelaki Mabuk dan Rembulan (Karya Diah Hadaning)

Lelaki Mabuk dan Rembulan (1) Berapa laut telah kau teguk tak juga sirna dahaga berapa selat kau hisap hari…
© Sepenuhnya. All rights reserved.