Postingan

Puisi: Duka (Karya Sitor Situmorang)

Duka ( kepada Chairil Anwar ) Manakah lebih sedih? Nenek terhuyung tersenyum Jelma sepi abadi Takkan be…

Puisi: Dia dan Aku (Karya Sitor Situmorang)

Dia dan Aku Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta? -- Bukankah udara penuh hampa ingin harga? - Mari,…

Puisi: Jakarta (Karya Sitor Situmorang)

Jakarta ( Buat Sumantri ) Diriku rawa Panas membatu di putih dinding Semua punya arti, manusia dan malari…

Puisi: Bicara tentang Buruh (Karya Sitor Situmorang)

Bicara tentang Buruh Bicara tentang Marsinah Bicara tentang buruh kita mengenang Marsinah: Mengenang keteladannya mengabdi Kemudian berko…

Puisi: Nusantara (Karya Sitor Situmorang)

Nusantara Rindu tanpa batas pada isi terpendam angin lintas bisik bibir kelu gunung api terbalut awan. …

Puisi: Elang di Atas Lembah (Karya Sitor Situmorang)

Elang di Atas Lembah Tak ada orang di jalan setapak, di jalan terjal menuju lembah, jalan turun ke desa di pinggir danau. Di udara (des…

Puisi: Jendela Ibu (Karya Joko Pinurbo)

Jendela Ibu Waktu itu saya sedang mencari taksi untuk pulang. Entah dari arah mana munculnya, seorang sopir tak…

Puisi: Sungai (Karya Joko Pinurbo)

Sungai Ibu membekaliku sebuah sungai yang jernih dan berkecipak-kecipak airnya. Sungai itu ditanam di telapak tanganku, mimpi Ibu…

Puisi: Anak Sumbawa (Karya Ajip Rosidi)

Anak Sumbawa Di Sumbawa Donggo punya kuda di Jakarta Donggo beli sepeda ia antar kota ke mimpinya, lampu jalanan jadi mati i…
© Sepenuhnya. All rights reserved.